Ibroh para pemilik kebun

Dalam mengajak kebaikan, Al-Qur’an tidak selalu menggunakan kalimat seruan. Seringkali Allah menyeru kepada kebaikan dalam Al-qur’an melalui kisah-kisah.

Masih ingat kisah para pemilik kebun dalam surat Al-Qalam? Surat ini mengisahkan tentang para pemilik kebun yang diuji oleh Allah ketika mereka melarang orang – orang miskin mencicipi hasil kebun mereka dan bersikap kikir atas karunia Allah.

Sebagian ulama mengganggap kisah ini sebagai kisah simbolik, namun sebagian lagi meyakininya sebagai kisah nyata.

Yang meyakininya sebagai kisah nyata mengatakan bahwa di Yaman yang terletak 6 mil dari San’a, ada orang tua yang sholeh. Orang tua ini memiliki banyak anak dan juga harta serta kebun.

Orang tua ini selalu menyisihkan hasil kebunnya untuk diberikan kepada fakir miskin dan bahkan membiarkan fakir miskin tersebut memasuki kebun-kebunnya untuk mencicipi hasilnya.

Pemilik – pemilik kebun yang diceritakan dalam surat ini (ayat 17 – 33) merupakan keturunan dari orang tua tersebut.

Dalam surat ini dikisahkan bahwa para pemilik kebun bersumpah untuk memetik habis hasil kebun mereka pada pagi hari, agar tidak diketahui oleh orang-orang miskin, supaya mereka mendapatkan untung yang sangat banyak dan tidak mengeluarkan sedekahnya barang sedikitpun.

Dan dengan kesombongannya mereka pun tidak mengucapkan Insya Allah dalam sumpah mereka, sehingga Allah membuat mereka melanggar sumpah mereka.

Dalam ayat 18 – 19 disebutkan bahwa Allah menimpakan bencana bagi kebun mereka ketika mereka sedang tidur nyenyak. Tidak dijelaskan dalam surat ini seperti apa bencana yang terjadi, namun kata “Kaashshoriim” pada ayat 20 bisa berarti Allah menjadikan kebun itu hitam seperti malam gelap gulita atau bisa juga berarti punah seperti habis di petik seluruhnya.

Kemudian pada pagi harinya mereka saling panggil memanggil untuk pergi memetik hasil kebun mereka. Lalu dijelaskan dalam ayat berikutnya (21 – 23), mereka pergi dengan saling berbisik-bisikan sehingga percakapan mereka tidak terdengar orang lain.

Namun kemudian, Allah menerangkan bisikan mereka seperti dalam bunyi ayat (24). Yaitu , Pada hari itu mereka melarang ada orang miskin yang masuk ke kebun mereka supaya orang miskin tidak ikut mencicipi hasil jerih payah mereka.

Allah berfirman, “Dan pergilah mereka di pagi hari dengan tekad kuat,” (25) yaitu dengan kekuatan, kemarahan dan keinginan menguasai kebun mereka.

Dan ketika mereka mendapati kebun mereka telah hitam kelam, mereka pun menyadari kesalahan mereka. Itulah sebabnya pada ayat 26 mereka mengatakan, “Sesungguhnya kita benar-benar orang –orang yang sesat,”yakni karena mereka meyakini diri mereka benar, padahal salah (Tafsir Ibnu Katsir). Tapi ada sebagian Ahli tafsir lagi mengartikan bahwa sesat disini maksudnya mereka mengira telah salah jalan dan ini bukanlah kebun mereka.

Kemudian orang yang paling baik pikirannya diantara mereka mengatakan bahwa “Bukankah telah aku katakan kepadamu agar kamu bertasbih, “ yaitu hendaklah mengatakan “Insya Allah” dan mensyukuri nikmatNya (Tafsir Ibnu katsir, ayat 28).

