Ceramah Tarawih

Ketika kita sudah sampai pada 11 hari puasa, di Jakarta, di masjid Al Azhar, di mana kita bisa menyelenggarakannya dengan penuh khusyu’, dari buka sampai nanti sahur, maka kita patut bersyukur kepada Allah, bahwa ini adalah karunia Allah yang sangat besar.

Apalagi bila kita membandingkan dengan kondisi saudara-saudara kita di Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, apalagi di luar sana, di Palestina, Iraq.  Wajar jika kita bersyukur kepada Allah, karena telah diberi kemudahan, kita bisa melakukan ibadah di bulan Ramadhan tanpa ada ketakutan tiba-tiba ada gempa, tanpa ada  ketakutan tiba-tiba ada serangan oleh Israel, tiba-tiba ada provokasi, ada bom, di Palestina, di Iraq.

Alhamdulillah, kita di sini bisa menyelenggarakan aktivitas puasa, tadarus, tarawih, buka puasa, sahur, semuanya dapat dilakukan dengan penuh tuma’ninah dan khusyu’.Salah satu bentuk syukur kita adalah dengan banyak berdoa, karena salah satu dari tiga kelompok yang doanya tidak akan ditolak oleh Allah adalah orang yang berpuasa hingga nantinya ia berbuka puasa.

Membandingkan dengan apa yang terjadi dengan saudara kita yang mengalami musibah, minimal, hadirkanlah mereka dalam doa-doa kita, doakanlah saudara kita itu, semoga segera mendapatkan solusi, dan kemudian mudah-mudahan mereka dapat menjalankan ibadah Ramadhan seperti kita dengan tuma’ninah.

Sekalipun kita menyadari sepenuhnya bahwa hadirnya bencana atau tidak hadirnya bencana adalah semata-mata takdir Allah. Dan sesungguhnya apa yang Allah takdirkan bukanlah untuk menyusahkan umat manusia. Sebagaimana Allah telah menerangkan dalam Surat Al Zalzalah bahwa seluruh peristiwa yang menghadirkan guncangan, gempa, itu adalah bagian dari sunnatullah. Ternyata di balik berbagai peistiwa, kita tahu masih ada pihak-pihak yang mengail di air keruh, sehingga terjadilah korupsi dan manipulasi.

Sekali lagi, Allah menghadirkan kepada kita musibah adalah bukan sekedar musibah, namun untuk meningkatkan komitmen keimanan kita, kualitas keimanan kita, kualitas kepedulian kita, kualitas amal sholeh kita.

Karenanya, dalalm Surat Al Zalzalah, setalah menghadirkan beragam fakta, fenomena gunung, gempa, Allah menutup dengan “famayyakmal” dan seterusnya sampai ayat terakhir. Artinya, siapa yang kemudian, karena musibah itu lalu ia melakukan amal sholeh, sekecil apapun, ia akan mendapatkan balasannya, bukan hanya di akhirat, bahkan di dunia sekalipun.

Tetapi sebaliknya, siapa yang semakin korupsi, semakin tidak peduli, arogan, pastilah akan mendapatkan balasannya, bukan hanya di akhirat, di dunia pun akan bisa terjadi.

Di dalam Surat Al Zalzalah, “famayyakmal”, Allah menghadirkan dengan kata “fa”, artinya hadirkan amal sholeh, langsung, secepat mungkin, segera lakukan amal sholeh, segera lakukan kepedulian sosial, dan yang insya Allah, pasti sudah kita lakukan.

Allah menghadirkan agama, syariat-NYA, termasuk rukun Islam yang lima, sesungguhnya memang dihadirkan dengan maksud yang jelas, bukan cuma untuk wacana, atau tebar pesona, atau tebar air mata, atau sekedar ritual tahunan, tidak begitu.

Kembali di dalam Al Quran, ditegaskan dalam ayat tentang puasa, “Wahai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang sebelum kamu”.

Penegasan pada kata “kama” (sebagaimana), adalah bahwa berpuasa ini bukan sesuatu yang abstrak, tidak jelas, juga bukan hanya pengulangan saja. Melainkan menegaskan bahwa puasa adalah sesuatu yang pernah diwajibkan, pernah dilaksanakan, dan menghasilkan sesuatu yang konkrit. Maka sebagaimana mereka, orang-orang sebelum kita, maka kita pun diwajibkan untuk menghasilkan sesuatu yang konkrit.

Ayat ini jika dipahami lebih kontekstual adalah, dipahaminya kata “kum” adalah kita semua, generasi sebelum kita, kakek kita, buyut kita, dan seterusnya, sampai pada generasi utama, generasi binaan Rasulullah SAW.

Inilah yang perlu kita maknai.

Bagiamana Rasulullah sukses menghadirkan msyarakat madani, bermoral, berperadaban yang sangat unggul. Itulah peristiwa yang terjadi sesudah diwajibkan berpuasa, walaupun tidak terlepas dari kewajiban yang lain.

Tetapi, yang ingin digarisbawahi di sini adalah, Quran menegaskan, bahwa mereka, orang-orang sebelum kita, dengan puasa, telah menghasilkan hasil yang konkrit, menghasilkan muslim yang baru, peradaban yang baru, bukan peradaban jahiliyah, tapi peradaban yang rahmatan lil alamin.

