PERMAINAN KIMIA

1. TAMAN KIMIA

A. Alat Dan Bahan :

Larutan Natrium Silikat 15 – 20 %

Besi III Chlorida

Cobalt II Chlorida

Tembaga II Nitrat

Cromium III Chlorida

Tembaga II Sulfat

Nikel II Nitrat

Gelas Kimia dan TAbung Reaksi

Saringan Hisap Lengkap

Bak Kaca / Akuarium

B. Cara Kerja

1.Buat Larutan Natrium Silikat 15 – 20 % lalu saring dengan menggunakan saringan hisap (agar larutan menjadi lebih jernih).

2. Tempatkan larutantersebut dalam bak kaca yang telah tersedia, diamkan untuk beberapa saat agar larutan menjadi lebih tenang.

3. Tambahkan kristal yang telah tersedia dan tempatkan pada tempat yang anda suka dalam bak kaca tersebut.

4.Anda akan menemukan bentuk dan warna yang berlainan dari kristal tersebut.

2. GAS LETUP

A.Alat Dan Bahan

1 Bh Beker Glasss 500 ml

1 Bh Erlenmeyer 500 ml berlengan

Sumbat Erlenmeyer yang sesuai

Selang plastic

Larutan NaOH 4 M secukupnya

Air sabun

Elektroda karbon Adaptor / Sumber Arus DC

B.Cara Kerja

1.Masukkan larutan NaOH 4 M ke dalam Erlenmeyer.

2.Sumbat erlenmeyer tersebut dengan sumbat karet yang telah dilengkapi dengan elektroda karbon dan selang plastik.

3.Tutup rapat-rapat erlenmeyer dengan sumbat tersebut (agar lebih rapat bisa digunakan paslin).

4.Hubungkan selang dari erlenmeyer tersebut dengan air sabun yang ada dalam beker glass.

5.Hubungkan elektroda dengan sumber arus DC / Adaptor. Bila dalam air sabun telah terbentuk gelembung, bakarlah dengan menggunakan korek api maka akan anda dapatkan bunyi letusan.

6.Untuk mempercepat dan menambah jumlah gelembung yang terbentuk, naikkan voltase dari adaptor tersebut.

3. ULAR YOD

A. Alat Dan Bahan

Matkholf 250 ml

Pipet tetes

Bak plastik

Larutan sabun / detergen

Larutan KI H2O2

B.Cara Kerja

1.Larutkan detergen atau sabun ke dalam Matkholf yang berisi H2O2

2.Kocoklah larutan hingga banyak menimbulkan busa.

3.Tempatkan Matkholf dalam bak plastik.

4. Dengan menggunakan pipet tetes, pipetlah larutan KI kedalam Matkholf secara berlahan.

5.Busa yang ada di dalam Matkholf akan keluar secara perlahan.

6.Bila busa telah berhenti keluar, tambahkan larutan KI kedalam Matkholf tersebut.

4. UANG KERTAS AMAN DARI AMUKAN API

A. Alat Dan Bahan

Larutan Metanol dalam air ( 60 bagian Metanol : 40 bagian air)

Gelas Kimia 500 ml

Uang Kertas

Korek api / Pembakar spirtus

Penjepit

B. Cara Kerja

1.Masukkan / celupkan uang kedalam larutan Metanol beberapa menit.

2.Jepit uang kertas yang sudah direndam ke dalam larutan Metanol. Kemudian bakarlah uang tersebut.

3. uang anda akan selamat dari amukan api tersebut.

5. POSTER AJAIB

A. Alat Dan Bahan

Kertas saring sebagai dasar pembuatan poster

Botol semprot

Kuas

Larutan FeCl3

Larutan HCl encer,

KSCN Pekat dan Kalium Ferrosianida 10 %

B.Cara Kerja

1.Buatlah tulisan dengan menggunakan larutan HCl encer , KSCN pekat dan kalium ferrosianida 10 %

2.Semprotlah tulisan tersebut dengan larutan FeCl3

3.Anda akan mendapatkan warna tulisan yang berlainan.

6. AIR API AJAIB

A. Alat Dan Bahan

Gelas Kimia 500 ml

Kertas HVS

Indikator Phenolptalein (PP)

Logam Na

Air

B. Cara Kerja

1.Siapkan 1/3 bagian air dalam gelas kimia 500 ml

2.Kedalam gelas tersebut tambahkan indikator PP beberapa tetes

3.Buatlah lingkaran dari kertas HVS dengan diameter yang lebih kecil dari diameter mulut gelas kimia.

4.Letakkan kertas tersebut di atas air ( dalam gelas kimia tersebut ) agar kertas terapung dengan baik.

5.Masukkan logam Na kedalam gelas kimia dan letakkan di atas kertas yang terapung tersebut . Usahakan agas kertas tetap terapung

6.Anda akan mendapatkan letupan dan kobaran api. Setelah api padam larutan menjadi berwarna merah.

7. LARUTAN BIRU AJAIB

A. Alat Dan Bahan

Labu 1 L dan sumbat karet

Sendok

KOH 5 gram

Glukosa 3 gram

Sedikit Metilen blue

B. Cara Kerja

1.Larutkan KOH, Glukosa dan Metilen Blue ke dalam labu

2.Biarkan beberapa saat sampai warna larutan menjadi jernih

3.Kocoklah larutan tersebut dengan hati-hati, maka larutan akan berubah menjadi berwarna biru seperti semula.

4.Hal ini dapat anda lakukan sampai jangka waktu 10 jam.

8. TUGU HITAM DARI GULA PASIR

A. Alat Dan Bahan

Gelas kimia atau erlenmeyer

Pipet tetes

Sendok

Gula pasir

H2SO4 Pekat

B. Cara Kerja

1.Masukkan gula pasir ke dalam gelas kimia atau erlenmeyer

2.Tambahkan H2SO4 pekat beberapa tetes kedalam gelas kimia / erlenmeyer tersebut

3.Maka anda akan mendapkan gula pasir yang terbakar membentuk tugu yang berwarna hitam.

9. DANCING BALL

A. Alat Dan Bahan

Labu bentuk bulat ,

Pengaduk dan sendok

Naftalena / Kapur barus ( yang berwarna warni )

Natrium bikarbonat ( NaHCO3 )

Larutan HCl

Air

B. Cara Kerja

1.Buatlah larutan HCl encer dan masukkan larutan HCl encer tersebut ke dalam labu bulat

2.Ke dalam labu tersebut masukkan Naftalen yang berwarna-warni beberapa butir.

3.Ke dalam labu yang berisi Naftalen masukkan NaHCO3 sedikit demi sedikit.

4.Anda akan mendapatkan naftalen menari nari naik turun – naik turun.