Kemudian mereka menyesal dengan penyesalan yang tidak berguna, sehingga mereka berkata, “Qoolu subhaana robbinaa, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

Ayat ini menjelaskan bahwa mereka mensucikan Rabb (Tuhan Yang Mendidik dan Memelihara mereka) ketika sadar akan kesalahan mereka dan mengakui kezaliman mereka.

Pada ayat 30, Mereka juga berharap Allah akan mengampuni dosa mereka dan menggantikan dengan kebun yang lebih baik daripada itu.

Kemudian mereka saling menyalahkan dan saling cela mencela. Salah seorang mereka mengatakan, “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas” (31 – 32)

Pada ayat 33, sebagai penutup kisah ini Allah berfirman, “kadzaalikal ‘adzab.” maksudnya itulah azab bagi orang-orang yang membangkang perintah Allah dan kufur terhadap nikmatNya. “wala’adzabul aakhiroti akbar”, dan sesungguhnya azab akhirat itu lebih besar untuk orang-orang yang tidak mau bertaubat.

Ayat- ayat ini (17 – 33) turun sebagai perumpamaan yang dialamatkan kepada kaum kafir Quraisy yang telah diberi rahmat besar oleh Allah Ta’ala, yaitu dengan diutusnya Nabi Saw kepada mereka, namun mereka menyambutnya dengan pendustaan dan perlawanan.

Menurut M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbahnya, dari kisah diatas ada beberapa hikmah yang bisa kita simpulkan.

Pertama jika kisah tersebut merupakan kisah yang benar-benar terjadi, maka ini merupakan peringatan untuk berbuat baik kepada fakir miskin dan kurang mampu. Karena dalam harta orang yang bertaqwa ada hak fakir miskin baik yang minta maupun yang tidak meminta.

Jadi walaupun kita telah berzakat, kita tetap dianjurkan membantu fakir miskin yang ada disekitar kita jika kita memang mampu.

Kemudian, ibroh lainnya yaitu sesungguhnya azab Tuhan itu bisa terjadi seketika dan kapan saja, sehingga jangan pernah merasa aman dari azab.

Kata “ ’Asaa robbunaa” dalam ayat 32 menandakan bahwa para pemilik kebun menyadari ujian merupakan didikan dari Rabb mereka, sehingga ketika kita mendapat ujian maka kita wajib mengambil pelajaran darinya. Dilanjutkan dengan kata “…ayyubdilanaa khoiroo minhaa innaa ilaa robbinaa rooghibun” mereka meminta untuk digantikan dengan kebun yang lebih baik daripada ini dan memohon ampun kepada Rabb mereka.

Artinya tidak ada kamus putus asa bagi seorang muslim, sehingga mereka meminta ampun dan berharap ada yang lebih baik

Jika ini merupakan kisah simbolik maka kita dapat mengambil hikmah bahwa seperti kita lihat sekarang banyak orang (dan mungkin kita juga) pernah berpikir bahwa kita merasa sudah berbuat banyak dan yakin sekali bahwa akan mendapat tempat terpuji dimata Allah.

Merasa cukup dengan amalan-amalan yang sudah dilakukan dan berpikir diakhirat kelak akan memetik pahala hasil jerih payah kita.

Padahal belum tentu demikian adanya. Jangan tertipu, seperti kisah para pemilik kebun diatas yang membayangkan dapat memetik hasilnya namun Allah memusnahkan kebun mereka karena kesalahan mereka, dan mereka pun tidak mendapat apa-apa dari kerja keras mereka.

Dari sini, kita menyadari bahwa jangan pernah merasa cukup dengan amalan-amalan yang sudah kita lakukan, mari kita terus tingkatkan amal kita sampai maut menjemput kita dan mari kita ingat juga firman Allah bahwa yang terbaik itu bukan yang paling banyak amalannya melainkan yang paling baik amalannya.

Mari kita berdo’a agar senantiasa dijauhkan dari azabNya dan diberi petunjuk yang lurus terhadap segala ketentuanNya.

Waallahu’alam bishshowab.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s