Begadang jangan begadaaang…..!

JANGAN TIDUR LARUT MALAM
Penemuan Terbaru Mengenai Kanker Hati

Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru
ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya
kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang
selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan
fungsi hati (SGOT, SGPT), tetapi ternyata saat
menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif
menderita kanker hati sepanjang 10 cm!

Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada
hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function
Index). Mereka menganggap bila pemeriksaan
menunjukkan hasil index yang normal berarti semua
OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan
oleh banyak dokter spesialis. Benar-benar
mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan
pengetahuan yang benar pada masyarakat umum,
ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar.
Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara
yang benar.

Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan
mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter
Hsu Chin Chuan. Tetapi ironisnya, ternyata dokter
yang menangani kanker hati juga bisa memiliki
pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat,
inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit
untuk disembuhkan.

Penyebab utama kerusakan hati adalah :

  1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
  2. Pola makan yang terlalu berlebihan.
  3. Tidak makan pagi.
  4. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
  5. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
  6. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapatmungkin kurangi penggunaan minyak goreng saatmenggoreng makanan hal ini juga berlaku meskimenggunakan minyak goreng terbaik sekalipun sepertiolive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digorengbila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
  7. Mengkonsumsi masakan mentah (sangatmatang) juga menambah beban hati. Sayur mayurdimakan mentah atau dimasak matang 3/5 bagian. Sayuryang digoreng harus dimakan habis saat itu juga,jangan disimpan.

Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya,

Sebab:

  • Malam hari pk 9 – 11: adalah pembuanganzat- zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagiansistem antibodi (kelenjar getah bening). Selamadurasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasanatenang atau mendengarkan musik. Bila saat ituseorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yangtidak santai seperti misalnya mencuci piring ataumengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampaknegatif bagi kesehatan.
  • Malam hari pk 11 – dini Hari pk 1: saat proses de-toxin di bagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.Dini hari pk 1 – 3: proses de-toxin dibagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur. Dini hari pk 3 – 5: de-toxin di bagianparu-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebatbagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluranpernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agarsupaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.
  • Pagi pk 5 – 7: de-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil.
  • Pagi pk 7 – 9: waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangatbaik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya.Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubahkebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambatmakan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siangakan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidakberguna. Selain itu,dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakanguntuk memproduksi darah. Sebab itu, tidurlah yangnyenyak dan jangan terlalu sering begadang.

Jadi yang suka bergadang dikurangin yah…

Kayaknya tulisan di atas gua bangeeet….!!! (abynoel, yang lagi hepatitis)

Iklan

Hepatitis B Membunuh

Hepatitis B Bisa Bunuh Anda Diam-diam

Vaksin Hepatitis B

PENYAKIT hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun.

“Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi,” ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)  dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6).

Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.

Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. “Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning,” papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .

Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau  kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).

“Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif  akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya,” jelas dr Unggul.

Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan.  Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi.  Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine.   Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi  interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi.

Bahaya dari Hepatitis B



Hepatitis virus B sering tercatat sebagai penyebab dari radang liver pada masyarakat di Indonesia dan juga di Asia Tenggara. Hepatitis B pada saat menjangkiti tubuh penderita dapat terjadi peradangan akut pada hati yang dinamakan Hepatitis B Akut. Hepatitis B Akut ini pada sebagaian orang (80%) akan sembuh dengan sendirinya setelah 7 hingga 10 hari. Tetapi pada sebgaian yang lain akan terjadi terus peradangan pada hati dengan intensitas yang rendah tetapi dalam waktu yang panjang (lebih dari 6 bulan), hal ini yang dinamakan dengan nama hepatitis B kronik. Petanda awal yang dipakai untuk mengetahui infeksi hepatitis B adalah pemeriksaan HBsAg. Pada penderita hepatitis B kronik HbsAg menetap lebih dari 6 bulan. Selama dalam waktu ini penderita hepatitis B kronik terkadang merasa diri mudah lelah dan terkadang juga tidak merasakan apa – apa bila keadaan tubuh sedang sehat, tetapi proses peradangan dalam hati terus berlanjut hingga merusak seluruh struktur organ hati. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui dan memantau dari perjalanan hepatitis B kronik adalah dengan pemeriksaan SGOT/SGPT, HbeAg dan pemeriksaan HBV-DNA. Bila pada pemeriksaan SGOT/SGPT tinggi (lebih dari 2x angka normal) dan HBV-DNA tinggi maka dianjurkan untuk mendapat obat anti virus hepatitis B. Monitoring dari fungsi hati sebaiknya dilakukan paling sedikit tiap 3 bulan untuk melihat progresifitas dari pertumbuhan virus hepatitis B.
Bahaya dari peradangan hati dan pertumbuhan virus hepatitis bila tidak diobati akan menjadikan organ hati kehinagan fungsinya dan menuju gagal organ hati dan keadaan ini bersifat ireversibel (menetap dan tidak bisa kembali pada keadaan normal)