Sumber : dari berbagai sumber

Kegunaan dan Pembuatan Reagen Kimia

LARUTAN KHUSUS / REAGENSIA

NO. NAMA LARUTAN CARA PEMBUATAN KEGUNAAN
1. Air Barit Ø Masukkan 70 gram
dalam 1 liter air yang telah didihkan.Ø Kocok sampai larutan menjadi jenuh.Ø Gunakan larutan yang jernih.
Reagensia untuk CO2
2. Air Brom v Masukkan 25 ml Brom dalam 500 ml air.v Kocok hati-hati sampai semua Brom larut.v Awas! Brom air bila kena kulit dapat menyebabkan luka bakar.v Uap Brom membahayakan keehatan.v Kerjalah di udara terbuka , dan pakailah sarung tangan. Sebagai Oksidator
3. Air Kanji * Campurkan 2 gram Amilum dengan 0,01 gram dan tambahkan sedikit air dingin.* Aduk sampai menjadi pasta .* Encerkan dengan air mendidih sampai 1 liter.* Didihkan beberapa menit.* Dinginkan dan simpan dalam botol. Reagensia untuk Yodium
4. Air Kapur Ø Masukkan 1 sendok dalam 1 liter air.Ø Aduklah campuran itu.Ø Endapkan dan saring.Ø Gunakanlah larutan yang jernih. Reagensia Untuk CO2
5. Air Klor v Alirkan gas klor kedalam 1 liter air sehingga jenuh.v Ingat ! gas adalah racun keras.v Kerjakanlah di udara terbuka. Sebagai Oksidator
6. Air Laut Ø Larutkan dalam 1 liter air: 20,0 gram NaCl 1,8 gram MgSO4 . 7 H2O 2,5 gram MgCl2 1,0 gram K2SO4 Sebagai pengganti Air Laut
7. Albumin Ø Campurkan 5 ml putih telur dengan 5 ml air.Ø Tuangkan campuran ini ke dalam 500 ml air hangat ( 60 oC ) sambil diaduk.Ø Panaskan dengan perlahan ( tidak di atas suhu 80 oC ) sampai larutan menjadi bening.Ø Dinginkan dan saring dengan wol kaca. Untuk Percobaan Protein
8. Amonium Sulfida * Alirkan gas ke dalam 500 ml larutan Amonia 5 M smpai jenuh. ( Ingat Amonia bersifat racun, kerjalah di tempat udara terbuka ).* Tuangkan 500 ml Amonia 5 M ke dalam larutan ini. Mengendapkan Ion-Ion Logam
9. Anilin Biru Ø Larutkan 0,1 gram Fuchsin basa ke dalam 160 ml air dan 1 ml etanol Zat Pewarna Selulosa ( Untuk Biologi )
10. Anilin Merah v Larutkan 1,0 gram Anilin Sufat ke dalam 89 ml Alkohol 70 % .v Tambahkan 10 ml Asam Sulfat 0,005 M.v Simpan larutan ini dalam botol yang berwarna coklat. Zat Pewarna Bakteri dan Inti Sel ( Untuk Biologi )
11. Asam Aki ( Air aki ) Ø Tuangkan dengan perlahan 220 ml pekat murni ke dalam 750 ml air suling sambil aduk.Ø Encerkan sampai 1 liter.Ø Periksa Berat Jenisnya dengan Hidrometer harus menunjukkan angka 1,25.Ø Bila BJ-nya kurang dari 1,25 tambahkan asam sulfat pekat dan bila BJ-nya lebih dari 1,25 tambahkan air suling. Asam Untuk Aki
12. Asetokarmin * Masukkan 1,0 gram Karmin ke dalam 45 ml Asam Asetat glasial.* Tambahkan 55 ml air.* Panaskan selama 5 menit dengan refluks.* Setelah didinginkan kemudian saring. Zat Pewrna Untuk Inti Sel dan Kro-mosom ( Untuk Biologi )
13. Aseto Orsin v Larutkan 2,2 gram Orsin ke dalam 100 ml Asam Asetat glasial.v Pada pemakaian, encerkan 10 ml larutan ini dengan 12 ml air. Pewrna Kromo-som ( Untuk Biologi )
14. Aqua Regia Ø Campurkan satu bagian pekat dengan tiga bagian HCl pekat. Untuk Melarutkan Logam-Logam mulia
15. Barfoed Ø Campurkan 13,3 gram Tembaga (II) Asetat dan 2 ml AsamAsetat Glasial.Ø Tambahkan air hingga larutan menjadi 200 ml . Untuk Uji Gluko-sa
16. Benedict v Larutkan 173 gram Natrium Sitrat dan 100 gram dalam 800 ml air suling.v Larutkan 17,3 gram .5 dalam 150 ml air.v Tuangkan dengan perlahan larutan ke dalam larutan pertama sambil diaduk.v Encerkan dengan air sampai 1 liter. Reagensia Untuk Gula Yang Mempunyai Sifat Mereduksi
17. Biuret Ø Larutkan 0,75 gram .5 dalam 1 liter larutan NaOH 2 M. Reagensia Untuk urea Dan Protein
18. Brom fenol Biru Ø Timbang 0,1 gram Brom Fenol Biru, larutkan dalam 1,5 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 3,0 – 4,6Perubahan Warna : Kuning – Biru
19. Brom Kresol Hijau Ø Timbang 0,1 gram Brom Kresol Hijau, larutkan dalam 1,5 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 3,8 – 5,4Perubahan Warna : Kuning – Hijau
20. Brom Kresol Ungu Ø Timbang 0,1 gram Brom Kresol Ungu, larutkan dalam 1,9 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 5,2 – 6,8Perubahan Warna : Kuning – Hijau
21. Brom Timol Biru Ø Timbang 0,1 gram Brom Timol Biru, larutkan dalam 1,5 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 6,0 – 7,6Perubahan Warna : Kuning – Biru
22. Cermin Perak Ø (A) : Larutkan 12,5 gram dalam 100 ml air.Ø Larutkan pula 32,5 gram K-Na- Tartrat ( . 4 ) dalam 100 ml air.Ø Campur kedua larutan ini dan panaskan samapai 55 oC selama 5 menit.Ø Dinginkan dan pisahkan larutan dari endapannya dan encerkan sampai 200 ml.Ø (B) : Larutkan 1,5 gram dalam 12 ml air.Ø Teteskan ke dalam larutan ini Amonia encer, sehingga endapan yang terbentuk tepat larut dlagi.Ø Encerkan denganair sampai 200 ml . Ø Larutan (A) dicampur dengan Larutan (B).Ø Permukaan kaca dibersihkan untuk menghilangkan kotoran dan lemak yang mungkin melekat pada kaca.Ø Kaca dimasukkan dalam larutan secara terbalik, tepat di bawah permukaan larutan.Ø Untuk mempercepat terjadinya cermin, panaskan larutan dengan perlahan.Ø Larutan sisa dapat disimpan dalam botol yang bersih.Ø Pada bagian dalam botol akan terjadi lapisan cermin. Untuk Membuat Kaca Perak
23. Difenil Amina Ø Larutkan 0,5 gram Difenil amina dalam 100 ml Asam Sulfat pekat.Ø Tuangkan cairan ini ke dalam 20 ml air. *Reagensia Untuk Zat Pengoksidasi.*Indikator Redoks : Warna Bila Dioksidasi: Ungu,Warna Bila direduksi: Tidak Berwarna
24. Difenil Karbazon Ø Larutkan 1,0 gram Difenil Karbazon dalam 100 ml Etanol Reagensia Untuk Tes Merkuri
25. Dimetil Glioksin Ø Larutkan 0,12 gram Dimetil Glioksin dalam 100 ml Etanol Reagensia Untuk Tes Nikel
26. 2,2 – Dipyridil Ø Larutkan 1,172 gram 2,2 – Dipyridil dalam 100 ml air.Ø Tambahkan 0,695 kristal. Indikator Redoks: Warna Dioksidasai : Biru,Warna Direduksi: Merah
27. Eosin Ø Larutkan 1,0 gram eosin basa dalam 100 ml air.Ø Tambahkan sedikit Kloroform. Zat Pewarna Merah Untuk Jaringan Hidup ( Untuk Biologi)
28. Esbach Ø Larutkan 2 gram Asam Nitrat dan 1,0 gram Asam Pikrat dalam 100 ml air. Reagensia Untuk Albumin
29. Fehling Ø Fehling A : Larutkan 69,28 gram .5 dalam 1 liter air.Ø Fehling B : Larutkan 352 gram K-Na- Tartrat ( . 4 ) dan 154 gram NaOH dalam 1 liter air.Ø Pada pemakaian : Campur 5 ml Fehling A dan 5 ml Fehling B. Reagensia untuk Gula Yang Mempunyai Sifat Mereduksi.
30. 1, 10 – Fenantroline Hidrat Ø Larutkan 1,485 gram 1, 10 – Fenantro-line Hidrat dalam 100 ml air. Indikator Redoks: Warna Dioksidasai : Biru,Warna Direduksi: Merah
31. Fenolftalein Ø Larutkan 1 gram fenolftalein dalam 250 ml Alkohol ( Etanol).Ø Jadikan larutan menjadi 500 ml dengan menambahkan air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 8,4 – 10,0Perubahan Warna : Tdk berwarna-Merah – Ungu
32. Fenol Merah Ø Timbang 0,1 gram Fenol Merah, larutkan dalam 2,8 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 6,4 – 8,2Perubahan Warna : Kuning – Merah
33. Floroglusinol Ø Larutkan 3 gram Floroglusinol dalam 100 ml Alkohol. Reagensia Untuk Lignin ( Untuk Biologi )
34. Hager Ø Buatlah larutan jenuh Asam Pikrat ( 1,4 gram Asam Pikrat dalam 100 ml air ). Reagensia Untuk tes Alkaloid
35. Hematoksilin ( Ehrlich ) Ø Larutkan 2 gram Hematoksilin dalam 100 ml Alkohol.Ø Tambahkan 100 ml air , 100 ml Gliserol, 10 ml Asam Asetat Glasial, dan Kalium Aluminium Sulfat berlebihan.Ø Biarkan dalam botol terbuka di sinar matahari sampai berwarna merah tua. Reagensia Untuk Membedakan Bagian-Bagian dari Sel Dan Jaringan (Untuk Biologi)
36. Indikator Universal Yamada Ø Campurkan : 0, 25 gram Bromtimol Biru 0,025 gram Timol Biru 0,0625 gram Metil Merah 0,5000 gram FenolftaleinØ Larutkan campuran di atas dengan 500 ml Etanol.Ø Encerkan dengan air sehingga volumenya menjadi 1 liter. Indikator Asam-Basa. Trayek PH : 4 – 10. Perubahan warna:PH 4 MerahPH 5 JinggaPH 6 KuningPH 7 HijauPH 8 BiruPH 9 Biru TuaPH 10 Ungu
37. Kalium Pirogallat Ø Larutkan 50 gram KOH dalam 100 ml air.Ø Masukkan 5 gram Pirogallol ke dalam larutan ini. Adsorben Oksigen
38. Koloid Ø Masukkan 1,5 gram dalam 250 ml air.Ø Panaskan larutan sampai mendidih.Ø Saringlah setelah didinginkan.Ø Alirkan gas kedalam larutan ini sampai larutan berwarna kuning. Mengenal Sifat Koloid
39. Koloid Ø Panaskan 200 ml air samapai mendidih.Ø Tambahkan beberapa tetes larutan FeCl3 10 %. Mengenal Sifat Koloid
40. Lugol ( Yod ) Ø Biasanya Lugol dibuat dalam larutan Kalium Iodida (KI) , karena Iod sendiri sukar larut dalam air.Ø Larutkan 12,7 gram dan 20 gram KI dalam 100 ml air.Ø Larutan yang terjadi dibuat 1 liter dengan menambahkan air. Reagensia Untuk Uji Amilum
41. Magnesia Mixture Ø Larutkan 50 gram . 6 dan 70 gram NH4Cl dalam 400 ml air.Ø Tambahkan 100 ml Amonia 15 M.Ø Encerkan dengan air sampai 1 liter. Reagensia Untuk Tes Fosfat dan Arsenat
42. Metilen biru Ø Larutkan 1 gram Metilen Biru dalam 100 ml larutan 0,5 % NaCl. Pewarna Inti sel (Histologi)
43. Metil jingga Ø Larutkan 1 gram Metil Jinga dalam 500 ml Alkohol 95 %.Ø Jadikan larutan menjadi 1 liter dengan menambahkan air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH: 2,8 – 4,6.Perubahan warna:Merah – Kuning.
45. Metil Merah Ø Larutkan 1 gram Metil Merah dalam 500 ml Alkohol 95 %.Ø Jadikan larutan menjadi 1 liter dengan menambahkan air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH: 4,4 – 6,0.Perubahan warna:Merah – Kuning.
46. Millon Ø Larutkan 1 bagian Hg dalam 1 bagian HNO3 berasap dan dinginkan.Ø Encerkan dengan air sampai 2X volumenya.Ø Setelah beberapa jam, tuangkan larutan yang bening. Reagensia Untuk Albumin dan Fenol
47. Molish Ø Larutkan 5 gram Alfanaftol dalam 100 ml Alkohol atau Kloroform Tes Untuk wol dan Karbohidrat
48. Nessler Ø Larutkan 50 gram KI dalam 50 ml air dingin.Ø Buat larutan jenuh Raksa (II) klorida ( ± 22 gram HgCl2 dalam 350 ml air ).Ø Teteskan larutan jenuh Raksa (II) klorida ini ke dalam larutan KI, sehingga terjadi endapan.Ø Tambahkan 500 ml larutan NaOH 5 M dan encerkan dengan iar sampai volume 1 liter.Ø Saringlah, dan ambil larutan yang jernih.Ø Simpan dalam botol coklat. Reagensia Untuk Tes Amoniak
49. O – Diklorofenol Indofenol Ø Larutkan 0,1 gram O – Diklorofenol Indofenol dalam 100 ml air. Indikator Redoks: Warna Dioksidasai : Biru,Warna Direduksi: Merah
50. Ringer Ø Larutkan dalam 1 lite air ; 8,1 gram NaCl 0,74 gram KCl 0,22 gram anhidrous 0,20 gram . 6 0,33 gram 0,78 gram Ø Larutkan dalam 1 liter air ; 6,5 gram NaCl 0,12 gram . 6 0,14 gram KCl 0,20 gram Untuk Serangga Untuk Katale
51. Salin Isotonik Ø Larutkan 6,4 gram NaCl dalam 1 liter air. Untuk Jaringan Mamalia ( Untuk Biologi )
52. Sel daniel Ø (A) : Tuangkan dengan perlahan 80 ml pekat dalam 750 ml air.Ø Encerkan sampai 1 liter.Ø (B) : Buat larutan jenuh dengan melarutkan ± 400 gram .5 dalam 1 liter air dan tambahkan 2 ml pekat. Larutan Untuk Sel Daniel
53. Sel Laclanche Ø Larutkan 350 gram Amonium Klorida dalam air sampai 1 liter. Larutan Untuk Sel Laclache
54. Seliwanoff Ø Larutkan 0,5 gram Resorsinol ( Benzena 1,3diol ) dengan 1 liter Asam klorida 3 M.
55. Schweitzer Ø Larutkan 5 gram .5 dalam 100 ml air.Ø Didihkan larutan ini dan tambahkan larutan NaOH, sehingga tidak terjadi endapan lagi.Ø Saring dan cuci endapan sampai bersih sekali.Ø Larutkan endapan ini dalam sedikit mungkin larutan Amonia 4 M. Pelarut Selulosa
56. Schiff Ø Larutkan 0,5 gram Fuchsin dalam 500 ml air.Ø Lunturkan warna larutan dengan mengalirkan gas Belerang dioksida ke dalamnya.Ø Atau : Larutkan 0,5 gram fuchsin dalam 500 ml air kemudian tambahkan 9 gram Natrium Hidrogen Sulfit diikuti dengan 20 ml Asam Nitrat 2 M. Untuk Uji Aldehid
57. Timol Biru Ø Timbang 0,1 gram Timol Biru, larutkan dalam 2,2 ml larutan NaOH 0,1 M.Ø Encerkan dengan air sampai volume 100 ml. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 3,8 – 5,4Perubahan Warna : Merah – Kuning
58. Timolftalein Ø Timbang 0,04 gram Timolftalein, larutkan dalam 60 ml larutan Alkohol dan tambahkan 40 ml air. Indikator Asam-Basa. Trayek PH 9,3 – 10,4Perubahan Warna : Kuning – Merah
59. Tollens Ø Campurkan 50 ml larutan AgNO3 10 % dengan 50 ml larutan NaOH 10 %.Ø Teteskan ke dalam campuran ini larutan Amonia pekat, sehingga endapannya tepat larut. Reagensia Untuk Aldehid dan Gula Pereduksi.