Dalam konteks ini, berpuasa adalah jelas ukurannya, awalnya jelas, akhirnya pun jelas, tujuannya pun jelas.

Inilah yang perlu kita maknai, karena ada sebagian kita yang telah berpuasa untuk yang kesekian puluh kalinya. Kita bisa bermuhasabah, bertanya pada diri kita masing-masing, bagaimana peningkatan kualitas diri kita, kualitas keimanan, amal sholeh, dari tahun ke tahun.Tentu yang paling tahu adalah diri kita senidiri, dengan demikian, kita terus melakukan perbaikan, dan itulah yang selalu dilakukan oleh manusia yang beriman.

Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, yang dengan berpuasa dapat menghasilkan generasi yang baru, berpuasa adalah sarana yang efektif untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah, menghadirkan komitmen yang lebih kuat lagi menuju umat yang kokoh.

Karenanya kita tidak pernah menemukan suatu riwayat, tentang para sahabat yang berselisih, saling memfitnah, menyebarkan berita bohong, intimidasi, dan perilaku-perilaku negatif lainnya.Sekalipun kita tahu ada riwayat yang beragam tentang berapa jumlah rakaat, tetapi jelas riwayat tersebut menyambung sanadnya ke Rasulullah SAW. Sekalipun beragam, tapi tidak ada yang bertengkar, berantem, memfitnah.

Inilah salah satu makna yang penting untuk kita ambil. Mari kita jadikan puasa Ramadhan ini sebagai sarana untuk pengujian komitmen kita dalam menghadirkan ukhuwah islamiyah.

Ketika Allah menyebutkan, innamal mukminunal ikhwah, ayat tersebut tidak berhenti di situ, tidak titik, tetapi ada terusannya, fa ashlihu baina akhowaikum.

Itulah ciri yang benar tentang orang yang beriman, yaitu orang yang berukhuwah. Dan tidak serta merta kalau kita mengupayakan ukhuwah, kemudian sekali pukul semua masalah selesai, kalau demikian halnya, maka tidak akan ada ungkapan tersebut.

Fa ashlihu baina akhowaikum, maka lakukan ishlah di antara saudara-saudaramu yang beriman itu.  Generasi sahabat juga ada perselisihan, tapi kemudian mereka tidak membiarkannya untuk dipakai oleh kelompok-kelompok munafik, kelompok-kelompok yang mengikuti agenda-agenda yang telah dibuat oleh Yahudi. Mereka menyadari betul bahwa perbedaan ini tidak boleh dipakai oleh musuh-musuh Islam untuk memecahbelah di antara umat islam.

Ishlah tetap bisa dilakuakan selama kita kembali hakikat kita sebagai hamba Allah yang beriman, sehingga kita bisa saling berukhuwah, bekerja sama, saling menolong.

Akhirnya kita berharap dengan hadirnya Ramadhan, yang menghadirkan begitu banyak sarana bagi kita untuk mungkin bisa melakukan silaturahmi dengan nyaman, shalat berjamaah, tadarus berjamaah, sholat shubuh berjamaah, makan sahur berjamaah, buka puasa berjamaah. Begitu banyak sarana yang dengan puasa ini untuk kita bisa bertemu kembali.

Semua itu adalah sarana untuk menghadirkan kembali ukhuwah. Okelah, bila selama bulan Ramadhan ada hal-hal yang mengganjal. Marilah kita menyambut seruan Allah di bulan Ramadhan ini, dengan puasa, dan memanfaatkan begitu banyak sarana yang Allah hadirkan untuk terjadinya ukhuwah dan ishlah di antara orang yang beriman.

Mudah-mudahan dengan ishlah, kita tidak lagi mau difitnah maupun memfitnah, dipecah belah maupun memecah belah. Mudah-mudahan ini menjadi bagian yang bisa kita raih selama ini kita berpuasa di Ramadhan tahun ini sehingga di tahun depan, kita memiliki ukhuwah yang lebih kuat.

Insya Allah, berkah Ramadhan ini, di mana Ramadhan adalah syahrul mubarak, Insya Allah, kita akan mendapatkan umat dengan ukhuwah yang kuat, yang  tidak lagi menjadi bagian yang menyebar fitnah, sebaliknya akan menjadi bagian yang mengokohkan ukhuwah.

Dan jika itu kita lakukan, maka itu merupakan bentuk sumbangsih kita kepada kemanusiaan, kepada bangsa Indonesia sekaligus warga dunia, karena sesungguhnya membutuhkan peran serta umat islam yang berukhuwah dengan sebaik-baiknya.

Mudah-mudahan dengan memaknai puasa sebagaimana para Rasulullah dan sahabat memaknainya, pada waktu idul fitri nanti, dapat kita rayakan dengan nyaman, penuh percaya diri, di mana kita akan saling mengatakan: Minal ‘aidin wal fa izin, Mohon maaf lahir & batin, sekaligus memberikan permaafan lahir dan batin.

Kemudian kita kembali menjadi umat yang berukhuwah, umat yang beriman, umat yang berishlah, umat yaang menghadirkan rahmatan lil alamin. Wallahu ‘alam bish showab. (dian)

* Disarikan dari Ceramah Tarawih oleh ust Hidayat Nur Wahid di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

About these ads

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.241 pengikut lainnya.