Hepatitis dan Upaya Pencegahan

Tulisan tentang penyakit hepatitis layak dibaca dan untuk diketahui, salah satunya tulisan dr. Fazidah Aguslina Siregar dari FKM USU, klik di :

http://library.usu.ac.id

Hepatitis yang Perlu Anda Tahu


Hepatitis adalah penyakit peradangan atau gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh suatu infeksi atau keracunan. Salah satu gejala yang mudah terlihat pada penderita gangguan fungsi hati adalah kulit dan selaput putih mata yang mungkin akan berubah warna menjadi kuning, sehingga sering disebut oleh masyarakat sebagai penyakit kuning. Warna kuning ini disebabkan oleh cairan empedu yang sudah sangat berlebihan kadarnya di dalam darah.

Penyebab Hepatitis

”Hepatitis B memang bisa diobati, bahkan disembuhkan. Namun, untuk hepatitis B kronis, sulit sekali disembuhkan,” kata dr Jack P Handojo, direktur medis Bristol-Myers Squib Indonesia Tbk, tidak ada obat hepatitis B kronis.

Sekali tertular, virus itu akan terus ada dalam tubuh, meskipun keberadaannya bisa ditekan hingga ke tingkat yang tidak dapat didekteksi. ”Vaksinasi adalah cara yang utama untuk mencegah infeksi dan penyebaran hepatitis B kronis,” katanya.

Pasien Hepatitis kronis ini bisa berakibat komplikasi. Yaitu sirosis (Cirrhosis hepatis), yang akan menjadi kanker hati (Carcinoma hepatis), yang bisa berakibat kematian.

Hepatitis selain disebabkan oleh virus juga disebabkan oleh zat kimia, dan kuman. Zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern. Zat-zat kimia ini kemungkinan tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit . Hati bertugas menetralkan racun yang ada di darah. Jika terlalu banyak zat kimia di dalam tubuh, daya kerja hati jadi rusak dan tak dapat menetralkan racun itu.

Berbagai kuman di sekeliling pun bisa menjadi penyebab. Kuman ini mudah masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman yang tercemar. Kuman masuk juga saat tangan yang kotor tak sengaja memegang bibir, tidak mencuci tangan saat makan, atau dari wadah makanan yang tak dibersihkan.

Di dalam alat pencernaan tubuh, kuman tersebut berkembang biak dengan cepat. Kuman ini masuk ke dalam hati melalui aliran darah. Kuman ini tinggal di kapiler-kapiler darah hati dan terus menerus menyerang hati, sehingga menimbulkan radang hati.

Penyakit hepatitis memang paling banyak diakibatkan virus hepatitis A,B,C,D, E, G dan TT. Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang tercemar. Bisa juga tertular melalui tranfusi darah dan alat-alat yang tak steril. Maka itu, hepatitis sering terkena pada pecandu narkoba yang menggunakan jarum suntik yang tak steril dan sering digunakan berganti-ganti.

Hepatitis A

Pada orang dewasa gejala hepatitis A mirip dengan flu, selain itu tubuh menjadi kurang nafsu makan, mual, diare, nyeri perut, demam, mata kuning. Gejala ini baru hilang setelah 6-12 minggu.

Orang yang terinfeksi hepatitis A akan kebal terhadap penyakit tersebut. Maka itu, hepatitis A lebih banyak menyerang anak-anak, dan pada anak biasanya sulit ditemui gejala seperti yang orang dewasa rasakan.Berbeda dengan hepatitis B dan C. Infeksi hepatitis A tidak berlanjut ke hepatitis kronik.

Penularannya melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feces pasien, misalnya makan buah-buahan, sayur yang tidak dimasak atau makan kerang yang setengah matang. Minum dengan es batu yang prosesnya terkontaminasi. Masa inkubasi 30 hari.

Pencegahannya adalah melalui vaksin hepatitis A. Namun ini hanya memberikan kekebalan selama 4 minggu. Untuk memperpanjang masa kekebalan harus beberapa kali suntikan. Resiko tertinggi terkena hepatitis A adalah mereka pecandu narkotika dan hubungan seks anal.


Hepatitis B

Gejala hepatitis B, hampir sama dengan hepatitis A. Yakni mirip flu, hilangnya nafsu makan, mual, muntah, rasa lelah, mata kuning. Namun hepatitis B biasanya demam yang dialami disertai muntah.

Penularanya melalui jarum suntik atau pisau yang terkontaminasi,sisir, alat cukur janggut atau rambut, transfusi darah, gigitan manusia, hubungan seks dengan penderita yang terinfeksi hepatitis B, dan bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi.

Pengetahuan masyarakat pada hepatitis yang belum tinggi membuat suburnya virus dan kasus hepatitis B di sini. Akibatnya masyarakat kita lebih mudah tertular. Setelah tertular pun mereka tidak tahu bahaya hepatitis B dan cenderung mengabaikannya. Faktor lainnya, ketidakmampuan ekonomi membuat mereka memilih tidak berobat. Akibatnya virus hepatitis B di dalam tubuh bisa menular ke pasangan dan anggota keluarga lainnya.

Hepatitis C

Lima belas persen dari kasus infeksi hepatitis C adalah akut. 85% dari kasus yang ada, infeksi hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun. Dalam waktu tersebut, hati yang rusak menjadi sirosis (pengerasan hati), stadium akhir akan menjadi penyakit hati dan kanker hati yang mematikan.

Gejala dari penyakit ini adalah rasa kelelahan yang sudah kronis, hilang selera makan, sakit perut, urin menjadi gelap. Kulit atau mata menjadi kuning jarang terjadi.

Penderita hepatitis C, dilarang mengonsumsi alkohol karena akan memperparah kerusakan hati. Pada saat sakit istirahat diharuskan dan rutin melakukan olah raga ringan.

Virus Hepatitis C sangat pandai merubah dirinya dengan cepat. Sekarang ini ada sekurang-kurangnya enam tipe utama dari virus Hepatitis C (yang sering disebut genotipe) dan lebih dari 50 subtipenya. Inilah yang menyebabkan tubuh sulit melawan virus ini.

Penularan penyakit ini melalui kontak langsung dengan darah, bisa juga dengan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi. Dalam kegiatan sehari-hari banyak resiko terinfeksi Hepatitis C seperti berdarah karena terpotong atau mimisan, atau darah menstruasi, sikat gigi, cukur kumis atau janggut. Perlengkapan pribadi yang terkena kontak oleh penderita dapat menularkan virus Hepatitis C (seperti sikat gigi, alat cukur atau alat manicure). Resiko terinfeksi Hepatitis C melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan.

Penderita hepatitis C tidak dapat menularkan hepatitis C ke orang lain melalui pelukan, jabat tangan, bersin, batuk, berbagi alat makan dan minum, kontak biasa, atau kontak lainnya yang tidak terpapar oleh darah.

Hepatitis D

Hepatitis D Virus ( HDV ) atau virus delta adalah virus yang unik, yang tidak lengkap dan untuk replikasi memerlukan keberadaan virus hepatitis B. Penularan melalui hubungan seksual, jarum suntik dan transfusi darah. Gejala penyakit hepatitis D bervariasi, dapat muncul sebagai gejala yang ringan (ko-infeksi) atau amat progresif.


Hepatitis E

Gejala mirip hepatitis A, seperti demam, pegal linu, lelah, hilang nafsu makan dan sakit perut. Penyakit akan sembuh sendiri ( self-limited ). Kecuali pada ibu hamil, terutama pada trismester ketiga akan dapat mengakibatkan kematian. Penularannya melalui minuman dan makanan yang terkontaminasi feces.

Hepatitis F

Baru ada sedikit kasus yang dilaporkan. Saat ini para pakar belum sepakat hepatitis F merupakan penyakit hepatitis yang terpisah.

Hepatitis G

Gejala serupa hepatitis C. Seringkali infeksi bersamaan dengan hepatitis B atau C. Tidak menyebabkan hepatitis fulminan ataupun hepatitis kronik. Penularan melalui transfusi darah jarum suntik.

SEPUTAR HEPATITIS

Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C. namun disini kita akan membahas pada fokus artikel penyakit Hepatitis A,B dan C.

· Penyakit Hepatitis A
Hepatitis A adalah golongan penyakit Hepatitis yang ringan dan jarang sekali menyebabkan kematian, Virus hepatitis A (VHA=Virus Hepatitis A) penyebarannya melalui kotoran/tinja penderita yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkomtaminasi, bukan melalui aktivitas sexual atau melalui darah. Sebagai contoh, ikan atau kerang yang berasal dari kawasan air yang dicemari oleh kotoran manusia penderita.

Penyakit Hepatitis A memiliki masa inkubasi 2 sampai 6 minggu sejak penularan terjadi, barulah kemudian penderita menunjukkan beberapa tanda dan gejala terserang penyakit Hepatitis A.

1. Gejala Hepatitis A
Pada minggu pertama, individu yang dijangkiti akan mengalami sakit seperti kuning, keletihan, demam, hilang selera makan, muntah-muntah, pusing dan kencing yang berwarna hitam pekat. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis A
Penderita yang menunjukkan gejala hepatitis A seperti minggu pertama munculnya yang disebut penyakit kuning, letih dan sebagainya diatas, diharapkan untuk tidak banyak beraktivitas serta segera mengunjungi fasilitas pelayan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan dari gejala yang timbul seperti paracetamol sebagai penurun demam dan pusing, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat-obatan yang mengurangi rasa mual dan muntah.

Sedangkah langkah-langkah yang dapat diambil sebagai usaha pencegahan adalah dengan mencuci tangan dengan teliti, dan suntikan imunisasi dianjurkan bagi seseorang yang berada disekitar penderita.

· Penyakit Hepatitis B
Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya didunia, Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun. Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B.

Adapun beberapa hal yang menjadi pola penularan antara lain penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (sikat gigi, handuk) secara bersama-sama. Hepatitis B dapat menyerang siapa saja, akan tetapi umumnya bagi mereka yang berusia produktif akan lebih beresiko terkena penyakit ini.

1. Gejala Hepatitis B
Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam, sakit perut dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera). Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis B
Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan periksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai Hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi.
a. Pengobatan oral yang terkenal adalah ;
– Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
– Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.
– Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan pemberian obat ini belum dikatakan stabil.

b. Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah ;
Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol.

Langkah-langkah pencegahan agar terhindar dari penyakit Hepatitis B adalah pemberian vaksin terutama pada orang-orang yang beresiko tinggi terkena virus ini, seperti mereka yang berprilaku sex kurang baik (ganti-ganti pasangan/homosexual), pekerja kesehatan (perawat dan dokter) dan mereka yang berada didaerah rentan banyak kasus Hepatitis B.

· Penyakit Hepatitis C
Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetapi pada penderita Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker (cancer) hati. Sejumlah 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun.

1. Gejala Hepatitis C
Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa gejala yang samar diantaranya adalah ; Lelah, Hilang selera makan, Sakit perut, Urin menjadi gelap dan Kulit atau mata menjadi kuning yang disebut “jaundice” (jarang terjadi). Pada beberapa kasus dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal.

2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis C
Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti Interferon alfa, Pegylated interferon alfa dan Ribavirin. Adapun tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan stadium akhir penyakit hati. Pengobatan pada penderita Hepatitis C memerlukan waktu yang cukup lama bahkan pada penderita tertentu hal ini tidak dapat menolong, untuk itu perlu penanganan pada stadium awalnya.

Hepatitis adalah suatu penyakit dengan gejala badan lemah, perut mual, sering merasa sakit pada perut sebelah kanan atas, badan yang berubah menjadi kekuningan begitu juga mata, air seni yang berubah warna, otot dan persendian terasa sakit, pusing dan sakit kepala yang disertai dengan meningkanya suhu pada tubuh. Gejala yang ditimbulkan merupakan suatu proses peradangan pada hati.

Semua gejala itu bisa terjadi karena hati adalah organ tubuh yang sangat penting sehingga apabila terjadi kerusakan pada hati bisa berakibat munculnya beragam penyakit yang sering berujung pada kematian.

Dilihat dari fungsinya, hati mempunyai fungsi sebagai penghasil albumin, faktor pembekuan, dan asam empedu. Menawarkan zat-zat makanan yang datang dari usus melalui pembuluh balik pintu serta menimbun zat makanan seperti lemak, glikogen, vitamin, darah, tempat pembuatan enzim bagi tubuh, dan lain-lain. Fungsi hati tak bisa digantikan oleh organ tubuh lainnnya.

Hepatitis selain disebabkan oleh virus dan bakteri juga bisa disebabkan oleh alkohol dan obat-obatan. Virus yang merupakan penyebab utama hepatitis bisa ditularkan dari manusia maupun binantang. Virus hepatitis yang paling berbahaya diantara lima jenis virus hepatitis adalah virus hepatitis B (VHB). Semua jenis hepatitis adalah penyakit yang cukup serius dan berbahaya.

Disebut dengan hepatitis B carrier karena pada didalam tubuh terutama hati penderita telah ada VHB tersebut jauh sebelum ditimbulkannya peradangan pada hati yang merupakan bawaan dari kecil. VHB merupakan jenis virus yang menular. Penularan virus ini biasa terjadi melalui alat suntik dan tranfunsi darah. Penularan juga dapat terjadi oleh sebab lain seperti hubungan kelamin atau melalui air seni.

Gejala kekuningan disebabkan oleh tiga hal. Pertama, akibat gangguan pada aliran empedu, misalanya empedu tersumbat karena adanya batu empedu. Kedua, karena akibat dari terjadinya pemecahan sel darah merah yang berlebihan yang disebabkan oleh beberapa hal, misalnya karena racun atau kelainan dari sel darah merah. Ketiga, akibat dari kerusakan hati. Penyakit kuning timbul setelah hati rusak akibat radang hati menular.

Diantara ketiga hal penyebab timbulnya gejala kuning tersebut, yang paling berbahaya dan paling banyak memakan korban adalah radang hati. Dan perlu diketahui, banyak orang yang mengalami panas dan hati bengkak karena radang, tanpa harus menjadi kekuningan.

Untuk penderita hepatitis ini bisa diobati dengan cara tradisional, terutama dengan cara keherbalismean yang sudah banyak terbukti keampuhannya, baik secara klinis maupun secara empiris. Dengan merpergunakan ramuan herbal yang bersifat konstruktif seperti yang terdapat pada Curcuma longa atau Curcuma domestica yang dari hasil penelitian terbukti banyak mengandung kurkumin yang berkhasiat memperbaiki fungsi kerja hati (liver) dan bersifat heparprotektif. Artinya, dapat melindungi fungsi hati dari gangguan zat-zat beracun (toksik), anti bakteri, anti virus dan anti inflamasi, serta anti radang.

Selain mengkonsumsi ramuan obat tradisional secara tepat, penderita sebaiknya perbanyak istirahat ditempat tidur, untuk mengurangi kerja yang dilakukan oleh faal tubuh terutama hati. Perbanyak makanan yang banyak mengandung hidrat arang seperti gula sirop, dan sedikit lemak dan minyak. Batasi makanan yang berprotein tinggi.

Beberapa varian herbal untuk tahapan awal yang bisa dikonsumsi guna menanggulangi jenis penyakit yang mempunyai tingkat bahaya yang tinggi ini antaranya :

– Temulawak 250 gram
– Akar Pepaya Jantan 100 gram
– Cendawan Susu Harimau 100 gram
– Akar Tapak Liman 150 gram (Tutup bumi)
– Kulit buah Semangka 200 gram

Cara pengolahan :

Semua bahan dicuci bersih dengan air yang mengalir. Kemudian semua bahan dipotong-potong kecil, temulawak digiling. Satukan semua bahan obat tersebut didalam belanga atau periuk tanah dengan ditambahi air bersih + 3 liter.

Rebus ramuan obat tersebut dengan mempergunakan api yang agak besar sampai air rebusan tersisa separonya.

Setelah masak saring air hasil perebusan tersebut. Minumlah air obat tersebut diwaktu dingin 3 kali sehari masing-masing 1 gelas (250cc) sesudah makan. Untuk pengobatan selanjutnya silahkan kunjungi herbalist.

Virus Hepatitis B Seratus Kali Lebih Menular Dibanding HIV

Jumlah penderita Hepatitis B yang meninggal dunia saat ini lebih tinggi dibandingkan jumlah penderita AIDS. Virus Hepatitis B (VHB) seratus kali lebih menular dibandingkan HIV/AIDS, walaupun pada dasarnya penyakit ini datang tanpa gejala yang jelas.
Dalam kehidupan sehari-hari, VHB dapat menular melalui hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi, penggunaan pisau cukur, jarum suntik, sikat gigi, membuat tato dan tindik bagian tubuh tertentu dengan alat yang telah digunakan oleh seseorang yang terinfeksi VHB.
Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) Nurul Akbar, prevalensi HbsAg pada pasien Karsinoma Hepatoselular dewasa di kawasan Asia Pasifik seperti Jepang 19%, Taiwan 75% dan Indonesia sekitar 50%, 40% Hepatitis dan 10% non A dan B.
Anak-anak di Taiwan hampir 100% menderita sirosis hati. Di-laporkan juga bahwa 94% ibu dan anak pasien Karsinoma Hepatoselular merupakan pengidap HbsAg. ”Seseorang sangat mungkin terinfeksi VHB apabila ia berhubungan erat dengan cairan tubuh seseorang yang terinfeksi,” ujar Nurul Akbar.
Penularan transmisi prenatal dari ibu pengidap HbsAg kepada anaknya merupakan jalur transmisi sangat penting untuk terjadinya kronisitas infeksi.
Bentuk transmisi ini terjadi pada 40-50% pengidap HbsAg di daerah hiperendemik di Asia.
Sekitar 90% bayi dari ibu pengidap HbeAg akan menjadi pengidap HbsAg dan mengalami VHB kronik, yang pada umumnya asimtomatik. Integrasi genom VHB pada genom pejamu membuka jalan untuk terjadinya karsinoma hepatoselular
Pada sekitar tahun 1980-an ditemukan vaksin HbsAg plasma derived. Menurut Nurul, meski menunjukkan imunogenitas serta efikasi protektif yang sangat baik, vaksin ini kurang diterima secara luas karena kekhawatirannya akan adanya agen infektif di dalamnya. Seiring jalannya waktu, sekarang ini ada tiga modalitas utama golongan obat hepatitis B kronik yakni viral supressor, immunomodulator dan pengobatan alternatif.
Model viral supressor meliputi analog sintetik dari bahan pembentuk virus hepatitis B yang nantinya akan menghalangi replikasi virus. Model immunomodulator meliputi semua bahan yang memacu respon imun untuk menghancurkan sel hati yang terinfeksi dengan virus hepatitis B dan membersihkan hati dari virus. Model pengobatan alternatif meliputi obat-obatan tradisional yang masih belum diketahui secara spesifik mekanisme kerjanya kecuali sebagai suportif
Lamivudine merupakan alternatif pengobatan untuk penderita hepatitis B kronik. Dengan pemberian oral , lamivudine nyaris tidak memiliki efek samping dan merupakan satu-satunya obat yang bisa diberikan pada penderita hepatitis B kronik pada fase lanjut.
Nurul menambahkan, pemerintah sebetulnya telah menyediakan vaksin untuk satu kali pakai yang namanya yunijek. Vaksin tersebut diberikan secara gratis termasuk ke puskesmas-puskesmas. Vaksin tersebut diberikan kepada bayi yang baru lahir dan diperkirakan vaksin tersebut dapat digunakan 2-3 tahun ke depan.
”Tapi anehnya Depkes justru menyatakan hanya sanggup untuk 2 juta bayi baru lahir, padahal mereka dapat dana dari WHO cukup besar. Akibatnya tidak heran jika vaksin yang harusnya gratis, harus dibayar. Pemberian vaksin kepada masyarakat seharusnya gratis kok jadinya harus bayar,” ujarnya.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat khususnya pihak perusahaan untuk tidak menolak karyawan yang mengindap hepatitis B. ”Dia memang berbahaya, tetapi tidak harus dimusuhi dan disingkirkan dari kehidupan,” lanjutnya.

Pencegahan Dini
Hal senada juga diutarakan oleh ahli penyakit dalam Unggul Budihusodo. Menurutnya, yang menentukan orang itu bisa menularkan hepatitis B ke orang lain bukan dari HbsAg-nya tetapi dari SGPT. Jadi tidak ada alasan bagi perusahaan menolak orang yang hasil tes darahnya menunjukkan HBsAg positif. Orang yang hasil tes darahnya menunjukkan HbsAg positif, dapat menjadi petinju dan pemain sepak bola, dia juga dapat bekerja di perusahaan. Yang menular adalah orang yang HbsAg positif dan SGPT positif.
Walaupun pengobatan telah ada, namun alangkah baiknya apabila dilakukan pencegahan VHB sedini mungkin dengan menjalankan pola hidup sehat dan vaksinasi hepatitis B yang diberikan secara serial tiga kali yaitu bulan pertama, kedua dan keenam. (van)