Sumber : dari berbagai sumber

Pengetahuan Bahan Kimia

NO.

SIFAT-SIFAT BAHAN KIMIA

CONTOH BAHAN KIMIA

1. BERBAU KHAS Beberapa zat yang mempunyai bau khas antara lain:

  • Asam Asetat;
  • Alkohol, misalnya : Etanol ; C2 H5OH
  • Karbon tetraklorida;
  • Kloroform;
  • Eter, misalnya : Dimetil eter;
  • Amonia ;

2. MUDAH TERBAKAR Zat-zat kimia yang muah terbakar antara lain:

  • Asetaldehid (Etanal);
  • Aseton;
  • Benzena;
  • Etanol; C2 H5OH
  • Eter, misalnya : Dimetil eter;
  • Etil klorida;
  • Fosfor;
  • Karbon disulfida;
  • Metanol;
  • Natrium; Na
3. BERACUN Ada beberapa zat kimia yang bersifat racun keras, sehingga penyimpanan dan pemakaiannya harus mendapat perhatian khusus. Penyimpanan zat-zat ini harus di luar jangkauan siswa ( dalam lemari terkunci ). Zat-zat kimia yang bersifat racun keras antara lain:

  • Arsen trioksida;
  • Asam oksalat; H2C2O4 . 2 H2O

  • Kalium sianida; KCN
  • Kabon disulfida;
  • Kolkhisin;
  • Raksa; Hg
  • Raksa (I) nitrat;
  • Raksa (II) nitrat;
  • Raksa (I) klorida; HgCl

4. SENSITIF TERHADAP CAHAYA Zat-zat kimia tertentu bila terkena cahaya mudah terurai, sehingga penyimpanannya dilakukan dalam botol yang berwarna coklat atau biru-ungu.Beberapa zat kimia yang sensitif terhadap cahaya antara lain:

  • Perak nitrat; ( Harus disimpan dalam botol yang berwarna coklat).
  • Hidrogen peroksida; (Disimpan dalam botol coklat dan ruangan yang lembab / sejuk ).







5.

KOROSIF Ada zat-zat kimia yang mempunyai sifat Korosif , yaitu dapat merusak kulit, ubin, kayu, keramik, kertas, dll. Sehingga pengambilan zat ini atau membuat larutannya harus berhati-hati.Beberapa zat kimia yang bersifat korosif antara lain:

  • Asam asetat;
  • Asam Klorida;
  • Asam nitrat;
  • Asam sulfat;
  • Asam sitrat;
  • Fenol;
  • Kalium hidroksida;
  • Natrium hidroksida;
  • Amonium hidroksida;





6.

MUDAH BEREAKSI DENGAN UDARA Beberapa azat tertentu harus disimpan secara khusus.

  • Natrium, yang mudah teroksidasi oleh udara dan mudah bereaksi dengan air disimpan dalam botol yang berisi minyak tanah.
  • Fosfor, yang mudah terbakar di udara disimpan dalam botol yang berisi air.
  • Bubuk Besi dan . 6 yang mudah teroksidasi oleh udara disimpan dalam botol yang tertutup rapat.
  • Air Kapur dan Air Barit yang mudah bereaksi dengan gas dari udara tidak dapat disimpan lama dan biasanya dibuat baru bila diperlukan.







7.

HIGROSKOPIK Ada zat-zat kimia yang mempunyai sifat Higroskopis , yaitu :

  • Aluminium klorida;
  • Asam sulfat;
  • Bismut (III) klorida;
  • Bismut (III) nitrat;
  • Kadmium sulfat; . 2 2/3
  • Kalium sianida; KCN
  • Kalsium klorida;
  • Kobal (II) klorida; . 6
  • Krom (III) klorida ; . 6

  • Magnesium klorida ; . 6

  • Natrium hidroksida; NaOH

Sumber : dari berbagai sumber

Kimia Online

Silahkan nikmati pemahaman kimia melalui pembelajaran online yang disediakan oleh situs resmi kimia indonesia (Chem-is-try), silahkan klik disini

Proses Detergen mengangkat Kotoran.

SURFACTANTS IN DETERGENTS

A detergent is an effective cleaning product because it contains one or more surfactants. Because of their chemical makeup, the surfactants used in detergents can be engineered to perform well under a variety of conditions. Such surfactants are less sensitive than soap to the hardness minerals in water and most will not form a film.

Detergent surfactants were developed in response to a shortage of animal and vegetable fats and oils during World War I and World War II. In addition, a substance that was resistant to hard water was needed to make cleaning more effective. At that time, petroleum was found to be a plentiful source for the manufacture of these surfactants. Today, detergent surfactants are made from a variety of petrochemicals (derived from petroleum) and/or oleochemicals (derived from fats and oils).

Petrochemicals and Oleochemicals
Like the fatty acids used in soapmaking, both petroleum and fats and oils contain hydrocarbon chains that are repelled by water but attracted to oil and grease in soils. These hydrocarbon chain sources are used to make the water-hating end of the surfactant molecule.

