Ibroh para pemilik kebun

Dalam mengajak kebaikan, Al-Qur’an tidak selalu menggunakan kalimat seruan. Seringkali Allah menyeru kepada kebaikan dalam Al-qur’an melalui kisah-kisah.

Masih ingat kisah para pemilik kebun dalam surat Al-Qalam? Surat ini mengisahkan tentang para pemilik kebun yang diuji oleh Allah ketika mereka melarang orang – orang miskin mencicipi hasil kebun mereka dan bersikap kikir atas karunia Allah.

Sebagian ulama mengganggap kisah ini sebagai kisah simbolik, namun sebagian lagi meyakininya sebagai kisah nyata.

Yang meyakininya sebagai kisah nyata mengatakan bahwa di Yaman yang terletak 6 mil dari San’a, ada orang tua yang sholeh. Orang tua ini memiliki banyak anak dan juga harta serta kebun.

Orang tua ini selalu menyisihkan hasil kebunnya untuk diberikan kepada fakir miskin dan bahkan membiarkan fakir miskin tersebut memasuki kebun-kebunnya untuk mencicipi hasilnya.

Pemilik – pemilik kebun yang diceritakan dalam surat ini (ayat 17 – 33) merupakan keturunan dari orang tua tersebut.

Dalam surat ini dikisahkan bahwa para pemilik kebun bersumpah untuk memetik habis hasil kebun mereka pada pagi hari, agar tidak diketahui oleh orang-orang miskin, supaya mereka mendapatkan untung yang sangat banyak dan tidak mengeluarkan sedekahnya barang sedikitpun.

Dan dengan kesombongannya mereka pun tidak mengucapkan Insya Allah dalam sumpah mereka, sehingga Allah membuat mereka melanggar sumpah mereka.

Dalam ayat 18 – 19 disebutkan bahwa Allah menimpakan bencana bagi kebun mereka ketika mereka sedang tidur nyenyak. Tidak dijelaskan dalam surat ini seperti apa bencana yang terjadi, namun kata “Kaashshoriim” pada ayat 20 bisa berarti Allah menjadikan kebun itu hitam seperti malam gelap gulita atau bisa juga berarti punah seperti habis di petik seluruhnya.

Kemudian pada pagi harinya mereka saling panggil memanggil untuk pergi memetik hasil kebun mereka. Lalu dijelaskan dalam ayat berikutnya (21 – 23), mereka pergi dengan saling berbisik-bisikan sehingga percakapan mereka tidak terdengar orang lain.

Namun kemudian, Allah menerangkan bisikan mereka seperti dalam bunyi ayat (24). Yaitu , Pada hari itu mereka melarang ada orang miskin yang masuk ke kebun mereka supaya orang miskin tidak ikut mencicipi hasil jerih payah mereka.

Allah berfirman, “Dan pergilah mereka di pagi hari dengan tekad kuat,” (25) yaitu dengan kekuatan, kemarahan dan keinginan menguasai kebun mereka.

Dan ketika mereka mendapati kebun mereka telah hitam kelam, mereka pun menyadari kesalahan mereka. Itulah sebabnya pada ayat 26 mereka mengatakan, “Sesungguhnya kita benar-benar orang –orang yang sesat,”yakni karena mereka meyakini diri mereka benar, padahal salah (Tafsir Ibnu Katsir). Tapi ada sebagian Ahli tafsir lagi mengartikan bahwa sesat disini maksudnya mereka mengira telah salah jalan dan ini bukanlah kebun mereka.

Kemudian orang yang paling baik pikirannya diantara mereka mengatakan bahwa “Bukankah telah aku katakan kepadamu agar kamu bertasbih, “ yaitu hendaklah mengatakan “Insya Allah” dan mensyukuri nikmatNya (Tafsir Ibnu katsir, ayat 28).

Kemudian mereka menyesal dengan penyesalan yang tidak berguna, sehingga mereka berkata, “Qoolu subhaana robbinaa, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

Ayat ini menjelaskan bahwa mereka mensucikan Rabb (Tuhan Yang Mendidik dan Memelihara mereka) ketika sadar akan kesalahan mereka dan mengakui kezaliman mereka.

Pada ayat 30, Mereka juga berharap Allah akan mengampuni dosa mereka dan menggantikan dengan kebun yang lebih baik daripada itu.

Kemudian mereka saling menyalahkan dan saling cela mencela. Salah seorang mereka mengatakan, “Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas” (31 – 32)

Pada ayat 33, sebagai penutup kisah ini Allah berfirman, “kadzaalikal ‘adzab.” maksudnya itulah azab bagi orang-orang yang membangkang perintah Allah dan kufur terhadap nikmatNya. “wala’adzabul aakhiroti akbar”, dan sesungguhnya azab akhirat itu lebih besar untuk orang-orang yang tidak mau bertaubat.

Ayat- ayat ini (17 – 33) turun sebagai perumpamaan yang dialamatkan kepada kaum kafir Quraisy yang telah diberi rahmat besar oleh Allah Ta’ala, yaitu dengan diutusnya Nabi Saw kepada mereka, namun mereka menyambutnya dengan pendustaan dan perlawanan.

Menurut M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbahnya, dari kisah diatas ada beberapa hikmah yang bisa kita simpulkan.

Pertama jika kisah tersebut merupakan kisah yang benar-benar terjadi, maka ini merupakan peringatan untuk berbuat baik kepada fakir miskin dan kurang mampu. Karena dalam harta orang yang bertaqwa ada hak fakir miskin baik yang minta maupun yang tidak meminta.

Jadi walaupun kita telah berzakat, kita tetap dianjurkan membantu fakir miskin yang ada disekitar kita jika kita memang mampu.

Kemudian, ibroh lainnya yaitu sesungguhnya azab Tuhan itu bisa terjadi seketika dan kapan saja, sehingga jangan pernah merasa aman dari azab.

Kata “ ’Asaa robbunaa” dalam ayat 32 menandakan bahwa para pemilik kebun menyadari ujian merupakan didikan dari Rabb mereka, sehingga ketika kita mendapat ujian maka kita wajib mengambil pelajaran darinya. Dilanjutkan dengan kata “…ayyubdilanaa khoiroo minhaa innaa ilaa robbinaa rooghibun” mereka meminta untuk digantikan dengan kebun yang lebih baik daripada ini dan memohon ampun kepada Rabb mereka.

Artinya tidak ada kamus putus asa bagi seorang muslim, sehingga mereka meminta ampun dan berharap ada yang lebih baik

Jika ini merupakan kisah simbolik maka kita dapat mengambil hikmah bahwa seperti kita lihat sekarang banyak orang (dan mungkin kita juga) pernah berpikir bahwa kita merasa sudah berbuat banyak dan yakin sekali bahwa akan mendapat tempat terpuji dimata Allah.

Merasa cukup dengan amalan-amalan yang sudah dilakukan dan berpikir diakhirat kelak akan memetik pahala hasil jerih payah kita.

Padahal belum tentu demikian adanya. Jangan tertipu, seperti kisah para pemilik kebun diatas yang membayangkan dapat memetik hasilnya namun Allah memusnahkan kebun mereka karena kesalahan mereka, dan mereka pun tidak mendapat apa-apa dari kerja keras mereka.

Dari sini, kita menyadari bahwa jangan pernah merasa cukup dengan amalan-amalan yang sudah kita lakukan, mari kita terus tingkatkan amal kita sampai maut menjemput kita dan mari kita ingat juga firman Allah bahwa yang terbaik itu bukan yang paling banyak amalannya melainkan yang paling baik amalannya.

Mari kita berdo’a agar senantiasa dijauhkan dari azabNya dan diberi petunjuk yang lurus terhadap segala ketentuanNya.

Waallahu’alam bishshowab.

Canda Rasul

Teladan kita, Rasulullah SAW, adalah orang yang senang menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Walapun beliau menghadapi berbagai kesusahan yang beraneka ragam, namun beliau juga bergurau dalam batasan tidak berbicara sesuatu kecuali yang haq.