Other Chemicals
Chemicals, such as sulfur trioxide, sulfuric acid and ethylene oxide, are used to produce the water-loving end of the surfactant molecule.

Alkalis
As in soapmaking, an alkali is used to make detergent surfactants. Sodium and potassium hydroxide are the most common alkalis.

How Detergent Surfactants Are Made

Anionic Surfactants
The chemical reacts with hydrocarbons derived from petroleum or fats and oils to produce new acids similar to fatty acids.

A second reaction adds an alkali to the new acids to produce one type of anionic surfactant molecule.

Nonionic Surfactants
Nonionic surfactant molecules are produced by first converting the hydrocarbon to an alcohol and then reacting the fatty alcohol with ethylene oxide.

These nonionic surfactants can be reacted further with sulfur-containing acids to form another type of anionic surfactant.

HOW SOAPS AND DETERGENTS WORK

These types of energy interact and should be in proper balance. Let’s look at how they work together.

Let’s assume we have oily, greasy soil on clothing. Water alone will not remove this soil. One important reason is that oil and grease present in soil repel the water molecules.

Now let’s add soap or detergent. The surfactant’s water-hating end is repelled by water but attracted to the oil in the soil. At the same time, the water-loving end is attracted to the water molecules.

These opposing forces loosen the soil and suspend it in the water. Warm or hot water helps dissolve grease and oil in soil. Washing machine agitation or hand rubbing helps pull the soil free.


Mau Tau Cara Kerja Sabun..?

To understand what is needed to achieve effective cleaning, it is helpful to have a basic knowledge of soap and detergent chemistry.

Water, the liquid commonly used for cleaning, has a property called surface tension. In the body of the water, each molecule is surrounded and attracted by other water molecules. However, at the surface, those molecules are surrounded by other water molecules only on the water side. A tension is created as the water molecules at the surface are pulled into the body of the water. This tension causes water to bead up on surfaces (glass, fabric), which slows wetting of the surface and inhibits the cleaning process. You can see surface tension at work by placing a drop of water onto a counter top. The drop will hold its shape and will not spread.

In the cleaning process, surface tension must be reduced so water can spread and wet surfaces. Chemicals that are able to do this effectively are called surface active agents, or surfactants. They are said to make water “wetter.”

Surfactants perform other important functions in cleaning, such as loosening, emulsifying (dispersing in water) and holding soil in suspension until it can be rinsed away. Surfactants can also provide alkalinity, which is useful in removing acidic soils.

Surfactants are classified by their ionic (electrical charge) properties in water: anionic (negative charge), nonionic (no charge), cationic (positive charge) and amphoteric (either positive or negative charge).

Soap is an anionic surfactant. Other anionic as well as nonionic surfactants are the main ingredients in today’s detergents. Now let’s look closer at the chemistry of surfactants.

SOAPS
Soaps are water-soluble sodium or potassium salts of fatty acids. Soaps are made from fats and oils, or their fatty acids, by treating them chemically with a strong alkali.

First let’s examine the composition of fats, oils and alkalis; then we’ll review the soapmaking process.

Fats and Oils

The fats and oils used in soapmaking come from animal or plant sources. Each fat or oil is made up of a distinctive mixture of several different triglycerides.

In a triglyceride molecule, three fatty acid molecules are attached to one molecule of glycerine. There are many types of triglycerides; each type consists of its own particular combination of fatty acids.

Fatty acids are the components of fats and oils that are used in making soap. They are weak acids composed of two parts:

A carboxylic acid group consisting of one hydrogen (H) atom, two oxygen (O) atoms, and one carbon (C) atom, plus a hydrocarbon chain attached to the carboxylic acid group. Generally, it is made up of a long straight chain of carbon (C) atoms each carrying two hydrogen (H) atoms.

Alkali

An alkali is a soluble salt of an alkali metal like sodium or potassium. Originally, the alkalis used in soapmaking were obtained from the ashes of plants, but they are now made commercially. Today, the term alkali describes a substance that chemically is a base (the opposite of an acid) and that reacts with and neutralizes an acid.

The common alkalis used in soapmaking are sodium hydroxide (NaOH), also called caustic soda; and potassium hydroxide (KOH), also called caustic potash.

How Soaps are Made

Saponification of fats and oils is the most widely used soapmaking process. This method involves heating fats and oils and reacting them with a liquid alkali to produce soap and water (neat soap) plus glycerine.

The other major soapmaking process is the neutralization of fatty acids with an alkali. Fats and oils are hydrolyzed (split) with a high-pressure steam to yield crude fatty acids and glycerine. The fatty acids are then purified by distillation and neutralized with an alkali to produce soap and water (neat soap).

When the alkali is sodium hydroxide, a sodium soap is formed. Sodium soaps are “hard” soaps. When the alkali is potassium hydroxide, a potassium soap is formed. Potassium soaps are softer and are found in some liquid hand soaps and shaving creams.

The carboxylate end of the soap molecule is attracted to water. It is called the hydrophilic (water-loving) end. The hydrocarbon chain is attracted to oil and grease and repelled by water. It is known as the hydrophobic (water-hating) end.

How Water Hardness Affects Cleaning Action

Although soap is a good cleaning agent, its effectiveness is reduced when used in hard water. Hardness in water is caused by the presence of mineral salts – mostly those of calcium (Ca) and magnesium (Mg), but sometimes also iron (Fe) and manganese (Mn). The mineral salts react with soap to form an insoluble precipitate known as soap film or scum.

Soap film does not rinse away easily. It tends to remain behind and produces visible deposits on clothing and makes fabrics feel stiff. It also attaches to the insides of bathtubs, sinks and washing machines.

Some soap is used up by reacting with hard water minerals to form the film. This reduces the amount of soap available for cleaning. Even when clothes are washed in soft water, some hardness minerals are introduced by the soil on clothes. Soap molecules are not very versatile and cannot be adapted to today’s variety of fibers, washing temperatures and water conditions.

mEMBUAT sABUN YUuuk..!!!

Making soap you can use

Science, level: Senior
Posted by Nigel Barker (nigel@eureka.lk).
Overseas School of Colombo, lk
Materials Required: Commercial caustic soda; get the kids to bring in used oil from home; salt (if required); essential oil or perfume (optional); safety goggles; beaker; glass rod; mould for setting soap
Activity Time: double lesson
Concepts Taught: Chemistry

Those textbook experiments are no good. Using this simple method you can make a real bar of soap. It’s
quite alkaline at first, so I warn my kids not to wash their face, but after a couple of weeks it becomes less
dangerous (and gets harder). Different oils give varying degrees of success, the best so far has been
coconut oil. You can use commercial caustic soda; no need to waste your NaOH. Get the kids to bring in
used oil from home.MAKING SOAP FROM OLD COOKING OIL

Introduction
This activity comes from the solution we found to an environmental problem at a school in Spain where I
used to work. The kitchens had two big deep fryers, which they emptied once a month to change the oil.
They were throwing 30 litres of oil a month into a drain which ran straight out to sea. So we began soap
making, using the recipe you will use today. The soap was used by the kitchen staff and in the science
labs for washing hands and dishes, and the cleaners dissolved it in buckets of water to mop the floors.
Some was also given to poor people for washing clothes.

WARNING !
The soap is fairly crude, and still contains sodium hydroxide at the end. It could therefore be dangerous if
you got it in your eyes. I would recommend it for washing clothes, the house, or your hands at the most,
NOT for your face !!

INGREDIENTS
125 cm3 of vegetable oil
100 cm3 of water
20 g of caustic soda (sodium hydroxide)
salt (if required)
essential oil or perfume (optional)

APPARATUS
safety goggles
beaker
glass rod
mould for setting soap
METHOD

Weigh out your caustic soda onto a folded piece of paper. DO NOT TOUCH IT.

Pour the oil and water into a big beaker and stir with a glass rod until you make an emulsion.

Carefully add the caustic soda, slowly and stirring all the time. DON’T TOUCH IT !

Keep stirring until a thick paste forms. This could take half an hour.

If you still don’t have a paste after half an hour, stir in 4 spatulas of salt.

Add essential oil or perfume if you want.

Pour into mould and leave to set for a few days.

Keep your fingers crossed !

asam basa

A CASE STUDY ABOUT TEACHER’S PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE INFLUENCING IN STUDENTS’ MENTAL MODELS IN ACIDS AND BASES

Jing-Wen Lin and Mei-Hung Chiu*

Graduate Institute of Science Education, National Taiwan Normal University
88, Sec 4, Ting-Chou Rd, Taipei, Taiwanmhchiuntnu.edu.tw


Abstract:

This study was part of a 6-year integrated project designed to build up a databank for students’ science conceptions in Taiwan. This study was based on our previous findings of the characteristic and sources of students’ mental models about acids and bases. In this paper we discuss the link between these mental models and the teacher’s pedagogical content knowledge. The authors adopted the naturalistic observation methods to observe a teacher’s pedagogical content knowledge in a ninth grader classroom. The findings showed that the teacher’s instruction nearly followed the teacher’s guide, but used a “spiral” method of teaching and emphasized rote learning. In addition, in teaching propositions, the teacher spent the most time supplementing the calculation of pH values, which was covered in previous edition of the textbook. Furthermore, the teacher overemphasized the specific properties of special strong acids, rather than general properties. In teaching representations, the teacher spent most time on elaborating textbook, giving examples and calculating pH values. Everyday experiences, TV media and teaching experiments were important sources of teacher’s examples. However, these sources were not based on students’ preconceptions of acid and base, therefore her teaching reinforced students’ incorrect understanding.