Kita dapatkan bahwa Rasulullah SAW di rumahnya juga bergurau dengan isteri-isterinya dan mendengarkan cerita mereka. Sebagaimana diceritakan di dalam haditsnya Ummu Dzar yang terkenal di dalam shahih Bukhari. Kita lihat juga bagaimana perlombaan Nabi SAW dengan ‘Aisyah RA di mana sesekali ‘Aisyah menyalipnya dan sesekali Nabi mendahuluinya, maka Nabi bersabda kepadanya, “Ini dengan itu (satu-satu).”

‘Aisyah berkata, “Rasulullah SAW dan Saudah binti Zam’ah pernah berada di rumahku, maka aku membuat bubur dan tepung gandum yang dicampur dengan susu dan minyak, kemudian aku hidangkan, dan aku katakan kepada Saudah, ‘Makanlah’
Maka Saudah berkata, ‘Saya tidak menyukainya,’
Maka aku berkata, ‘Demi Allah benar-benar kamu makan atau aku colekkan bubur itu ke wajahmu, ‘
Maka Saudah berkata, ‘Saya tidak mau mencicipinya, ‘
Maka aku (‘Aisyah) mengambil sedikit dari piring, kemudian aku colekkan ke wajahnya. Saat itu Rasulullah SAW menurunkan kepada Saudah kedua lututnya agar mau mengambil dariku, maka aku mengambil dari piring sedikit lalu aku sentuhkan ke wajahku, sehingga akhirnya Rasulullah SAW tertawa.”
(HR. Zubair bin Bakkar di dalam kitabnya “Al Fukahah”)

Diriwayatkan juga sesungguhnya Dhahhak bin Sufyan Al Kallabi adalah orang yang berwajah buruk. Ketika dibai’at oleh Nabi SAW maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya aku mempunyai dua wanita yang lebih cantik daripada si Merah Delima ini (‘Aisyah),–ini sebelum turun ayat tentang hijab–,
“Apakah tidak sebaiknya aku ceraikan salah satunya untukmu, kemudian kamu menikahinya?”
Saat itu ‘Aisyah sedang duduk mendengarkan, maka Aisyah berkata, ‘Apakah dia lebih baik atau engkau?”
Maka Dhahhak menjawab, “Bahkan saya lebih baik daripada dia dan lebih mulia.”
Maka Rasulullah SAW tersenyum karena pertanyaan ‘Aisyah kepadanya, karena ia laki-laki yang berwajah buruk. ‘
(HR. Zubair bin Bakkar di dalam “Al Fukaahah”)

Diriwayatkan juga bahwa punggung Rasulullah SAW pernah ditunggangi oleh kedua cucunya Hasan dan Husain ketika masih kecil. Beliau dan kedua cucunya menikmati tanpa rasa berat. Ketika itu ada salah seorang sahabat yang masuk dan melihat pemandangan itu, maka sahabat itu berkata, “Sebaik-baik yang kamu naiki adalah yang kamu naiki berdua.”
Nabi SAW berkata, “Sebaik-baik yang naik adalah keduanya.”

Dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjulurkan lidahnya kepada Hasan bin Ali maka anak itu melihat merahnya lidah beliau sehingga ta’ajub dan menarik minatnya lalu ia segera menghampiri beliau”.

Dari Ya’la bin Murrah ia berkata: “Kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang. Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari sehingga membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumnya”.

Anas berkata, “Abu Talhah pernah mempunyai anak bernama Abu ‘Umair, dan Rasulullah SAW pernah datang kepadanya lalu berkata, ‘Wahai Abu ‘Umair apa yang diperbuat oleh Nughair (burung kecil)?’ Karena anak burung pipit yang dipermainkan.”

Rasulullah SAW juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata, “Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga.”
Maka Nabi SAW berkata kepadanya, “Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki orang yang sudah tua.”
Maka wanita tua itu pun menangis, karena ia memahami apa adanya.
Kemudian Rasulullah SAW memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik.

Lalu Nabi SAW membaca firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 35-37)

Ada seorang laki-laki datang ingin dinaikkan unta, maka Nabi bersabda, “Saya tidak akan membawamu kecuali di atas anak unta.”
Maka orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang dapat saya perbuat dengan anak unta?” Ingatannya langsung ke anak unta yang masih kecil.
Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah ada unta yang melahirkan kecuali unta juga?”

Suatu ketika, Rasulullah saw dan para shahabat ra sedang ifthor. Hidangan pembuka puasa dengan kurma dan air putih. Dalam suasana hangat itu, Ali bin Abi Tholib ra timbul isengnya. Ali ra mengumpulkan kulit kurma-nya dan diletakkan di tempat kulit kurma Rasulullah saw. Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan kalau Rasulullah saw sepertinya sangat lapar dengan adanya kulit kurma yang lebih banyak. Rasulullah saw yang sudah mengetahui keisengan Ali ra segera “membalas” Ali ra dengan mengatakan, “Yang lebih lapar sebenarnya siapa?” (antara Rasulullah saw dan Ali ra). Sedangkan tumpukan kurma milik Ali ra sendiri tak bersisa.

Zaid bin Aslam berkata, Ada seorang wanita bernama Ummu Aiman datang ke Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya suamiku mengundangmu.”
Nabi berkata, “Siapakah dia, apakah dia orang yang matanya ada putih-putihnya?.”
Ia berkata, “Demi Allah tidak ada di matanya putih-putih!.”
Maka Nabi berkata. “Ya, di matanya ada putih-putih.”
Maka wanita itu berkata, “Tidak, demi Allah.”
Nabi berkata, “Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada putih-putihnya.”
(Az-Zubair bin Bakar dalam “Al Fakahah wal Mizah” dan Ibnu Abid-Dunya).
Yang dimaksud dalam hadits ini adalah putih yang melingkari hitamnya bola mata.

Demikianlah sebagian kisah senda gurau bersama Rasulullah. Beliau hidup bersama para sahabatnya dengan kehidupan yang wajar. Beliau ikut bercanda dan bermain dengan mereka, sebagaimana beliau ikut bersusah-payah bersama mereka.

diambil dari berbagai sumber

Ceramah Tarawih

Ketika kita sudah sampai pada 11 hari puasa, di Jakarta, di masjid Al Azhar, di mana kita bisa menyelenggarakannya dengan penuh khusyu’, dari buka sampai nanti sahur, maka kita patut bersyukur kepada Allah, bahwa ini adalah karunia Allah yang sangat besar.

Apalagi bila kita membandingkan dengan kondisi saudara-saudara kita di Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, apalagi di luar sana, di Palestina, Iraq.  Wajar jika kita bersyukur kepada Allah, karena telah diberi kemudahan, kita bisa melakukan ibadah di bulan Ramadhan tanpa ada ketakutan tiba-tiba ada gempa, tanpa ada  ketakutan tiba-tiba ada serangan oleh Israel, tiba-tiba ada provokasi, ada bom, di Palestina, di Iraq.

Alhamdulillah, kita di sini bisa menyelenggarakan aktivitas puasa, tadarus, tarawih, buka puasa, sahur, semuanya dapat dilakukan dengan penuh tuma’ninah dan khusyu’.Salah satu bentuk syukur kita adalah dengan banyak berdoa, karena salah satu dari tiga kelompok yang doanya tidak akan ditolak oleh Allah adalah orang yang berpuasa hingga nantinya ia berbuka puasa.

Membandingkan dengan apa yang terjadi dengan saudara kita yang mengalami musibah, minimal, hadirkanlah mereka dalam doa-doa kita, doakanlah saudara kita itu, semoga segera mendapatkan solusi, dan kemudian mudah-mudahan mereka dapat menjalankan ibadah Ramadhan seperti kita dengan tuma’ninah.

Sekalipun kita menyadari sepenuhnya bahwa hadirnya bencana atau tidak hadirnya bencana adalah semata-mata takdir Allah. Dan sesungguhnya apa yang Allah takdirkan bukanlah untuk menyusahkan umat manusia. Sebagaimana Allah telah menerangkan dalam Surat Al Zalzalah bahwa seluruh peristiwa yang menghadirkan guncangan, gempa, itu adalah bagian dari sunnatullah. Ternyata di balik berbagai peistiwa, kita tahu masih ada pihak-pihak yang mengail di air keruh, sehingga terjadilah korupsi dan manipulasi.