Framework and Problem:

Researchers in Taiwan conducted a 6-year National Science Learning Study to investigate Taiwanese students’ science understanding and the sources which influenced them. This study was part of this project. After national survey results were compiled, we took much effort to looking at teacher-student interactions, everyday languages, and representations in textbooks for inferring the causes of student conceptions. Our previous studies have analyzed the characteristics and sources of students’ mental models in acids and bases from the results of students’ two-tier diagnostic tests and interviews before and after the instruction. Results showed that most students held the Phenomenon Model, the Character-Symbol Model, the Inference Model or the Scientific Model. The detailed characteristics of these mental models are listed in Table 1. In addition, more students at the lowest achievement level held a “Phenomenon Model” or “Character-Symbol Model”. The sources which influenced them were diverse, including the TV media, everyday experiences, science experiments, intuition and superficial meanings of words in textbooks and classmates’ discussions. On the other hand, the students with the highest achievement were more likely to hold as “Inference Model” or “Scientific Model”, and they were mainly influenced by formal instruction (Chiu, Lin, & Liang, 2003; Lin, Chiu, & Liang, 2004). Finally, in this study, we discuss what teacher’s role was in influencing students’ science understanding in this study.

Table1 The characteristics of students’ mental models in acids and bases

Main models Characteristics
Phenomenon Model Students view acids and bases as substances with particular attributes. They use macroscopic characteristics such as toxic, corrosive, or strong flavor as criteria to determine the acidity or basicity of a solution.
Character-Symbol Model Students thought acids or bases are substances that contain specific chemicals. They use specific characters, symbols or names of functional groups to determine the characteristics of the acidity or basicity of a solution.
Inference Model Students hold some fragmentary scientific concepts about acids and bases, and use incorrect inference to link these fragments.
Scientific Model Arrhenius model. Acids are substances that produce hydrogen ions in solution.

Sources of Students’ Conceptions in Acids and Bases
It is well known that young learners held the Phenomenon Model, and think acids are substance with particular attributes (Oversby, 2000). Researchers claim that the source of influence for this is daily experience (Nakhleh & Krajcik, 1994; Oversby, 2000; Ross & Munby, 1991). But in our previous studies (Chiu et al., 2003; Lin et al., 2004), we found that the influence weight of everyday experience was minor. On the contrary, TV media (especially the TV news of someone splashed sulfuric acid/ hydrochloric acid) and school teaching experiment played the crucial roles. In addition, some studies indicated that students tended to use specific words or names to determine the acidity or basicity of a solution, but this can easily be changed by formal instruction (Chiu, 2000). However, our previous studies showed the representations of the Character-Symbol Model were with scientific and professional look, and inappropriate teaching could reinforce students to take the literal meaning of the characters, words or symbols (Lin et al., 2004).

Teacher’s Pedagogical Content Knowledge
Shulman (1986) first introduced the concept of pedagogical content knowledge (PCK) to acknowledge the importance of the transformation of subject-matter knowledge into “subject matter knowledge for teaching”. Two key elements of PCK are knowledge of understanding of specific learning difficulties as well as students preconceptions and representations of subject matter (van Driel, Verloop, & de Vos, 1998). In other words, effective teachers must be knowledgeable about common students’ preconceptions, and on the basis of these preconceptions design representations and learning experiences at the appropriate points which promote the students’ learning. Although studies about the relationship between PCK and students’ learning observed nonprofessional teachers offered inappropriate explanations and analogies which reinforced learners’ misconceptions (Hashweh, 1987; Tobin, Tippins, & Gallard, 1994). These studies argued that knowing and creating the representations of specific topics seems necessarily dependent upon having subject matter knowledge relative to the concepts (Magnusson, Borko, & Krajcik, 1998). However, few studies emphasized the connections between these two key elements of PCK. Accordingly, the main purpose of this study was, based on the findings of the characteristics and sources of students’ understanding about acids and bases, what are the teacher’s teaching representations. The detailed research questions were:
1. What were the differences between teacher’s teaching structure and the one which teacher’s guide for textbook suggested?
2. How did the teacher’s teaching time and frequency of propositions influence students’ science understanding?
3. How did the teacher’s teaching representations influence students’ science understanding?

Method and Subject:

The participants in this study included a science teacher, Mrs. Chen, and 38 ninth grade students in Taipei. The student data involved general data from both classes of students and detailed data from six target students (three were high achievement and three were low achievement). The authors used the two-tier diagnostic test for data from all students and interview data from the six target students before and after Mrs. Chen’s formal instruction. The data was used to conclude the characteristics and sources of students’ mental models about acids and bases (Chiu et al., 2003; Lin et al., 2004). Mrs. Chen, the science teacher, had six-years teaching experiences, and had graduated from applied chemistry department. At the beginning of her career, she had adopted a “constructivist teaching method” but soon found the students were habituated to “traditional teaching” from elementary school. Therefore, she determined that structured teaching could help most students to learn and to conquer their fear of science more efficiently. So she changed her teaching to a traditional method. The authors used the science teacher’s interview data before and after instruction, and classroom observations to link the relationship between the teacher’s PCK and students’ understanding of acids and bases.
The complete instruction of chapter 13, “electrolyte”, was videotaped from September to November in 2002, and the entire 15 classes were transcribed verbatim. Next, the topic of acids and bases (section 13-2, Figure 1B) was chosen as a focus and utilized the software program Event Recorder 7.0 (Berger, Walton, Jones, & Wurman, 1999) to record the sequence and time of the teacher’s teaching in propositions and representations (see appendix). The reliability of raters was 92%.

Findings:
Teaching structure
The teaching structure which teacher’s guide suggested is showed as Figure 1A. How did Mrs. Chen organize her teaching structure? She started her instruction with an experiment on electrolytes, then returned to review previous chapter. After summarizing the previous chapter, she introduced what “electrolyte” is. She told students that “electrolyte” is main topic of chemistry, and reciting again and again is the only trick to gain high scores. In sum, Mrs. Chen’s instruction almost followed the suggestion of teacher’s guide, but adopted the “spiral” method of teaching. She always started a new topic after reviewing or testing the topics taught before (Figure 1B). Both teaching time in total chapter and in the topic of “acids and bases”, Mrs. Chen spent twice the amount of time suggested in the teacher’s guide.

Figure_1 (PDF)

Portraying teacher’s teaching in acids and bases

The following is a systematic analysis of the teacher’s teaching propositions and representations (also see appendix).

1. The analysis of teaching proposition

Mrs. Chen totally spent 123.42 minutes to teach the topic of “acids and bases” (not including quizzes, experiments and indirect teaching about this topic). The way she introduced this topic was by inserting the Chinese denomination rules of acids, bases and salts in teaching the topic of “electrolyte”. For example, she told students that “Let’s draw a conclusion from these examples. If we see the Chinese name of unknown chemical with ” ” (implies acid) and nonmetallic substance, then it is acid.On the contrary, the Chinese name of something with ” “(implies hydroxyl) , it is base. I hope all of you could look at the Chinese name of unknown chemical and identify their acidity or basicity soon.” The total procedure which included spot checking students’ understanding took 6 minutes. After teaching Arrhenius’s ionization theory, Mrs. Chen adopted the definition of Arrhenius to teach the recognition of acids and bases as the last class of teaching this topic (10/29 afternoon). She spent a total of 125 seconds on this (see appendix). In our previous study, the formal instruction weight which leads to the Character-Symbol Model was 25% to 75% after Mrs. Chen’s instruction (Lin et al., 2004). Overemphasizing the Chinese denomination rules of acids, bases and salts and ignoring the definition of Arrhenius lead to the Character-Symbol Model, which students thought acids or bases are substances that contain specific chemicals.

As far as the time of proposition was concerned, Mrs. Chen took the most time supplementing calculations of pH value (including logarithm) and the pH value change when diluting acids or bases (see Figure 2A). These propositions were involved in previous edition of textbook, but the teacher urged students to study for succeeding in subsequent leaning in senior high school. Other propositions which Mrs. Chen spent more time were “properties of acids”, “properties of bases”, and “the acidity or basicity of something specific”. Although the teacher’s guide suggested introducing acids and bases moving from general properties to specific cases, the teacher paid more attention to a few important acids and bases, especially to acids. In the properties of acids, she elaborated most on the dangers of hydrochloric acid (8/11) by extending the textbook content. For the “properties of bases”, she elaborated most on Ca(OH)2 (6/13) stressing adding water to lime to create an exothermic reaction and the difference and transform between lime (Ca(OH)2 and marble (CaCO3). The teaching representations she adopted including elaborating on the textbook and giving examples from TV. With regard to “the acidity or basicity of something specific”, Mrs. Chen paid the most attention to “salt solution” and “blood”. She liked to give examples such as these then asked students to memorize the acidity or basicity of these specific cases.

Most students held a Phenomenon Model before they came to the classroom. They thought acids were substances with particular attributes and macroscopic characteristics, such as taste sour, strong smell, danger. Students who held this model had usually been affected by daily experiences and TV. The TV news passed on the information of corrosive of sulfuric acid and hydrochloric acid. Instead of noticing this case, Mrs. Chen paid more attention to specific acids and reinforced the dangerous of these specific strong acids. In our previous study, formal instruction weight of the Phenomenon Model was 17% to 50% after Mrs. Chen’s instruction. Students’ interview data supported this finding. For instance, the student, Shin considered the acidity of 1M HCl is stronger than the one of 1M H2SO4. She said: “It [hydrochloric acid] is dangerous, the teacher [Mrs. Chen] always asks us for wearing masks and gloves when doing HCl experiments, so the acidity of HCl is stronger than H2SO4 .