Sekali lagi, Allah menghadirkan kepada kita musibah adalah bukan sekedar musibah, namun untuk meningkatkan komitmen keimanan kita, kualitas keimanan kita, kualitas kepedulian kita, kualitas amal sholeh kita.

Karenanya, dalalm Surat Al Zalzalah, setalah menghadirkan beragam fakta, fenomena gunung, gempa, Allah menutup dengan “famayyakmal” dan seterusnya sampai ayat terakhir. Artinya, siapa yang kemudian, karena musibah itu lalu ia melakukan amal sholeh, sekecil apapun, ia akan mendapatkan balasannya, bukan hanya di akhirat, bahkan di dunia sekalipun.

Tetapi sebaliknya, siapa yang semakin korupsi, semakin tidak peduli, arogan, pastilah akan mendapatkan balasannya, bukan hanya di akhirat, di dunia pun akan bisa terjadi.

Di dalam Surat Al Zalzalah, “famayyakmal”, Allah menghadirkan dengan kata “fa”, artinya hadirkan amal sholeh, langsung, secepat mungkin, segera lakukan amal sholeh, segera lakukan kepedulian sosial, dan yang insya Allah, pasti sudah kita lakukan.

Allah menghadirkan agama, syariat-NYA, termasuk rukun Islam yang lima, sesungguhnya memang dihadirkan dengan maksud yang jelas, bukan cuma untuk wacana, atau tebar pesona, atau tebar air mata, atau sekedar ritual tahunan, tidak begitu.

Kembali di dalam Al Quran, ditegaskan dalam ayat tentang puasa, “Wahai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang sebelum kamu”.

Penegasan pada kata “kama” (sebagaimana), adalah bahwa berpuasa ini bukan sesuatu yang abstrak, tidak jelas, juga bukan hanya pengulangan saja. Melainkan menegaskan bahwa puasa adalah sesuatu yang pernah diwajibkan, pernah dilaksanakan, dan menghasilkan sesuatu yang konkrit. Maka sebagaimana mereka, orang-orang sebelum kita, maka kita pun diwajibkan untuk menghasilkan sesuatu yang konkrit.

Ayat ini jika dipahami lebih kontekstual adalah, dipahaminya kata “kum” adalah kita semua, generasi sebelum kita, kakek kita, buyut kita, dan seterusnya, sampai pada generasi utama, generasi binaan Rasulullah SAW.

Inilah yang perlu kita maknai.

Bagiamana Rasulullah sukses menghadirkan msyarakat madani, bermoral, berperadaban yang sangat unggul. Itulah peristiwa yang terjadi sesudah diwajibkan berpuasa, walaupun tidak terlepas dari kewajiban yang lain.

Tetapi, yang ingin digarisbawahi di sini adalah, Quran menegaskan, bahwa mereka, orang-orang sebelum kita, dengan puasa, telah menghasilkan hasil yang konkrit, menghasilkan muslim yang baru, peradaban yang baru, bukan peradaban jahiliyah, tapi peradaban yang rahmatan lil alamin.

Dalam konteks ini, berpuasa adalah jelas ukurannya, awalnya jelas, akhirnya pun jelas, tujuannya pun jelas.

Inilah yang perlu kita maknai, karena ada sebagian kita yang telah berpuasa untuk yang kesekian puluh kalinya. Kita bisa bermuhasabah, bertanya pada diri kita masing-masing, bagaimana peningkatan kualitas diri kita, kualitas keimanan, amal sholeh, dari tahun ke tahun.Tentu yang paling tahu adalah diri kita senidiri, dengan demikian, kita terus melakukan perbaikan, dan itulah yang selalu dilakukan oleh manusia yang beriman.

Sebagaimana dilakukan oleh para sahabat, yang dengan berpuasa dapat menghasilkan generasi yang baru, berpuasa adalah sarana yang efektif untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah, menghadirkan komitmen yang lebih kuat lagi menuju umat yang kokoh.