2. The teaching representations
(1) Overview of teaching representations
How did Mrs. Chen employ teaching representations to promote students’ learning? Due to her belief that chemistry is a subject with a special emphasis on memory, she spent most of her time on elaborating on the textbook, giving examples and calculating of pH values (including logarithm) (Figure 2B). Moreover, when giving examples, she liked to cite instances from daily life, except concrete (students asked its constituents) and milk (related to emergencies), all examples transmitted the information about the dangers and toxicity of acids and bases.

(A ) the ration and time of teaching proposition(PDF) (B ) the ration and time of teaching representations (PDF)

Figure 2. The ration and time of teaching proposition and teaching representations

(2) The sources of teacher’s examples
In our previous studies, we coded the sources which influence students’ mental models as formal instruction, outside school teaching, social environment, everyday experience as well as intuition and found that different mental models were related to different sources (Chiu et al., 2003; Lin et al., 2004). Since giving examples was the most important teaching representations Mrs. Chen adopted, we were curious about the sources of her teaching examples. Did Mrs. Chen generate examples based on students’ preconceptions?

In Figure 3, one half of teacher’s examples were related to everyday experience (including mercurochrome, gentian violet, hydrochloric acid, sodium bicarbonate, ammonia, urine, bee venom, concrete, betel nuts and milk). Others were related to previous instruction (20%) and social environment (20%). With regard to previous instruction, the teacher stated the experimental apparatus, procedures and chemical equation of the HCl fountain. She also reminded the students that salt water was not basic by mentioning a past experience of directing seventh grader’s science fair. In the case of social environment, the teacher mainly cited the instances of adding water to lime to release heat in “NHK” and the cartoon -“Detective Conan”. She also mentioned the advertisement of losing weight to explain how a base could dissolve fat, as well as the HCl fountain shown on the Discovery Channel. When we explored the time distribution of teacher’s examples deeply, we found that the teacher spent most of the time on experiment guidance (44%). She chiefly articulated HCl dissolved in water easily, and introduced variety methods to collect gases. These concepts were related to previous examinations, so Mrs. Chen spent lots time to instruct.

Figure 3. The analysis of ratio and time distribution about sources of examples (PDF)

Conclusion and Implication

Summing up the results in this study, follows are our conclusions and implications

1. Teaching from principle to examples, general to specific

Mrs. Chen adopted two main strategies for teaching acids and bases. One was teaching students the acidity or basicity of specific chemicals rather than teaching the general properties of all acids and bases. The second was teaching students the Chinese denomination rules for acids, bases and salts to judge the acidity or basicity of a solution rather than explaining Arrhenius’s theory. These two strategies were effective for the high achievement students and the average achievement student quick answer correctly on the quiz. However, these led to more incorrect connections of fragmentary science conceptions for the students with low achievement (Chiu et al., 2003; Lin et al., 2004). Therefore, we highly recommend the teaching structure suggested in the teacher’s guide which included starting with Arrhenius’s “ionization theory” before examples and teaching general properties before specifics.

2. To pay attention to experiment teaching

The authors found that Mrs. Chen spent most of her time introducing hydrochloric acid and used many examples of its corrosiveness. To remind students to use HCl and H2SO4 carefully is correct and good for safety of laboratory, however, the teacher was unaware that her teaching representations strengthened the use of students’ “Phenomenon Model” (Chiu et al., 2003; Lin et al., 2004). For this reason, teachers should not only remind students of these strong acids’ toxicity, corrosiveness and strong flavor, but also give examples of weak acids and weak bases. Teachers should also explain clearly that the corrosiveness is not equal to the acidity or basicity of solutions, thus avoiding students misunderstanding the concepts of acids and bases.

3. Starting from students’ prior knowledge

No matter the source of students’ Phenomenon Model or teacher’s examples, TV played the crucial role in reinforcing them. As for the students, they referred to seeing someone splashed sulfuric acid at school entrance on the TV news, and the dread became their criterion for identifying the strength of solution’s acidity (Chiu et al., 2003; Lin et al., 2004). As for Mrs. Chen, she used many examples of experimental procedures and facts from TV to help students memorize facts and arouse their learning interests. However, the teacher ignored to base students’ prior knowledge to design teaching representations for changing students’ Phenomenon Model. In this case the teacher could have used the example of someone splashing sulfuric acid from the TV news, and correct students’ Phenomenon Model by this chance. In other words, we recommend that the design of teacher’s teaching representation should start from students’ prior knowledge.

Acknowledgment:

The authors would like to acknowledge National Science Council in Taiwan for its financial support for completing this study (grants # NSC 92-2552-S-003-010, NSC 93-2511-S-003-040).

Reference:

Berger, C., Walton, C., Jones, T., & Wurman, P. (1999). The Event Recorder (Version 7.0). Ann Arbor, MI: The University of Michigan.

Chiu, H. W. (2000). Employing concept map to explore ninth graders’ concepts learning in acids and bases. Unpublished master thesis, National Taipei Teachers’ College, Taipei. (In Chinese)

Chiu, M. H., Lin, J. W., & Liang, J. C. (2003, December 16-18). An Exploratory Study on Causes of Students’ Misconceptions in Acids and Bases. Paper presented at the International Conference on Science & Mathematics Learning, Taipei , Taiwan , R.O.C.

Hashweh, M. Z. (1987). Effects of subject matter knowledge in the teaching of biology and physics. Teaching and Teacher Education, 3, 109-120.

Lin, J. W., Chiu, M. H., & Liang, J. C. (2004, March, 31-April, 3). Exploring Mental Models and Causes of Students’ Misconceptions in Acids and Bases. Paper presented at the NARST 2004, Vancouver, Canada.

Magnusson, S., Borko, H., & Krajcik, J. (1998). Nature, sources, and development of pedagogical content knowledge for science teaching. In J. Gess-Newsome & N. Lederman (Eds.), Knowledge for Science Teaching: US, Kluwer.

Nakhleh, M. B., & Krajcik, J. S. (1994). Influence on levels of information as presented by different technologies on students’ understanding of acid, base, and pH concepts. Journal of Research in Science Teaching, 31(10), 1077-1096.

Oversby, J. (2000). Models in explanations of chemistry: The case of acidity. In J. K. Gilbert & C. J. Boulter (Eds.), Developing Models in Science Education. Dordrecht/Boston/London: Kluwer academic publishers.

Ross, B., & Munby, H. (1991). Concept mapping and misconceptions: a study of high school students’ understandings of acids and bases. International Journal of Science Education, 13, 11-23.

Shulman, L. S. (1986). Those who understand: Knowledge growth in teaching. Educational Researcher, 15, 4-14.

Tobin, K., Tippins, D. J., & Gallard, A. J. (1994). Research on instructional strategies for teaching science. In D. L. Gabel (Ed.), Handbook of Research on Science Teaching and Learning. New York, Macmillan.

van Driel, J. H., Verloop, N., & de Vos, W. (1998). Developing science teachcers’ pedagogical content knowledge. Journal of Research in Science Teaching, 35(6), 673-695.

Appendix: Total time sequences of teaching propositions and representations (PDF)


TOP __Header

CEJ Vol. 9. No2. Contents

Gelatin

I. Pendahuluan

Dalam memproduksi atau membuat makanan banyak bahan-bahan tambahan yang digunakan untuk meningkatkan mutu makanan tersebut, baik dari segi rasa, tekstur, maupun warna. Contoh bahan tambahan itu antara lain Monosodium Glutamat (MSG), zat pewarna, gelatin, dan lain sebagainya. Zat-zat tambahan tersebut ada yang diperoleh secara alami, contohnya zat pewarna dari daun pandan, dan ada pula yang diperoleh
melalui proses kimia terlebih dahulu, contohnya MSG.

Untuk zat tambahan yang bersifat alami mungkin dampak negatifnya tidak begitu banyak. Yang dilihat dari zat tambahan alami ini biasanya hanyalah halal atau tidaknya sumber zat tersebut. Sedangkan yang melalui proses kimia terlebih dahulu mempunyai dampak negatif lebih banyak dan perlu dosis/takaran penggunaan maksimalnya.

Tapi ada pula zat tambahan yang sumbernya alami yang melalui proses kimia terlebih dahulu. Contohnya gelatin. Gelatin bersumber dari tulang hewan yang diproses dengan larutan kimia hingga larutan tersebut mengental dan mengandung gelatin. Gelatin sebenarnya mempunyai banyak manfaat dan kegunaan. Oleh karena itu, pada makalah kali ini penulis akan memaparkan tentang apa itu gelatin, sumber, dan kegunaannya.

II. Tinjauan Pustaka

A. Penjelasan Objek

Gelatin adalah suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen kulit, tulang atau ligamen (jaringan ikat) hewan. Pembuatan gelatin merupakan upaya untuk mendayagunakan limbah tulang yang biasanya tidak terpakai dan dibuang di rumah pemotongan hewan. Penggunaan gelatin dalam industri pangan terutama ditujukan untuk
mengatasi permasalahan yang timbul khususnya dalam penganekaragaman produk.

B. Sumber dan ciri-ciri gelatin

Pada prinsipnya gelatin dapat dibuat dari bahan yang kaya akan kolagen seperti kulit dan tulang baik dari babi maupun sapi atau hewan lainnya. Akan tetapi, apabila dibuat dari kulit dan tulang sapi atau hewan besar lainnya, prosesnya lebih lama dan memerlukan air
pencuci/penetral (bahan kimia) yang lebih banyak, sehingga kurang berkembang karena perlu investasi besar sehingga harga gelatinnya menjadi lebih mahal. Sedangkan gelatin dari babi jauh lebih murah dibanding bahan tambahan makanan lainnya. Itu karena babi mudah diternak. Babi dapat makan apa saja termasuk anaknya sendiri. Babi juga bisa hidup dalam kondisi apa saja sekalipun sangat kotor. Dari segi pertumbuhan, babi cukup
menjanjikan. Seekor babi bisa melahirkan dua puluh anak sekaligus. Karena sangat mudah dikembangkan, produk turunan dari babi sangat banyak. (www.republika. co.id/infohalal)

Berdasarkan sifat bahan dasarnya pembuatan gelatin dapat dikategorikan dalam 2 prinsip dasar yaitu cara alkali dan asam

1. Cara alkali dilakukan untuk menghasilkan gelatin tipe B (Base), yaitu bahan dasarnya dari kulit tua (keras dan liat) maupun tulang. Mula-mula bahan diperlakukan dengan proses pendahuluan yaitu direndam beberapa minggu/bulan dalam kalsium hidroksida, maka dengan ini ikatan jaringan kolagen akan mengembang dan terpisah/terurai. Setelah itu bahan dinetralkan dengan asam sampai bebas alkali, dicuci untuk menghilangkan garam yang terbentuk. Setelah itu dilakukan proses ekstrasi dan proses lainnya.


2. Cara kedua yaitu dengan cara pengasaman, yaitu untuk menghasilkan gelatin tipe A (Acid). Tipe A ini umumnya diperoleh dari kulit babi, tapi ada juga beberapa pabrik yang menggunakan bahan dasar tulang. Kulit dari babi muda tidak memerlukan penanganan alkalis yang intensif karena jaringan ikatnya belum kuat terikat. Untuk itu disini cukup direndam dalam asam lemah (encer) (HCl) selama sehari, dinetralkan, dan setelah itu dicuci berulang kali sampai asam dan garamnya hilang.

Penggunaan gelatin sangatlah luas dikarenakan gelatin bersifat serba bisa, yaitu bisa berfungsi sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier) , pengikat, pengendap, pemerkaya gizi, sifatnya juga luwes yaitu dapat membentuk lapisan tipis yang elastis, membentuk film yang transparan dan kuat, kemudian sifat penting lainnya yaitu daya
cernanya yang tinggi.

C. Manfaat gelatin dan jenis-jenis produk yang menggunakannya

Gelatin sangat penting dalam rangka diversifikasi bahan makanan, karena nilai gizinya yang tinggi yaitu terutama akan tingginya kadar protein khususnya asam amino dan rendahnya kadar lemak. Gelatin kering mengandung kira-kira 84 – 86 % protein, 8 – 12 % air dan 2 – 4 % mineral. Dari 10 asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin
mengandung 9 asam amino essensial, satu asam amino essensial yang hampir tidak terkandung dalam gelatin yaitu triptofan.

Fungsi-fungsi gelatin dalam berbagai contoh jenis produk yang biasa menggunakannya antara lain :

1. Jenis produk pangan secara umum: berfungsi sebagai zat pengental, penggumpal, membuat produk menjadi elastis, pengemulsi, penstabil, pembentuk busa, pengikat air, pelapis tipis, pemerkaya gizi.
2. Jenis produk daging olahan: berfungsi untuk meningkatkan daya ikat air, konsistensi dan stabilitas produk sosis, kornet, ham, dll.
3. Jenis produk susu olahan: berfungsi untuk memperbaiki tekstur, konsistensi dan stabilitas produk dan menghindari sineresis pada yoghurt, es krim, susu asam, keju cottage, dll.
4. Jenis produk bakery: berfungsi untuk menjaga kelembaban produk, sebagai perekat bahan pengisi pada roti-rotian, dll
5. Jenis produk minuman: berfungsi sebagai penjernih sari buah (juice), bir dan wine.
6. Jenis produk buah-buahan: berfungsi sebagai pelapis (melapisi pori-pori buah sehingga terhindar dari kekeringan dan kerusakan oleh mikroba) untuk menjaga kesegaran dan keawetan buah.
7. Jenis produk permen dan produk sejenisnya: berfungsi untuk mengatur konsistensi produk, mengatur daya gigit dan kekerasan serta tekstur produk, mengatur kelembutan dan daya lengket di mulut. (www.indohalal. com)

Gelatin juga banyak digunakan oleh Industri farmasi, kosmetik, fotografi, jelly, soft candy, cake, pudding, susu yoghurt, film fotografi, pelapis kertas, tinta inkjet, korek api, gabus, pelapis kayu untuk interior, karet plastik, semen, kosmetika adalah contoh-contoh produk industri yang menggunakan gelatin.

Penghias kue pada umumnya terbuat dari gum paste juga plastic icing yang mengandung gelatin. Gelatin juga tak hanya terdapat dalam gum paste sebagai penghias kue. Namun juga terdapat dalam kue puding, sirup, maupun permen kenyal. Kebanyakan merupakan produk impor. Bahkan untuk menawarkan kekentalan yang lebih tinggi produsen kecap
menggunakan gelatin.

Sedangkan di bidang farmasi, gelatin digunakan sebagai cangkang kapsul. Di Indonesia, kapsul yang beredar adalah kapsul jenis hard. Kapsul ini terbuat dari gelatin, pewarna, pengawet serta pelentur. Menurut informasi yang berasal dari Badan POM gelatin yang masuk ke Indonesia bahannya berasal dari organ sapi. (infohalal Republika)

D. Keadaan kandungan gelatin dalam industri di Indonesia

Untuk keperluan industri dalam negeri Indonesia setiap tahun mengimpor gelatin dalam jumlah yang cukup banyak. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa pada tahun 2000, Indonesia mengimport gelatin 3.092 ton dari Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Brasil, Korea, Cina dan Jepang. (www.iptekda. lipi.go.id) Menurut Nur Wahid, anggota LPPOM MUI, seratus persen gelatin di Indonesia merupakan produk impor. Di luar negeri, sebanyak 70 persen gelatin terbuat dari kulit babi. (www.republika. co.id) Karena itu, sebagai seorang muslim, kita harus waspada terhadap produk-produk yang mengandung gelatin seperti permen, kue tart, kosmetika, bahkan cangkang kapsul. Terlebih lagi jika
produk-produk tersebut adalah produk impor. Tapi, menurut informasi yang berasal dari Badan POM, gelatin yang masuk ke Indonesia berasal dari organ sapi.

Berdasarkan data dari indohalal.com, gelatin yang sudah mendapat sertifikasi halal dari LPPOM MUI yaitu Hard Gelatin Capsul Indonesia yang diproduksi oleh PT. Universal Capsules Indonesia, KCPL-Gelatin Produksi Kerala Chemical & Proteins Ltd., dan Halagel TM ( Edible Gelatin, pharmaceutical gelatin,di-calcium phosphat) yang diproduksi oleh Halagel (M) Sdn.Bhd

III. Penutup

A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa gelatin merupakan protein yang diekstraksi dari jaringan kulit hewan yang mempunyai banyak fungsi diantaranya berfungsi sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier) , pengikat, pengendap dan pemerkaya gizi, dll.

B. Saran
Dalam mengkonsumsi bahan makanan, hendaknya kita memperhatikan terlebih dahulu apakah produk tersebut adalah produk impor atau tidak. Karena di luar negeri 70 % gelatin berasal dari organ babi. Sedangkan jika produk tersebut adalah produk dalam negeri yang mengandung gelatin, berdasarkan info dari Badan POM, seratus persen berasal dari luar negeri yang bahannya berasal dari organ sapi. Jadi cukup aman untuk dikonsumsi. Tapi pertanyaan lain muncul. Apakah sapi tersebut disembelih atas nama Allah? Wallahua値 am. Dan ini merupakan batu ujian bagi umat Islam apakah mereka tergerak untuk membuat terobosan agar barang yang haram itu tergantikan.

SPU kelas X

SISTEM PERIODIK UNSUR-UNSUR

1). Pengelompokan atas dasar Logam dan Non Logam

v Dikemukakan oleh Lavoisier

v Pengelompokan ini masih sangat sederhana, sebab antara unsur-unsur logam sendiri masih terdapat banyak perbedaan.

2). Hukum Triade Dobereiner

Ø Dikemukakan oleh Johan Wolfgang Dobereiner (Jerman).

Ø Unsur-unsur dikelompokkan ke dalam kelompok tiga unsur yang disebut Triade.

Ø Dasarnya : kemiripan sifat fisika dan kimia dari unsur-unsur tersebut.

Jenis Triade :

  1. Triade Litium (Li), Natrium (Na) dan Kalium (K)

Unsur

Massa Atom

Wujud

Li

6,94

Padat

Na

22,99

Padat

K

39,10

Padat

Massa Atom Na (Ar Na) = = 23,02

  1. Triade Kalsium (Ca), Stronsium (Sr) dan Barium (Ba)
  2. Triade Klor (Cl), Brom (Br) dan Iod (I)

3). Hukum Oktaf Newlands

v Dikemukakan oleh John Newlands (Inggris).

v Unsur-unsur dikelompokkan berdasarkan kenaikan massa atom relatifnya (Ar).

v Unsur ke-8 memiliki sifat kimia mirip dengan unsur pertama; unsur ke-9 memiliki sifat yang mirip dengan unsur ke-2 dst.

v Sifat-sifat unsur yang ditemukan berkala atau periodik setelah 8 unsur disebut Hukum Oktaf.

H

Li

Be

B

C

N

O

F

Na

Mg

Al

Si

P

S

Cl

K

Ca

Cr

Ti

Mn

Fe

Berdasarkan Daftar Oktaf Newlands di atas; unsur H, F dan Cl mempunyai kemiripan sifat.

4). Sistem Periodik Mendeleev (Sistem Periodik Pendek)

ü Dua ahli kimia, Lothar Meyer (Jerman) dan Dmitri Ivanovich Mendeleev (Rusia) berdasarkan pada prinsip dari Newlands, melakukan penggolongan unsur.

ü Lothar Meyer lebih mengutamakan sifat-sifat kimia unsur sedangkan Mendeleev lebih mengutamakan kenaikan massa atom.

ü Menurut Mendeleev : sifat-sifat unsur adalah fungsi periodik dari massa atom relatifnya. Artinya : jika unsur-unsur disusun menurut kenaikan massa atom relatifnya, maka sifat tertentu akan berulang secara periodik.

ü Unsur-unsur yang memiliki sifat-sifat serupa ditempatkan pada satu lajur tegak, disebut Golongan.

ü Sedangkan lajur horizontal, untuk unsur-unsur berdasarkan pada kenaikan massa atom relatifnya dan disebut Periode.

5). Sistem Periodik Modern (Sistem Periodik Panjang)

· Dikemukakan oleh Henry G Moseley, yang berpendapat bahwa sifat-sifat unsur merupakan fungsi periodik dari nomor atomnya.

· Artinya : sifat dasar suatu unsur ditentukan oleh nomor atomnya bukan oleh massa atom relatifnya (Ar).

B. PERIODE DAN GOLONGAN DALAM SPU MODERN

1). Periode

  • Adalah lajur-lajur horizontal pada tabel periodik.
  • SPU Modern terdiri atas 7 periode. Tiap-tiap periode menyatakan jumlah/banyaknya kulit atom unsur-unsur yang menempati periode-periode tersebut.

Nomor Periode = Jumlah Kulit Atom


Jadi :

  • Jumlah unsur pada setiap periode :

Periode

Jumlah Unsur

Nomor Atom ( Z )

1

2

1 – 2

2

8

3 – 10

3

8

11 – 18

4

18

19 – 36

5

18

37 – 54

6

32

55 – 86

7

32

87 – 118

Catatan :

a) Periode 1, 2 dan 3 disebut periode pendek karena berisi relatif sedikit unsur

b) Periode 4 dan seterusnya disebut periode panjang

c) Periode 7 disebut periode belum lengkap karena belum sampai ke golongan VIII A.

d) Untuk mengetahui nomor periode suatu unsur berdasarkan nomor atomnya, Anda hanya perlu mengetahui nomor atom unsur yang memulai setiap periode

  • Unsur-unsur yang memiliki 1 kulit (kulit K saja) terletak pada periode 1 (baris 1), unsur-unsur yang memiliki 2 kulit (kulit K dan L) terletak pada periode ke-2 dst.

Contoh :

9F : 2 , 7 periode ke-2

12Mg : 2 , 8 , 2 periode ke-3

31Ga : 2 , 8 , 18 , 3 periode ke-4

2). Golongan

ü Sistem periodik terdiri atas 18 kolom vertikal yang disebut golongan

ü Ada 2 cara penamaan golongan :

a) Sistem 8 golongan

Menurut cara ini, sistem periodik dibagi menjadi 8 golongan yaitu golongan utama (golongan A) dan 8 golongan transisi (golongan B).

b) Sistem 18 golongan

Menurut cara ini, sistem periodik dibagi menjadi 18 golongan yaitu golongan 1 sampai 18, dimulai dari kolom paling kiri.

ü Unsur-unsur yang mempunyai elektron valensi sama ditempatkan pada golongan yang sama.

ü Untuk unsur-unsur golongan A sesuai dengan letaknya dalam sistem periodik :

Nomor Golongan = Jumlah Elektron Valensi

ü Unsur-unsur golongan A mempunyai nama lain yaitu :

a. Golongan IA = golongan Alkali

b. Golongan IIA = golongan Alkali Tanah

c. Golongan IIIA = golongan Boron

d. Golongan IVA = golongan Karbon

e. Golongan VA = golongan Nitrogen

f. Golongan VIA = golongan Oksigen

g. Golongan VIIA = golongan Halida / Halogen

h. Golongan VIIIA = golongan Gas Mulia

C. SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR

Meliputi :

1). Jari-Jari Atom

Ø Adalah jarak dari inti atom sampai ke elektron di kulit terluar.

Ø Besarnya jari-jari atom dipengaruhi oleh besarnya nomor atom unsur tersebut.

Ø Semakin besar nomor atom unsur-unsur segolongan, semakin banyak pula jumlah kulit elektronnya, sehingga semakin besar pula jari-jari atomnya.

Jadi : dalam satu golongan (dari atas ke bawah), jari-jari atomnya semakin besar.

Ø Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), nomor atomnya bertambah yang berarti semakin bertambahnya muatan inti, sedangkan jumlah kulit elektronnya tetap. Akibatnya tarikan inti terhadap elektron terluar makin besar pula, sehingga menyebabkan semakin kecilnya jari-jari atom.

Jadi : dalam satu periode (dari kiri ke kanan), jari-jari atomnya semakin kecil.

2). Jari-Jari Ion

v Ion mempunyai jari-jari yang berbeda secara nyata (signifikan) jika dibandingkan dengan jari-jari atom netralnya.

v Ion bermuatan positif (kation) mempunyai jari-jari yang lebih kecil, sedangkan ion bermuatan negatif (anion) mempunyai jari-jari yang lebih besar jika dibandingkan dengan jari-jari atom netralnya.

3). Energi Ionisasi ( satuannya = kJ.mol-1 )

ü Adalah energi minimum yang diperlukan atom netral dalam wujud gas untuk melepaskan satu elektron sehingga membentuk ion bermuatan +1 (kation).

ü Jika atom tersebut melepaskan elektronnya yang ke-2 maka akan diperlukan energi yang lebih besar (disebut energi ionisasi kedua), dst.

EI 1<>

ü Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), EI semakin kecil karena jari-jari atom bertambah sehingga gaya tarik inti terhadap elektron terluar semakin kecil. Akibatnya elektron terluar semakin mudah untuk dilepaskan.

ü Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), EI semakin besar karena jari-jari atom semakin kecil sehingga gaya tarik inti terhadap elektron terluar semakin besar/kuat. Akibatnya elektron terluar semakin sulit untuk dilepaskan.

4). Afinitas Elektron ( satuannya = kJ.mol-1 )

o Adalah energi yang dilepaskan atau diserap oleh atom netral dalam wujud gas apabila menerima sebuah elektron untuk membentuk ion negatif (anion).

o Semakin negatif harga afinitas elektron, semakin mudah atom tersebut menerima/menarik elektron dan semakin reaktif pula unsurnya.

o Afinitas elektron bukanlah kebalikan dari energi ionisasi.

o Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), harga afinitas elektronnya semakin kecil.

o Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), harga afinitas elektronnya semakin besar.

o Unsur golongan utama memiliki afinitas elektron bertanda negatif, kecuali golongan IIA dan VIIIA.

o Afinitas elektron terbesar dimiliki golongan VIIA.

5). Keelektronegatifan

· Adalah kemampuan suatu unsur untuk menarik elektron dalam molekul suatu senyawa (dalam ikatannya).

· Diukur dengan menggunakan skala Pauling yang besarnya antara 0,7 (keelektronegatifan Cs) sampai 4 (keelektronegatifan F).

· Unsur yang mempunyai harga keelektronegatifan besar, cenderung menerima elektron dan akan membentuk ion negatif.

· Unsur yang mempunyai harga keelektronegatifan kecil, cenderung melepaskan elektron dan akan membentuk ion positif.

· Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), harga keelektronegatifan semakin kecil.

· Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), harga keelektronegatifan semakin besar.

6). Sifat Logam dan Non Logam

o Sifat logam dikaitkan dengan keelektropositifan, yaitu kecenderungan atom untuk melepaskan elektron membentuk kation.

o Sifat logam bergantung pada besarnya energi ionisasi ( EI ).

o Makin besar harga EI, makin sulit bagi atom untuk melepaskan elektron dan makin berkurang sifat logamnya.

o Sifat non logam dikaitkan dengan keelektronegatifan, yaitu kecenderungan atom untuk menarik elektron.

o Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), sifat logam berkurang sedangkan sifat non logam bertambah.

o Dalam satu golongan (dari atas ke bawah), sifat logam bertambah sedangkan sifat non logam berkurang.

o Unsur logam terletak pada bagian kiri-bawah dalam sistem periodik unsur, sedangkan unsur non logam terletak pada bagian kanan-atas.

o Unsur yang paling bersifat non logam adalah unsur-unsur yang terletak pada golongan VIIA, bukan golongan VIIIA.

o Unsur-unsur yang terletak pada daerah peralihan antara unsur logam dengan non logam disebut unsur Metaloid ( = unsur yang mempunyai sifat logam dan sekaligus non logam ). Misalnya : boron dan silikon

7). Kereaktifan

§ Kereaktifan bergantung pada kecenderungan unsur untuk melepas atau menarik elektron.

§ Unsur logam yang paling reaktif adalah golongan IA (logam alkali).

§ Unsur non logam yang paling reaktif adalah golongan VIIA (halogen).

§ Dalam satu periode (dari kiri ke kanan), mula-mula kereaktifan menurun, kemudian semakin bertambah hingga golongan VIIA.

§ Golongan VIIIA merupakan unsur yang paling tidak reaktif.