Karenanya kita tidak pernah menemukan suatu riwayat, tentang para sahabat yang berselisih, saling memfitnah, menyebarkan berita bohong, intimidasi, dan perilaku-perilaku negatif lainnya.Sekalipun kita tahu ada riwayat yang beragam tentang berapa jumlah rakaat, tetapi jelas riwayat tersebut menyambung sanadnya ke Rasulullah SAW. Sekalipun beragam, tapi tidak ada yang bertengkar, berantem, memfitnah.

Inilah salah satu makna yang penting untuk kita ambil. Mari kita jadikan puasa Ramadhan ini sebagai sarana untuk pengujian komitmen kita dalam menghadirkan ukhuwah islamiyah.

Ketika Allah menyebutkan, innamal mukminunal ikhwah, ayat tersebut tidak berhenti di situ, tidak titik, tetapi ada terusannya, fa ashlihu baina akhowaikum.

Itulah ciri yang benar tentang orang yang beriman, yaitu orang yang berukhuwah. Dan tidak serta merta kalau kita mengupayakan ukhuwah, kemudian sekali pukul semua masalah selesai, kalau demikian halnya, maka tidak akan ada ungkapan tersebut.

Fa ashlihu baina akhowaikum, maka lakukan ishlah di antara saudara-saudaramu yang beriman itu.  Generasi sahabat juga ada perselisihan, tapi kemudian mereka tidak membiarkannya untuk dipakai oleh kelompok-kelompok munafik, kelompok-kelompok yang mengikuti agenda-agenda yang telah dibuat oleh Yahudi. Mereka menyadari betul bahwa perbedaan ini tidak boleh dipakai oleh musuh-musuh Islam untuk memecahbelah di antara umat islam.

Ishlah tetap bisa dilakuakan selama kita kembali hakikat kita sebagai hamba Allah yang beriman, sehingga kita bisa saling berukhuwah, bekerja sama, saling menolong.

Akhirnya kita berharap dengan hadirnya Ramadhan, yang menghadirkan begitu banyak sarana bagi kita untuk mungkin bisa melakukan silaturahmi dengan nyaman, shalat berjamaah, tadarus berjamaah, sholat shubuh berjamaah, makan sahur berjamaah, buka puasa berjamaah. Begitu banyak sarana yang dengan puasa ini untuk kita bisa bertemu kembali.

Semua itu adalah sarana untuk menghadirkan kembali ukhuwah. Okelah, bila selama bulan Ramadhan ada hal-hal yang mengganjal. Marilah kita menyambut seruan Allah di bulan Ramadhan ini, dengan puasa, dan memanfaatkan begitu banyak sarana yang Allah hadirkan untuk terjadinya ukhuwah dan ishlah di antara orang yang beriman.

Mudah-mudahan dengan ishlah, kita tidak lagi mau difitnah maupun memfitnah, dipecah belah maupun memecah belah. Mudah-mudahan ini menjadi bagian yang bisa kita raih selama ini kita berpuasa di Ramadhan tahun ini sehingga di tahun depan, kita memiliki ukhuwah yang lebih kuat.

Insya Allah, berkah Ramadhan ini, di mana Ramadhan adalah syahrul mubarak, Insya Allah, kita akan mendapatkan umat dengan ukhuwah yang kuat, yang  tidak lagi menjadi bagian yang menyebar fitnah, sebaliknya akan menjadi bagian yang mengokohkan ukhuwah.

Dan jika itu kita lakukan, maka itu merupakan bentuk sumbangsih kita kepada kemanusiaan, kepada bangsa Indonesia sekaligus warga dunia, karena sesungguhnya membutuhkan peran serta umat islam yang berukhuwah dengan sebaik-baiknya.

Mudah-mudahan dengan memaknai puasa sebagaimana para Rasulullah dan sahabat memaknainya, pada waktu idul fitri nanti, dapat kita rayakan dengan nyaman, penuh percaya diri, di mana kita akan saling mengatakan: Minal ‘aidin wal fa izin, Mohon maaf lahir & batin, sekaligus memberikan permaafan lahir dan batin.

Kemudian kita kembali menjadi umat yang berukhuwah, umat yang beriman, umat yang berishlah, umat yaang menghadirkan rahmatan lil alamin. Wallahu ‘alam bish showab. (dian)

* Disarikan dari Ceramah Tarawih oleh ust Hidayat Nur Wahid di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan