STRUKTUR ATOM dan SISTEM PERIODIK

STRUKTUR ATOM DAN SIFAT PERIODIK UNSUR

I. STRUKTUR ATOM

  1. Partikel Penyusun Atom

Inti atom (nukleon) proton

Atom netron

Kulit atom elektron

Partikel atom tersebut bisa dibedakan menjadi :

Partikel

Penemu

Lambang

Muatan

Massa(sma)

Proton

Netron

Elektron

Goldstein

Chadwick

Thompson

: p

; n

; e

+ 1

O

-1

1

1

0

B. Nomor atom dan nomor massa

Lambang nuklida ditulis dengan :

A

X

Z

A = no massa, sehingga untuk mencari jumlah

= jml p + jml n neutron :

Z = no atom n = A – Z

= jml p = jml e = No massa no atom

Contoh :

18

1. O ~ Atom O dengan no atom = 8 berarti jumlah p = 8, e = 8

8

no massa = 18

Jumlah n dalam atom O tersebut = 18 – 8 = 10

23

2. Na ~ Atom Na dengan jumlah p = 11, e = 11, n = 23 11 = 12

| |

Ada beberapa istilah yang perlu kita ketahui, yaitu :

1. Isotop = Atomx dengan jumlah proton sama, tapi jumlah neutron beda

= Atomx dengan no atom sama, tapi no massa beda

Contoh :

1 2 3

H dengan H dengan H – isotop H dengan no atom sama (p sama) = 1

1 1 1

– isotop H dengan no massa beda, dengan

jumlah netron beda yaitu 0, 1, 2.

12 13

C dengan C isotop C dengan jumlah p = 6, jumlah netron masingx 6, 7

6 6

– 1 –

2. IsobAR = Atomx dengan no atom beda, tapi no massa sama (Ar sama)

Contoh :

14 14

C dengan N

6 7

24 24

Na dengan Mg

11 12

3. IsotoN = Atomx dengan no atom berbeda, tapi jumlah neutron sama

Contoh :

13 14

C dengan N atomx dengan jumlah neutron sama = 7

6 7

23 24

Na dengan Mg jumlah neutron = 12

11 12

B. Konfigurasi Elektron

Konfigurasi elektron adalah susunan elektron dalam masingx kulit elektron atau sub kulit.

Aturan dalam pengisian konfigurasi elektron ini diurutkan dari sub kulit dengan energi rendah sampai sub kulit dengan energi yang tinggi (atau dengan prinsip Aufbau).

Untuk pengisian elektron kedalam sub kulit bisa kita lihat dari :

Kulit Sub kulit

1 s

2 s p

3 s p d

4 s p d f

5 s p d f

6 s d d

7 s p

dari diagram diatas dapat kita lihat urutan pengisian sub kulit, mulai dari sub kulit yang energinya paling rendah.

1s 2s 2p 3s 3p 4s 3d 4p 5s 4d 5p 6s 4f 5d 6p 7s 5f 6d 7p

Aturan pengisian elektron pada tiap sub kulit adalah sebagai berikut :

Pada sub kulit s, elektron maksimum = 2

p = 6

d = 10

f = 14

– 2 –

Contoh :

Tuliskan konfigurasi elektron dari :

1. 1H : 1s1

2. 2He : 1s2

3. 4Be : 1s2 2s2

4. 5B : 1s2 2s2 2p1

5. Na : 1s2 2s2 2p6 3s1

6. 5B : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4

7. 19K : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1

8. 21Sc : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d1

D. Perkembangan Teori Atom

Teori atom mengalami perkembangan mulai dari teori atom Datton Tungga teori atom mekanika medern. Perkembangan tersebut adalah :

1. Jhon Datton

Atom berupa bola pejal yang amat kecil tidak dapat dibagi

Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur

Unsur tersusun dari atomx yang sama

Dalam reaksi kimia, atomx tidak mengalami perubahan, yang berubah adalah susunannya.

Kelebihan teori ini : dapat dengan mudah menjelaskan hukum kekekalan massa (lavoisier) dan hukum perbandingan tetap (proust).

Kelemahan : – Sekarang atom dapat dibagi (dipecah) dalam kimia nuklir

– Belum dapat menjelaskan adanya bagian penyusun atom

2. Thompson :

– Atom terdiri dari sebuah bola yang bermuatan positif dan pada bagian tertentu dari bola ini terdapat elektron yang bermuatan negatif (model roti kismis)

3. Rutherford :

– Atom terdiri dari muatan positif yang terpusat pada inti atom

– Massa atom terpusat pada inti yang dikelilingi elektron yang bermuatan negatif.

Kelemahan : Bertentangan dengan teori Maxwell yaitu mengapa elektron tetap pada lintasannya.

Menurut maxwell : elektron yang bergerak menimbulkan medan magnit, artinya elektronx ini memancarkan energi, maka pada suatu saat akan kehabisan energi dan jatuh ke inti.

– 3 –

4. Bohr

Elektronx dalam mengelilingi inti berada pada tingkat x energi (kulit) tertentu tanpa menyerap/memancarkan energi.

– Elektron dapat berpindah dari kulit yang lebih dalam ke kulit yang lebih luar jika menyerap energi dan jika dari kulit yang lebih luar ke kulit lebih dalam dengan memancarkan energi.

5. Model Atom Mekanik Modern

Kedudukan elektron tidak dapat ditentukan dengan pasti (selalu bergerak mengelilingi inti)

Elektron dalam atom berada dalam orbital

LATIHAN SOAL-SOAL STRUKTUR ATOM (ESSAY)

1. Tentukan berapa jumlah proton, netron dan elektron dari :

100 164 79 159

a. RH b. Nd c. Br d. Tb

45 60 35 65

  1. Lengkapi tabel berikut :

45

Sc

21

33

S

16

13

C

6

……….

………..

……….

Z

A

Jumlah p

Jumlah n

Jumlah e

14

15

18

19

188

79

  1. Tuliskan konfigurasi elektron dari :

a. F (no atom = 9)

b. Ga (no atom = 31)

a. I (no atom = 53)

a. Cr (no atom = 24)

a. Rn (no atom = 86)

4. Jika nukleon salah satu isotop uranium terdiri dari 92 proton dan 143 neutron, berikanlah notasi isotop unsur tersebut.

– 4 –

SOAL-SOAL STRUKTUR ATOM (OBJEKTIF)

1. Partikel atom yang tidak bermuatan adalah ………

a. Proton b. Neutron c. Elektron d. Inti atom d. Proton dan elektron

12 14

2. Unsur C dan C berbeda dalam jumlah ………

6 6

a. Elektron b. Proton c. Neutron d. Nomor atom d. Kulit elektron

39

3. K, maka konfigurasi elektron per kulit adalah ………

19

a. 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1

b. 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 5s2 4d1

c. 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5 4s2

d. 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p6 4d1 5s2

e. 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4so 3d1

4. Model atom roti kismis dikemukakan oleh ……..

a. Dalton b. Thompson c. Rutherford d. Maxwell e. Neils Bohr

5. Neils Bohr menemukan adanya :

a. Elektron dalam atom d. Inti atom

b. Neutron dalam atom e. Tingkat energi elektron

c. Proton dalam atom

II. Sistim Periodik Unsur

  1. Sejarah perkembangan sistem periodik

1. Penggolongan berdasar sifat kelogaman

Unsur dialam digolongkan menjadi unsur logam dan non logam

2. Menurut Debereiner

Debereiner menemukan adanya keteraturan hubungan berat atom antara 3 buah unsur yang mempunyai sifat kimia yang mirip

Bila ketiga unsur tersebut diurutkan menurut naiknya atom maka berat atom unsur ditengah sama dengan rata-rata dari unsur ke 1 dan 3 (hk. Triade)

3. Menurut John Newlands

Newland menyusun daftar unsur menurut kenaikan berat atom. Ada perulangan sifat setiap 8 unsur (Hk. Oktaf)

– 5 –

Dari daftar tersebut dapat dilihat yang termasuk dalam 1 golongan adalah :

Li, Na, K Be, Mg, Ca B, Al C,Si dst

4. Menurut Mendeleyer dan Lothar Meyer

Unsur disusun berdasar kenaikan berat atom dan persamaan sifat. Sifat periodik unsur adalah merupakan fungsi periodik dari berat atomnya.

5. Sistem Periodik Modern/Panjang

Disusun menurut kenaikan nomor atom dan kemiripan sifat

Dalam sistem periodik modern ini berbentuk tabel yang terdiri dari 2 lajur :

Lajur vertikal (tegak) disebut golongan yang disusun atas kemiripan sifat

Lajur horizontal (datar) disebut periode yang disusun atas kenaikan nomor atomnya.

Yang kita gunakan sampai sekarang ini adalah sistem periodik modern.

Dalam sistem periodik modern golongan dibagi menjadi 2 yaitu golongan utama (A) dan transisi (B) yang terletak diantara golongan IIA dengan IIIA.

Penamaan khusus untuk beberapa golongan adalah :

Golongan IA disebut golongan Alkali

IIA Alkali tanah

VIIA Halogen

VIIIA Gas mulia

· Catatan : semua siswa harus punya daftar/tabel periodik unsur

  1. Konfigurasi elektron dan sistem periodik.

Berdasarkan konfigurasi elektronnya, maka kedudukan unsur dalam sistem periodik dapat diketahui baik golongan maupun pereodenya.

Golongan : ditentukan dari jumlah elektron di kulit terluar (elektron valensi)

Pereode : ditentukan oleh nomor kulit terluar.

– 6 –

Secara skematis cara penentuan golongan dan pereode.

Pereode = no kulit terluar/terbesar

(horizontal) harga : 1 – 7

Sistem blok s : sx gol = x

Periodik Utama

Golongan = – elektron (A) blok p:sxpy gol = x+y

(vertikal) valensi blok d : s

Transisi jika : x+y = 8,9,10 VIIIB

(B) x+y = 11 IB

x+y = 12 IIB

blok f : 4f : lantanida

IIIB

5f : aktinida

Contoh :

19K : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s1 : Gol : IA, pereoda : A

33As : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 4p3 : Gol : VA, pereoda : A

25Mn : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d5 : Gol : VIIB, pereoda : A

30Zn : 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6 4s2 3d10 : Gol : IIB, pereoda : A

  1. Sifatx periodik unsur

Ada 4 sifatx unsur yang berurutan secara periodik yaitu :

1. Jari atom (r) : jarak dari inti atom sampai ke kulit yang terluar

– dalam 1 golongan (dari atas ke bawah) jarix makin besar

– dalam 1 pereode (dari kiri ke kanan) jarix makin kecil

2. Energi ionisasi : energi yang diperlukan oleh atom/ion untuk melepaskan 1 elektron terluar.

– dalam 1 golongan : energi ionisasi makin kecil

– dalam 1 pereode : energi ionisasi makin besar

3. Afinitas elektron : energi yang dibebaskan oleh atom untuk menerima sebuah elektron.

– dalam 1 golongan : afinitas elektron makin kecil

– dalam 1 pereode : afinitas elektron makin besar

4. Keelektronegatifan : kemampuan suatu unsur menarik atom/unsur lain sehingga menjadi bermuatan negatif.

– dalam 1 golongan : keelektronegatifan makin kecil

– dalam 1 pereode : keelektronegatifan makin besar

secara skematis, sifatx periodik unsur dalam 1 golongan dan pereode.

1 pereode makin ke kanan

– 7 –

1 golongan Jarix atom : makin kecil

makin ke Energi ionisasi : makin besar

atas Afinitas elektron : makin besar

Elektronegativitas : makin besar

Soalx sistem periodik unsur

1. Letak golongan unsur dalam sistem periodik ditentukan oleh ……….

a. Jumlah elektron valensi d. Massa atom unsur

b. Susunan elektron valensi e. Volume atom

c. Jumlah kulit elektron

2. Dalam sistem periodik panjang, unsur transisi terletak antara golongan ……..

a. IIA dan IIB d. IA dan IIA

b. IIIB dan IIB e. IIB dan IIIB

c. IIA dan IIIA

3. Unsur yang tidak termasuk gas mulia ialah ………

a. He b.Ne c. Se d. Kr e. Rn

4. Sistem periodik unsur disusun berdasarkan ………

a. Sifat fisik unsur d. Massa atom relatif unsurx

b. Sifat kimia unsur e. Volume atom

c. Susunan elektron dari unsurx

5. Unsur dengan susunan elektron 1s2 2s2 2p6 3s2 3p3 dalam sistem periodik terletak pada ………..

a. Pereode 3 golongan IIIA d. Pereode 5, golongan IIIA

b. Pereode 3 golongan IIA e. Pereode 5, golongan VA

c. Pereode 3 golongan VA

SOALx ESSAY :

1. Tentukan golongan dan pereode dari unsurx berikut :

( tentukan dulu konfigurasi elektronnya )

a. 11Na f. 87Fr

b. 20Ca g. 6C

c. 18Ar h. 13Al

d. 35Br i. 17Cl

e. 27Co j. zHe

2. Tentukan nomor atom dari unsurx berikut yang terletak pada :

a. Periode 1 golongan IIIA d. Pereode 3, golongan VIA

b. Pereode 2 golongan IVA e. Pereode 3, golongan VIIIA

c. Pereode 2 golongan V

– 8 –

3. Bila diketahui lima buah unsur berikut :

13Al 15P 17Cl 19K dan 20Ca

Susunlah kelima unsur tersebut berdasarkan urutan pertambahan/kenaikan dari :

a. Jarix atomnya

b. Energi ionisasinya

c. Afinitas elektronnya

* * * * * * * * *

Iklan

MODUL KIMIA

MODUL I

I. Durasi Pembelajaran: 10 jam @ 45 menit
II. Kompetensi Dasar:
Ø Membedakan Perubahan Kimia dan Perubahan Fisika

III. Materi Pokok
1. Pengertian Materi
2. Sifat-Sifat Materi
3. Perubahan Materi

IV. Tujuan Pembelajaran:
Siswa diharapkan mempunyai:

A. Sikap (Afektif)
1. Hati-hati dalam menyimpan materi dalam bidang keahlian.
2. Cermat dalam mengaitkan perubahan materi pada bidang keahlian.

B. Pengetahuan (Kognitif)
1. Materi didefinisikan dengan benar
2. Wujud materi dapat dibedakan dengan benar
3. Sifat-sifat materi dapat diketahui dengan benar
4. Perubahan materi dapat dibedakan dengan benar

C. Keterampilan ( Psikomotorik)
1. Perubahan fisika dan kimia dapat dipraktekkan/didemonstrasikan dengan benar.

V. Rincian Kegiatan Belajar

VI. Petunjuk Belajar

I. MATERI DAN PERUBAHAN MATERI

1. Pengertian Materi

Materi adalah sesuatu yang mempunyai massa dan dapat menempati sebuah ruang. Materi disebut juga dengan zat. Materi dapat berwujud :
Gas, misalnya; udara, gas oksigen, gas karbondioksida, dan lain-lain.
Cair, misalnya; air, minyak, bensin, alkohol, dan lain-lain.
Padat, misalnya; batu, kayu, besi, dan lain-lain.
Di alam semesta materi dapat mengalami perubahan wujud dari wujud yang satu ke wujud yang lainnya jika menerima atau melepaskan energi.


2. Sifat- Sifat Materi

Materi mempunyai dua sifat, yaitu:
a. Sifat Fisika, adalah sifat meteri yang tidak berhubungan dengan pembentukan zat baru. Sifat fisika meliputi :
1. Sifat intensif, yaitu sifat fisika yang tidak bergantung pada jumlah dan ukuran zat.
Misalnya; warna, bau , titik didih, dan lain-lain.
2. Sifat Ekstensif, yaitu fisika yang bergantung pada jumlah dan ukuran zat.
Misalnya; kelarutan, massa jenis, volume, dan lain-lain
b. Sifat Kimia, adalah sifat materi yang berhubungan dengan pembentukan zat baru. Misalnya; kereaktifan , keterbakaran, kestabilan, dan lain-lain.

3. Perubahan Materi



Setiap materi akan mengalami perubahan. Perubahan materi meliputi:
Perubahan fisika, yaitu perubahan materi yang tidak menghasilkan zat baru.
Misalnya; lilin dipanaskan, batu es mencair, besi meleleh, dan lain-lain.

Pada umumnya perubahan fisika hanya mengalami perubahan wujud dan yang disertai dengan peerrubahan energi. Perubahan fisika terjadi karena materi memiliki sifat fisika.
Perubahan kimia, yaitu perubahan materi yang menghasilkan zat baru.
Misalnya; besi berkarat, kayu terbakar, buah menjadi busuk, dan lain-lain.

Dalam perubahan kimia tidak hanya mengalami perubahan wujud, juga mengalami perubahan zat tetapi tidak mengalami perubahan massa. Perubahan kimia terjadi karena materi mempunyai sifat-sfat kimia. Perubahan kimia disebut juga reaksi kimia.
Reaksi kimia yang terjadi pada suatu zat dapat diketahui berdasarkan tanda-tanda/gejala-gejala yang menyertai reaksi tersebut.

Gejala- gejala atau tanda-tanda yang menyertai reaksi kimia adalah sebagai berikut:
1. Terjadi perubahan warna, misalnya; buah menjadi masak, besi berkarat, roti menjadi gosong, dan lain-lain.
2. Terjadi perubahan suhu, misalnya; singkong menjadi tape, kedelai menjadi tempe, karbid disiram air, dan lain-lain.
3. Terbentuk gas, misalnya; kertas dibakar, kompor menyala, karbid disiram air, sampah membusuk, dan lain-lain.
4. Terbentuk endapan, misalnya; susu menjadi basi, minyak menjadi tengik, batu kapur disiram air, dan lain-lain.

Latihan Soal

A. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!
1. Apa yang dimaksud dengan materi/zat ?
2. Mengapa materi dapat berubah dari wujud yang satu ke wujud yang lainnya?
3. Sebutkan contoh materi dalam bidang keahlian !
4. Sebutkan 5 macam perubahan wujud beserta contohnya!
5. Apa bedanya sifat fisika dan sifat kimia?
6. Sebutkan 2 contoh sifat fisika suatu zat!
7. Sebutkan 2 contoh sifat kimia suatu zat!
8. Apa bedanya perubahan kimia dengan perubahan fisika? Berikan masing-masing 2 contoh!
9. Mengapa materi dapat mengalami perubahan kimia? Jelaskan!
10. Sebutkan gejala-gejala atau tanda-tanda yang menyertai reaksi kimia!

B. DISKUSIKAN

Udara termasuk salah satu contoh dari materi, karena udara memiliki massa dan dapat menempati rang. Bagaimana cara membuktikan bahwa udara mempunyai massa?

MODUL II KLASIFIKASI MATERI
Durasi Pemelajaran: 12 jam @ 45 menit
Kompetensi Dasar : Membedakan Unsur, Senyawa dan ,Campuran
Materi Pokok :
1.Unsur
2. Senyawa
3. Campuran
Tujuan Pemelajaran: Siswa diharapkan mempunyai:
A. Sikap (Afektif):
1. Obyektif dalam mengamati unsur, senyawa dan campuran dalam bidang keahlian.
2. Teliti dalama menentukan jenis unsur, senyawa dan campuran dalam bidang keahlian.
B. Pengetahuan (Kognitif):
1. Unsur, senyawa dan campuran didefinisikan dengan benar.
2. Unsur,senyawa dan campuran dibedakan dengan benar.
3. Lambang unsur dituliskan dengan benar.
4. Rumus senyawa ditulis dengan benar.
5. Nama senyawa disebutkan dengan benar.
6. Contoh unsur, senyawa dan larutan dalam bidang keahlian disebutkan dengan benar.
7. Cara pemisahan campuran diketahui dengan benar.
C. Keterampilan (Psikomotorik):
1. Unsur, senyawa dan campuran dalam bidang keahlian ditunjukkan dengan benar.
2. Sifat-sifat unsur ,senyawa dan campuran di bidang keahlian didemonstrasikan dengan benar. 3. Pemisahan campuran didemonstrasikan/dipraktekkan dengan benar.
II. KLASIFIKASI MATERI
Materi dikelompokkan menjadi dua ,yaitu:
1. Zat tunggal, meliputi:

a. Unsur

b. Senyawa
2. Campuran, meliputi:
a. Larutan

b. Dispersi koloid
c. Suspensi

A. UNSUR
Unsur adalah zat tunggal yang tidak dapat diuraikan menjadi zat lain yang lebih sederhana secara reaksi kimia biasa. Contoh: oksigen, hidrogen, besi, tembaga dan lain-lain.
1. Lambang Unsur

Penulisan unsur menggunakan lambang huruf yang disebut lambang unsur. Lambang unsur yang sekarang dipakai adalah lambang unsur yang menganut sistem Berzellius, dengan aturan sebagai berikut:

a. Lambang unsur yang ditulis dengan satu huruf ditulis dengan huruf kapital, berasal dari huruf depan nama unsur tersebut dalam bahasa latin. Misalnya:
Oksygen = O

Hydrogen = H
Nytrogen = N
Carbon = C
Boron = B
Fluor = F
Sulfur = S

Phosforus = P

Iodium = I

b. Lambang unsur yang ditulis dalam dua huruf , huruf pertama ditulis dengan huruf capital berasal dari huruf depan nama unsur tersebut dalam bahasa latin dan huruf kedua ditulis dengan huruf kecil berasal dari huruf berikutnya nama unsur tersebut.
Misalnya:
Natrium = Na

Calsium = Ca

Litium = Li

Magnesium = Mg
Aluminium = Al

Ferrum = Fe

Zinkum = Zn
Cuprum = Cu
Helium = He
Chlorium = Cl

c. Lambang unsur yang ditulis dalam tiga huruf, huruf pertama ditulis dalam huruf capital huruf kedua dan ketiga dalam huruf kecil berasal dari huruf depan dan huruf berikutnya nomor atom unsur tersebut dalam bahas latin.

Misalnya:
Unnil heksium = Unh
Unnil septiuim = Uns
Unnil oktium = Uno
Dan lain-lain
2. Penggolongan Unsur
Unsur digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu:
1. Unsur Logam, misalnya: Natrium (Na) Calsium (Ca) Magnesium (Mg) Tembaga (Cu) Emas (Au) Perak (Ag), dan lain-lain.
Unsur-unsur logam mempunyai sifat antara lain:
a. Penghantar panas dan listrik yang baik

b. Mudah ditempa
c. Mudah mengalami oksidasi membentuk oksida logam
d. Dapat membentuk ion positip / bersifat elektropositip.

2. Unsur Bukan Logam (Non-Logam), misalnya: Hidrogen(H) Karbon (C) Belerang (S) Helium (He) Nitrogen (N) Argon (Ar) Dan lain-lain.
Unsur-unsur nonlogam mempunyai sifat antara lain:

a. Bersifat isolator

b. Getas dan tidak mudah ditempa
c. Pada umumnya mudah mengalami reaksi reduksi
d. Dapat membentuk ion negatip/bersifat elektronegatif.
3. Unsur Semilogam (Metaloid), misalnya: Silikon(Si) Germanium (Ge) Borron(B) Arsen (As) Tellium (Te), dan lain-lain.
Unsur-unsur semilogam mempunyai sifat antara lain:
a. Bersifat semikonduktor

b. Bersifat amfoter atau dapat bereaksi dengan asam dan basa,
c. Dapat membentuk ion positip dan negatip

B. SENYAWA

Senyawa adalah zat tunggal yang masih dapat diuraikan menjadi zat-zat lain yang lebih sederhana secara reaksi kimia biasa. Senyawa merupakan gabungan dua atau lebih unsur yang berlainan jenis.
Misalnya:
Air merupakan gabungan antara unsur hidrogen dan oksigen.
Garam dapur merupakan gabungan antara unsur natrium dan khlor.
Asam cuka merupakan gabungan antara unsur karbon, hidrogen dan oksigen
Dan lain-lain.
1. Lambang Senyawa

Penulisan lambang senyawa merupakan gabungan dari lambang unsur-unsur yang menyususn senyawa tersebut.

Misalnya:

Air = H2O

Garam dapur= NaCl
Asam cuka = C2H4O2 atau CH3COOH atau HC2H3O2

Dan lain-lain.

C. CAMPURAN
Campuran adalah gabungan dua atau lebih zat tunggal yang tidak saling bereaksi dan masing-masing komponen masih mempertahankan sifat asalnya. Campuran meliputi:

1. Larutan, yaitu campuran yang bersifat homogen.

Misalnya; larutan gula, larutan cuka, larutan garam, dan lain-lain.

2. Dispersi koloid, yaitu campuran yang bersifat antara homogen dan hetrogen.

Misalnya; susu, asap, kabut, dan lain-lain.
3. Suspensi, yaitu campuran yang bersifat heterogen.
Misalnya; campuran air dan sabun, air teh, air kopi, dan lain-lain.
1. Kadar Zat Dalam Campuran
Kadar atau jumlah komponen-komponen dalam campuran dapat ditentukan dengan cara:

a. Persen Massa

Persen massa adalah perbandingan massa zat komponen dengan massa campuran.
Contoh soal:

Dalam 100 gram roti terdapat 5 garam gula. Berapa % kadar gula dalam roti tersebut?

Jawab:

Diketahui:
Mass gula (komponen) = 5 gram

Mass roti (campuran) = 100 gram
Kadar gula = massa gula/massa larutan x 100 %
Kadar gula = 5/100 x 100 %

Kadar gula = 5 %

b. Persen volum
Persen volum adalah perbandingan volume zat komponen dengan volume campuran.

Contoh soal:

Berapa milliliter cuka murni yang terdapat dalam 200 ml larutan cuka 25% ?
Jawab:
Diketahui: Volume campuran (larutan cuka)=200 ml
Kadar cuka= 25 %

Volume cuka murni = kadar cuka x volume campuran

volume cuka murni = 25 % x 200 ml

volume cuka murni = 50 ml

c. Persen massa per volum
Persen massa per volum adalah perbandingan massa zat komponen dengan volume campuran.

Contoh soal:
Berapa gram garam dapur (NaCl) yang terdapat dalam 1 liter air laut jika diketahui kadar NaCl dalam air laut tersebut adalah 0,05 % (gr/ml)?
Jawab:

Diketahui:
Volume campuran= 1 liter= 1000 ml
Kadar NaC l = 0,05 %
Massa NaCl = kadar NaCl x Volume campuran
Massa Nacl = 0,05 % x 1000 ml

massa NaCl = 0,5 gram
d. Bagian per sejuta (Bpj) atau Part per million (ppm)
Bagian per sejuta adalah perbandingan satu bagian zat komponen dengan satu juta bagian campuran.


Contoh soal:
Dalam suatu daerah kadar gas CO2 adalah 0,00012 %. Tentukan kadar gas tersebut dalam Bpj!
Jawab:
Diketahui:
1 % = 10.000
Bpj Kadar CO2 = 0,00012 %
Bpj Kadar CO2 = 0,00012 x 10.000 Bpj
Bpj Kadar CO2 = 1,2 Bpj
2. Pemisahan Komponen Dalam Campuran
Komponen-komponen dalam campuran dapat dipisahkan dengan cara:
a. Dekantasi, yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan cara dituang secara langsung. Dekantasi dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan zat padat atau zat cair dengan zat cair yang tidak saling campur (suspensi).
Contoh: Pemisahan campuran air dan pasir.
b. Filtrasi, yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan mneggunakan filter (penyaring). Hasil filtrasi disebut filtrat sedangkan sisa filtrasi disebut residu atau ampas. Filtrasi dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan zat padat yang tidak saling larut.
Contoh: Pemisahan campuran air dan kopi.
c. Kristalisasi, yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan cara mengkristalkan komponen tercampur dengan cara dipanaskan kemudian didinginkan. Kristalisai dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan zat padat yang saling larut.
Contoh : Pemisahan campuran air dan garam.
d. Sublimasi, yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran yang mudah menyublim dengan cara penyubliman melalui pemanasan. Sublimasi dapat dilakukan untuk memisahkan komponen campuran yang mudah menyublim.
Contoh : Pemisahan campuran kotoran dalam kapur barus.
e. Destilasi, yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran yang didasarkan pada perbedaan titik didih komponen campuran tersebut melalui pemanansan/pendidihan campuran. Destilasi dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan zat cair yang berbeda titik didihnya.
Contoh : Pemisahan campuran air dan alkohol.
f. Kromatografi, yaitu pemisahan komponen-komponen dalam campuran yang didasarkan pada perbedaan kecepatan peresapan pada medium resap/adsorben.
Contoh : Pemisahan campuran air dan tinta.
LATIHAN SOAL

A. Jawablah pertanyaan berikut dengan benar!

1. Materi dibedakan atau dikelompokkan menjadi dua,sebutkan !
2. Apa bedanya unsure dan senyawa?Jelaskan!
3. Sebutkan 3 contoh unsure logam!
4. Sebutkan 3 contoh senyawa yang banyak dipakai dalam bidang restoran/boga!
5. Sebutkan 3 macam campuran!
6. Sebutkan cara-cara pemisahan komponen-komponen dalam campuran!
7. Dalam 100 ml larutan asam cuka (asam asetat) terdapat cuka murni sebanyak 25 ml. Berapa persen kadar cuka dalam larutan tersebut?
8. Berapa gram garam dapur (Natrium khlorida) yang harus dilarutan untuk membuat 250 ml larutan garam 10 % ?
9. Dalam sample air limbah diketahui kadar logam Hg 0,2 Bpj. Berapa persen kadar logam Hg dalam air limbah tersebut?
10. Bagaimana cara memisahkan minyak dan air dalam campuran air dan minyak?Jelaskan!

B. Diskusikan !
Jika unsur Na dapat bergabung dengan unsur H dan O untuk membentuk senyawa, tuliskan rumus senyawa yang paling mungkin dapat dibentuk!

Modul IPA untuk SMK

Modul TIK

Modul Kimia dalam bahasa Inggris

Berisi pelajaran kimia yang disajikan dalam bentuk file presentasi, animasi, file pdf.

Tidak hanya materi kimia yang disediakan di website ini, tetapi juga tersedia materi sain lain dan juga matematika serta pemrograman komputer serta bahan lain. Tidak terlalu mendalam namun cukup menarik menjelaskan berbagai hal, termasuk model pembelajaran interaktif.

Pada tautan ini bisa didapati beberapa materi kimia mulai dari bahan pelajaran kimia umum, yang tersajikan dalam bentuk animasi, panduan eksperimen, study card dalam format pdf dan beberapa tautan lain untuk bahan pelajaran kimia.

Virtual Chemistry, yah ini adalah pembelajaran kimia secara virtual, lengkap dengan tutorial dalam bentuk movie yang bisa interaktif dengan tampilan yang cukup menarik dan tidak membosankan.

Tidak terlalu lengkap namun bisa dijadikan pelengkap . Disajikan dalam file mov. Beberapa link-nya tidak dapat berfungsi.

Simpel dan interaktif, berisi tentang bahasan asam basa, gaya atraktif, orbital atom, struktur atom, elektro kimia, struktur molekuler, larutan, zat padat.

Selain di atas anda bisa buka yang ini :

#1 Website for Learning Chemistry
SMILE PROGRAM CHEMISTRY INDEX
Science Help Online Chemistry
Home Page of R. Logan
Friends School Chemistry Homepage
Engines for Educators
Chemistry About
ACT Chemistry Notes
A Level Chemistry
Ask A Scientist – Chemistry Index

( Link-link di atas saya copy dari blognya Pak Urip )

MODUL

    METODE ILMIAH

    Sub Kompetensi 1 :  METODE ILMIAH

    A. Pengetahuan

    Bahwa manusia itu tahu sesuatu, tidak ada yang menyangkal. Manusia tahu akan dunia sekitarnya, akan dirinya sendiri, akan orang lain. Manusia tahu yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang tidak indah, yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Menurut para ahli filsafat ada empat gejala tahu pada manusia, yaitu :
    1. Tidak dari permulaan manusia itu tahu

    Rasa ingin tahu manusia disebabkan karena rasa kagum dan heran terhadap sesuatu yang ada di sekelilingnya.

    2. Tahu yang memuaskan manusia adalah tahu yang benar

    Tahu yang tidak benar disebut keliru dan pemuas ingin tahu itu hanyalah kebenaran walaupun tidak mudah menganalisis apakah kebenaran itu.
    3. Tahunya manusia tentang sesuatu bukanlah suatu bekal yang dibawa sejak lahir

    Yang mengelilingi manusia dan yang ingin diketahi manusia adalah dunia seisinya, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yang sekarang ada maupun yang tidak ada, yang mungkin maupun yang tidak mungkin tetapi yang tidak mengandung kemustahilan sehingga mungkin akan ada.

    4. Manusia yang tahu itu, tahulah bahwa ia tahu

    Manusia tahu benar bahwa ia tidak tahu sesuatu, maka bertanyalah ia, misalnya kepada orang lain. Mungkin juga ia mengira bahwa ia tahu, tetapi pada suatu ketika ia tahu bahwa ia keliru.

    Pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang diketahui langsung dari pengalaman, berdasarkan pancaindra, dan diolah oleh akal budi secara spontan. Pada intinya, pengetahuan bersifat spontan, subjektif dan intuitif. Pengetahuan berkaitan erat dengan kebenaran, yaitu kesesuaian antara pengetahuan yang dimiliki manusia dengan realitas yang ada pada objek.

    Pengetahuan dapat dibedakan menjadi pengetahuan non-ilmiah dan pengetahuan pra-ilmiah. Pengetahuan non-ilmiah adalah hasil serapan indra terhadap pengalaman hidup sehari-hari yang tidak perlu dan tidak mungkin diuji kebenarannya. Pengetahuan non-ilmiah tidak dapat dikembangkan menjadi pengetahuan ilmiah. Misalnya pengetahuan orang tertentu tentang jin atau makhluk halus di tempat tertentu, keampuhan pusaka, dan lain-lain. Pengetahuan prailmiah adalah hasil serapan indra dan pemikiran rasional yang terbuka terhadap pengujian lebih lanjut menggunakan metode-metode ilmiah. Misalnya pengetahuan orang tentang manfaat rebusan daun jambu biji untuk mengurangi gejala diare.

    B. Ilmu Pengetahuan

    Ilmu (sains) berasal dari Bahasa Latin scientia yang berarti knowledge. Ilmu dipahami sebagai proses penyelidikan yang berdisiplin. Ilmu bertujuan untuk meramalkan dan memahami gejala-gejala alam.

    Ilmu pengetahuan (science) adalah pengetahuan yang bertujuan mencapai kebenaran ilmiah tentang obyek tertentu, yang diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang (approach), metode (method), dan sistem tertentu. Yang dimaksud kebenaran ilmu pengetahuan atau yang disebut dengan kebenaran keilmuan/kebenaran ilmiah adalah pengetahuan yang jelas dari suatu obyek materi yang dicapai menurut obyek forma (cara pandang) tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh system yang relevan. Ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang telah diolah kembali dan disusun secara metodis, sistematis, konsisten dan koheren. Agar pengetahuan menjadi ilmu, maka pengetahuan tadi harus dipilah (menjadi suatu bidang tertentu dari kenyataan) dan disusun secara metodis, sistematis serta konsisten. Tujuannya agar pengalaman tadi bisa diungkapkan kembali secara lebih jelas, rinci dan setepat-tepatnya.

    Science tidaklah menghiraukan kegunaanya. Hakekat science yang utama adalah sebagai suatu metode pendekatan terhadap keseluruhan dunia empiris, yakni dunia kenyataan yang dapat dikenal manusia melalui pengalamannya. Science tidak bertujuan untuk menemukan kebenaran yang mutlak tetapi selalu bersifat relative dan temporer/sementara atau tentatife. Tujuan science yang sebenarnya adalah untuk memahami dunia ini dan seisinya.

    Metodis, berarti dalam proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu, tidak serampangan. Sistematis, berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan langkah-langkah tertentu yang teratur dan terarah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu. Koheren, berarti setiap bagian dari jabaran ilmu pengetahuan itu merupakan rangkaian yang saling terkait dan berkesesuaian (konsisten).

    Sedangkan suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan disebut penelitian (research). Usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.

    Ilmu pengetahuan atau pengetahuan ilmiah dapat dibedakan atas :

    1. Ilmu Pengetahuan Fisis-Kuantitatif, sering disebut pengetahuan empiris.

    Pengetahuan ini diperoleh melalui proses observasi serta analisis atas data dan fenomena empiris. Termasuk dalam kelompok ilmu ini adalah geologi, biologi, antropologi, sosiologi, dan lain-lain.

    2. Ilmu Pengetahuan Formal-Kualitatif, sering disebut pengetahuan matematis.

    Ilmu ini diperoleh dengan cara analisis refleksi dengan mencari hubungan antara konsep-konsep. Termasuk dalam kelompok ilmu ini adalah logika formal, matematika, fisika, kimia, dan lain-lain.

    3. Ilmu Pengetahuan Metafisis-Substansial, sering disebut pengetahuan filsafat.

    Pengetahuan filsafat diperoleh dengan cara analisis refleksi (pemahaman, penafsiran, spekulasi, penilaian kritis, logis rasional) dengan mencari hakikat prinsip yang melandasi keberadaan seluruh kenyataan.

    C. Metode Ilmiah

    Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.”

    Metode Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur dan terkontrol. Menurut A. Nashrudin, S.IP, M,Si (dossuwanda.wordpress.com ), Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:

    1. Berdasarkan fakta

    2. Bebas dari prasangka

    3. Menggunakan prinsip-prinsip analisa

    4. Menggunakan hipolesa

    5. Menggunakan ukuran objektif

    6. Menggunakan teknik kuantifikasi

    Pelaksanaan metode ilmiah ini meliputi tujuh tahap, yaitu :

    1. Merumuskan masalah. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan.

    2. Mengumpulkan keterangan, yaitu segala informasi yang mengarah dan dekat pada pemecahan masalah. Sering disebut juga mengkaji teori atau kajian pustaka.

    3. Menyusun hipotesis.

    Hipotesis merupakan jawaban sementara yang disusun berdasarkan data atau keterangan yang diperoleh selama observasi atau telaah pustaka.

    4. Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan atau penelitian.

    5. Mengolah data (hasil) percobaan dengan menggunakan metode statistik untuk menghasilkan kesimpulan.

    Hasil penelitian dengan metode ini adalah data yang objektif, tidak dipengaruhi subyektifitas ilmuwan peneliti dan universal (dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja akan memberikan hasil yang sama).

    6. Menguji kesimpulan.

    Untuk meyakinkan kebenaran hipotesis melalui hasil percobaan perlu dilakukan uji ulang. Apabila hasil uji senantiasa mendukung hipotesis maka hipotesis itu bisa menjadi kaidah (hukum) dan bahkan menjadi teori.

    7. Menulis laporan Ilmiah.

    Untuk mengkomunikasikan hasil penelitian kepada orang lain sehingga orang lain tahu bahwa kita telah melakukan suatu penelitian ilmiah.

    Metode ilmiah didasari oleh sikap ilmiah. Sikap ilmiah semestinya dimiliki oleh setiap penelitian dan ilmuwan. Adapun sikap ilmiah yang dimaksud adalah :

    1. Rasa ingin tahu
    2. Jujur (menerima kenyataan hasil penelitian dan tidak mengada-ada)
    3. Objektif (sesuai fakta yang ada, dan tidak dipengaruhi oleh perasaan pribadi)
    4. Tekun (tidak putus asa)
    5. Teliti (tidak ceroboh dan tidak melakukan kesalahan)
    6. Terbuka (mau menerima pendapat yang benar dari orang lain)

    D. Penelitian / Riset

    Salah satu hal yang penting dalam dunia ilmu adalah penelitian (research). Research berasal dari kata re yang berarti kembali dan search yang berarti mencari, sehingga research atau penelitian dapat didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan.

    Research, menurut The Advanced Learner’s Dictionary of Current English (1961) ialah penyelidikan atau pencarian yang seksama untuk memperoleh fakta baru dalam cabang ilmu pengetahuan.

    Menurut Fellin, Tripodi dan Meyer (1969) riset adalah suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan, memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang dapat disampaikan (dikomunikasikan) dan diuji (diverifikasi) oleh peneliti lain.

    Ciri-ciri riset adalah sebagai berikut, yaitu bahwa riset: (Abisujak, 1981)

    1. Dilakukan dengan cara-cara yang sistematik dan seksama.

    2. Bertujuan meningkatkan, memdofikasi dan mengembangkan pengetahuaN(menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan)

    3. Dilakukan melalui pencarian fakta yang nyata

    4. Dapat disampaikan (dikomunikasikan) oleh peneliti lain

    5. Dapat diuji kebenarannya (diverifikasi) oleh peneliti lain

    E. Penelitian Ilmiah

    Penelitian yang dilakukan dengan metode ilmiah disebut penelitian ilmiah. Suatu penelitian harus memenuhi beberapa karakteristik untuk dapat dikatakan sebagai penelitian ilmiah. Umumnya ada lima karakteristik penelitian ilmiah, yaitu :

    1. Sistematik

    Berarti suatu penelitian harus disusun dan dilaksanakan secara berurutan sesuai pola dan kaidah yang benar, dari yang mudah dan sederhana sampai yang kompleks.

    2. Logis

    Suatu penelitian dikatakan benar bila dapat diterima akal dan berdasarkan fakta empirik. Pencarian kebenaran harus berlangsung menurut prosedur atau kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Prosedur penalaran yang dipakai bisa prosedur induktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan umum dari berbagai kasus individual (khusus) atau prosedur deduktif yaitu cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum.

    3. Empirik, artinya suatu penelitian biasanya didasarkan pada pengalaman sehari-hari (fakta aposteriori, yaitu fakta dari kesan indra) yang ditemukan atau melalui hasil coba-coba yang kemudian diangkat sebagai hasil penelitian.

    Landasan penelitian empirik ada tiga yaitu :

    a. Hal-hal empirik selalu memiliki persamaan dan perbedaan (ada penggolongan atau perbandingan satu sama lain)

    b. Hal-hal empirik selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu

    c. Hal-hal empirik tidak bisa secara kebetulan, melainkan ada penyebabnya (ada hubungan sebab akibat).

    4. Obyektif, artinya suatu penelitian menjahui aspek-aspek subyektif yaitu tidak mencampurkannya dengan nilai-nilai etis.

    5. Replikatif, artinya suatu penelitian yang pernah dilakukan harus diuji kembali oleh peneliti lain dan harus memberikan hasil yang sama bila dilakukan dengan metode, kriteria, dan kondisi yang sama. Agar bersifat replikatif, penyusunan definisi operasional variabel menjadi langkah penting bagi seorang peneliti.

    F. Jenis-Jenis Penelitian Ilmiah

    Ada tiga tingkatan penelitian ilmiah untuk sampai kepada perwujudan ilmu/teori, yaitu :
    1. Penelitian Eksploratif
    Penelitian ekploratif adalah penelitian dalam untuk upaya mencari masalah/menjajagi masalah.

    2. Penelitian Pengembangan

    3. Penelitian Verifikasi

    Adapun penelitian dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, misalnya:

    Daftar Pustaka

    Wiratha, I Made. 2005. Pedoman Penulisan : Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis. Cetakan Pertama. Yogyakarta: CV. Andi Offset.

    Nasution, S. 2006. Metode Risearch. Cetakan 8. Jakarta : Bumi Aksara.

    Arifin, E. Zaenal. 1987. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Cetakan 8. Jakarta: PT Gramedia.

    Sutrisno dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi.

    Djuharie, O. Setiawan. 2001. Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Yrama Widya.

    Djuharie, O. Setiawan. 2001. Panduan Membuat Karya Tulis: Resensi, Laporan Buku, skripsi, Tesis, Artikel, Makalah, Berita, Essei, Dll. Bandung. Yrama Widya.

    Sutano, H. Purwo dan Yuli Pratomo Akhadi. 2007. Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) / Madrasah aliyah Kejuruan ( MAK). Klaten: Saka Mitra Kompetensi.

    Rusdi, Ibnu. 2008. “Pengertian Penelitian: Pengertian, Tujuan, Implikasi dan Langkah-Langkah Penelitian ” : http://ibnurusdi.wordpress.com/2008/04/06/pengertian-penelitian/
    Andi. 2008. ” Metode Ilmiah “.

    LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN ILMIAH

    Kalian tentunya sudah memahami tentang metode ilmiah dan penelitian ilmiah. Yang perlu kalian ketahui adalah bahwa penelitian ilmiah berusaha untuk menemukan, mengembangkan, dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah. Dengan selalu melakukan penelitian ilmiah, ilmu pengetahuan akan selalu berkembang.

    Pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode ilmiah harus mengikuti langkah-langkah tertentu. Schluter (1926) memberikan 15 langkah dalam melaksanakan penelitian dengan metode ilmiah. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Pemilihan bidang, topik atau judul penelitian.

    2. Mengadakan survei lapangan untuk merumuskan masalah-malalah yang ingin
    dipecahkan.

    3. Membangun sebuah bibliografi.

    4. Memformulasikan dan mendefinisikan masalah.

    5. Membeda-bedakan dan membuat out-line dari unsur-unsur permasalahan.

    6. Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam masalah menurut hu-bungannya dengan data
    atau bukti, baik langsung ataupun tidak langsung.

    7. Menentukan data atau bukti mana yang dikehendaki sesuai dengan pokok-pokok
    dasar dalam masalah.

    8. Menentukan apakah data atau bukti yang dipertukan tersedia atau tidak.

    9. Menguji untuk diketahui apakah masalah dapat dipecahkan atau tidak.

    10. Mengumpulkan data dan keterangan yang diperlukan.

    11. Mengatur data secara sistematis untuk dianalisa.

    12. Menganalisa data dan bukti yang diperoleh untuk membuat interpretasi.

    13. Mengatur data untuk persentase dan penampilan.

    14. Menggunakan citasi, referensi dan footnote (catatan kaki).

    15. Menulis laporan penelitian.

    Dalam melaksanakan penelitian secara ilmiah. Abclson (1933) memberikan 5 langkah berikut:

    1. Tentukan judul
    Judul dinyatakan secara singkat.

    2. Pemilihan masalah

    Dalam pemilihan masalah ini harus:

    a). Nyatakan apa yang disarankan oleh judul.

    b). Berikan alasan terhadap pemilihan tersebut. Nyatakan perlunya diselidiki masalah menurut kepentingan umum.

    c). Sebutkan ruang lingkup penelitian. Secara singkat jelaskan materi. situasi dan hal- hal lain yang menyangkut bidang yang akan diteliti.

    3. Pemecahan masalah.

    Dalam memecahkan masalah harus diikuti hal-hal berikut:

    a). Analisa harus logis. Aturlah bukti dalam bentuk yang sistematis dan logis. Demikian juga halnya unsur-unsur yang dapat memecahkan masalah.

    b). Prosedur penelitian yang digunakan harus dinyatakan secara singkat.

    c) Urutkan data, fakta dan keterangan-keterangan khas yang diperlukan

    d). Harus dinyatakan bagaimana set dari data diperoleh termasuk referensi yang digunakan.

    e). Tunjukkan cara data dilola sampai mempunyai arti dalam memecahkan masalah.

    f). Urutkan asumsi-asumsi yang digunakan serta luibungannya dalam berbagai fase penelitian.

    4. Kesimpulan

    a). Berikan kesimpulan dari hipotesa. nyatakan dua atau tiga kesimpulan yang mungkin diperoleh

    b). Berikan implikasi dari kesimpulan. Jelaskan bebernpa implikasi dari produk hipotesa dengan memberikan beberapa inferensi.

    5. Berikan studi-studi sebelumnya yang pernah dikerjakan yang berhubungan dengan masalah

    Nyatakan kerja-kerja sebelumnya secara singkat dan berikan referensi bibliografi yang mungkin ada manfaatnya scbagai model dalam memecahkan masalah.

    Dari pedoman beberapn ahli di atas, maka dapal disimpulkan balnwa penelitian dengan mcnggunakan metode ilmiah sckurang-kurangnya dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

    5.1. Merumuskan serta mcndefinisikan masalah

    Langkah pertama dalam meneliti adalah menetapkan masalah yang akan dipecahkan. Untuk menghilangkan keragu-raguan. masalah tersebut didefinisikan secara jelas. Sampai ke mana luas masalah yang akan dipecahkan Sebutkan beberapa kata kunci (key words) yang terdapal dalam masalah Misalnya. masalah yang dipilih adalah Bagaimana pengaruh mekanisasi terhadap pendapatan usaha tani di Aceh?Berikan definisi tentang usaha tani, tentang mekanisasi, pada musim apa. dan sebagainya.

    5.2. Mengadakan studi kepustakaan

    Setelah masalah dirumuskan, step kedua yang dilakukan dalam mencari data yang tersedia yang pernah ditulis peneliti sebelumnya yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan. Kerja mencari bahan di perpustakaan merupakan hal yang tak dapat dihindarkan olch seorang peneliti. Ada kalanya. perumusan masalah dan studi keputusan dapat dikerjakan secara bersamaan.

    5.3. Memformulasikan hipotesa

    Setelah diperoleh infonnasi mengenai hasil penelitian ahli lain yang ada sangkut-pautnya dengan masalah yang ingin dipecahkan. maka tiba saatnya peneliti memformulasikan hipotesa-hipolesa unttik penelitian. Hipotesa tidak lain dari kesimpulan sementara tentang hubunggan sangkut-paut antarvariabel atau fenomena dalam penelitian. Hipotesa merupakan kesimpulan tentatif yang diterima secara sementara sebelum diuji.

    5.4. Menentukan model untuk menguji hipotesa

    Setelah hipotesa-hipotesa ditetapkan. kerja selanjutnya adalah merumuskan cara-cara untuk menguji hipotesa tersebut. Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang. scperti ilmu ekonomi misalnva. pcnguji’an hipotesa didasarkan pada kerangka analisa (analytical framework) yang telah ditetapkan. Model matematis dapat juga dibuat untuk mengrefleksikan hubungan antarfenomena yang secara implisif terdapal dalam hipotesa. untuk diuji dengan teknik statistik yang tersedia. Pengujian hipotesa menghendaki data yang dikumpulkan untuk keperluan tersebut. Data tersebut bisa saja data prime ataupun data sekunder yang akan dikumpulkan oleh peneliti.

    5.5. Mengumpulkan data

    Peneliti memerlukan data untuk menguji hipotesa. Data tersebut yang merupakan fakta yang digunakan untuk menguji hipotesa perlu dikumpulkan. Bcrgantung dan masalah yang dipilih serta metode pcnelitian yang akan digunakan. teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Jika penelitian menggunakan metode percobaan. misalnya. data diperoleh dan plot-plot pcrcobaan yang dibual sendiri oleh peneliti Pada metodc scjarah ataupun survei normal, data diperoleh dengan mcngajukan pertanyaan-pertanyaan kepada responden. baik secara langsung ataupun dengan menggunakan questioner Ada kalanya data adalah hasil pengamatan langsung terhadap perilaku manusia di mana peneliti secara partisipatif berada dalam kelompok orang-orang yang diselidikinya.

    5.6. Menyusun, Menganalisa, and Menyusun interfensi

    Setelah data terkumpul. pcneliti menyusun data untuk mengadakan analisa Sebelum analisa dilakukan. data tersebul disusun lebih dahulu untuk mempermudah analisa. Penyusunan data dapat dalam bentuk label ataupun membuat coding untuk analisa dengan komputer. Sesudah data dianalisa. maka perlu diberikan tafsiran atau interpretasi terhadap data tersebut.

    5.7. Membuat generalisasi dan kesimpulan

    Setelah tafsiran diberikan, maka peneliti membuat generalisasi dari penemuan-penemuan, dan selanjutnya memberikan beberapa kesimpulan. Kesimpulan dan generalisasi ini harus berkaitan dengan hipotesa. Apakah hipotesa benar untuk diterima. ataukah hiporesa tersebut ditolak.

    5.8. Membuat laporan ilmiah

    Langkah terakhir dari suatu penelitian ilmiah adalah membuat
    laporan ilmiah tentang hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut. Penulisan secara ilmiah mempunyai teknik tersendiri.

    Sedangkan menurut Suryabrata (1989) langka-langka penelitian meliputi 11 langkah, yaitu :

    1. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian

    1.1 Identifikasi Masalah Penelitian

    Masalah penelitian dapat bersumber dari :
    a. Bacaan, terutama bacaan yang berisi laporan hasil penelitian
    b. Seminar, diskusi, konferensi dan lain-lain pertemuan ilmiah
    c. Pernyataan pemegang otoritas
    d. Pengamatan selintas
    e. Pengalaman pribadi
    f. Perasaan intuitif

    1.2 Pemilihan masalah penelitian

    Dalam memilih masalah penelitian ada 2 hal yang perlu dijadikan pertimbangan yaitu :
    a. Pertimbangan dari arah masalahnya
    b. Pertimbangan dari arah calon peneliti

    1. 3 Perumusan masalah penelitian

    a. Perumusan hendaklah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
    b. Rumusan hendaklah padat dan jelas
    c. Rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan itu.

    2. Penelaahan Kepustakaan

    a. Penelaahan sumber-sumber yang berupa buku

    b. Pemilihan berdasarkan pada prinsip:
    1. Relevansi
    2. Kemutakhiran ( kecuali studi sejarah )

    c. Penelaahan sumber-sumber yang berupa laporan hasil penelitian. Penilikan berdasarkan atas prinsip :
    1. Relevansi
    2. Kemutakhiran
    3. Bobot

    3. Perumusan Hipotesis

    Perumusan hipotesis hendaklah mempertimbangkan:
    a. Hipotesis hendaklah menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih
    b. Hipotesis hendaklah dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan.
    c. Hipotesis hendaklah dirumuskan secara jelas dan padat
    d. Hipotesis hendaklah dapat diuji, artinya hendaklah orang mungkin mengumpulkan data menguji kebenaran hipotesis itu.

    4. Identifikasi, Klasifikasi dan Pendefinisian Variabel

    a. Mengidentifikasi variabel.

    Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian atau faktor-faktor yang berperanan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti

    b. Mengklarifikasi variabel

    Berdasarkan proses kauantifikasinya, variabel digolongkan menjadi:
    1. Variabel nominal
    2. Variabel ordinal
    3. Variabel interval
    4. Variabel rasio

    Berdasarkan atas fungsinya dalam penelitian variabel dibedakan menjadi:
    1. Variabel tergantung
    2. Variabel bebas
    3. Variabel moderator
    4. Variabel kendali
    5. Variabel rambang

    c. Merumuskan definisi operasional variabel-variabel

    Definisi operasional dirumuskan berdasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati (diobservasi)

    1. Yang berdasar atas kegiatan-kegiatan (operations) yang harus dilakukan agar yang didefinisikan itu terjadi

    2. Yang berdasar atas bagaimana hal yang didefinisikan itu nampaknya (seringkali menunjuk kepada alat pengambil datanya)

    5. Pemilihan atau Pengembangan Alat Pengambil Data

    Alat pengambil data harus memenuhi syarat-syarat:
    1. Validitas
    2. Reliabilitas

    6. Penyusunan rancangan penelitian

    7. Penentuan sampel

    8. Pengumpulan data

    9. Pengolahan dan analisis data

    10. Interpretasi hasil analisis

    11. Penyusunan laporan

    Dari beberapa pendapat para pakar yang telah disebutkan di atas dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan kegiatan penelitian dibagi dalam empat fase/tahap kegiatan, yaitu :

    1. Persiapan
    2. Pengumpulan data/informasi
    3. Pengolahan data/informasi
    4. Penulisan laporan penelitian

    Pada intinya langkah-langkah penelitian sama dengan langkah-langkah dalam metode ilmiah. Bagi penelitian remaja atau penelitian yang dilakukan oleh siswa SLTP dan SLTA dapat digunakan langkah-langkah penelitian sebagai berikut :

    1. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian

    Yaitu menetapkan masalah penelitian, apa yang dijadikan masalah penelitian dan apa obyeknya. Sedangkan mengidentifikasi atau menyatakan masalah yang spesifik dilakukan dengan mengajukan pertanyaan penelitian ( research question), yaitu pertanyaan yang belum dapat memberikan penjelasan yang memuaskan berdaarkan teori (hokum/dalil) yang ada.

    Ada beberapa hal yang diperlukan dalam menemukan suatu masalah pada suatu kegiatan, yaitu mengamati apakah yang seharusnya terjadi memang terjadi seperti yang dimaksud ataukah tidak; apakah terdapat pandangan, pendapat atau sikap yang berbeda terhadap hal yang sama; dan memperkirakan apakah yang akan timbul sebagai akibat sekiranya proses yang biasa itu diubah, ditiadakan atau diganti.

    2. Telaah Kepustakaan

    Penelitian dimulai dengan penelusuran/telaah pustaka yang berhubungan dengan subyek penelitian tersebut. Penelusuran pustaka merupakan langkah pertama untuk mengumpulkan informasi yang relevan untuk penelitian. Penelusuran pustaka dapat menghindarkan duplikasi pelaksanaan penelitian. Dengan penelusuran pustaka dapat diketahui penelitian yang pernah dilakukan dan dimana hal itu dilakukan.

    3. Merumuskan hipotesis

    Hipotesis dapat diartikan sebagai pendapat sementara yang dianggap benar sebelum dapat diuji kebenarannya, karena itu hipotesis perlu dirumuskan secara teliti, terinci dan baik sebab bukan tidak mungkin hipotesis yang dituliskan merupakan jawaban yang sebenarnya terhadap permasalahan penelitian. Merumuskan hipotesis yang baik sangat berguna untuk menjelaskan masalah, petunjukpemilihan metodologi yang tepat dan menyusun langkah dan pembuktian penelitian.

    Hipotesis merupakan salah satu bentuk konkrit dari perumusan masalah. Dengan adanya hipotesis, pelaksanaan penelitian diarahkan untuk membenarkan atau menolak hipotesis. Pada umumnya hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menguraikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan tak bebas gejala yang diteliti. Hipotesis mempunyai peranan memberikan arah dan tujuan pelaksanaan penelitian, dan memandu ke arah penyelesaiannya secara lebih efisien. Hipotesis yang baik akan menghindarkan penelitian tanpa tujuan, dan pengumpulan data yang tidak relevan. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis.

    Ciri-ciri hipotesis yang baik adalah, logis tumbuh dari atau ada hubungannya dengan lapangan ilmu pengetahuan yang sedang dijelajahi oleh peneliti remaja; jelas, sederhana, dan terbatas; dan dapat diuji. Kegagalan merumuskan hipotesis yang baik akan mengaburkan hasil penelitian. Hipotesis yang abstrak bukan saja membingungkan prosedur penelitian, tetapi juga sukar diuji secara empiris (pengalaman pengamatan).

    3.1 Rumusan Hipotesis

    Ada beberapa persyaratan untuk merumuskan hipotesis, diantaranya adalah :
    a) Hipotesis dirumuskan dalam kalimat berita, bukan dalam kalimat tanya.
    b) Hipotesis harus jelas tidak bermakna ganda.
    c) Hipotesis dirumuskan secara opreasional sehingga memudahkan pengujiannya.

    Misalnya, hipotesis yang berbunyi : “ Laku penampilan guru yag baik berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa” kurang operasional dibandingkan misalnya “ Sikap guru yang demokratis akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa “.

    3.2 Macam-Macam Hipotesis

    Macam-macam hipotesis yang sering dijumpai adalah :

    a) Hipotesis Deskriptif

    Hipotesis “lukisan”, menunjukkan dugaan sementara bagaimana (how) benda-benda, peristiwa-peristiwa, atau variable-variabel itu terjadi. Hipotesis ini menggambarkan karakteristik suatu sample menurut variable tertentu.

    Contoh :
    Proporsi mahasiswa yang kaya hasrat untuk maju yang menyusun tesis bermutu lebih banyak daripada yang miskin hasrat untuk maju.

    b) Hipotesis Argumentasi

    Hipitesis “penjelasan” , menunjukkan dugaan sementara tentang mengapa (why) benda-benda, peristiwa-peristiwa, atau variable-variabel itu terjadi. Hipotesis ini merupakan pernyataan sementara yang diatur secara sistematis sehingga salah satu pernyataan merupakan kesimpulan (konsekuen) dari pernyataan yang lainnya (antiseden).

    c) Hipotesis Kerja

    Merupakan hipotesis yang meramalkan atau menjelaskan akibat-akibat dari suatu variable yang menjadi penyebabnya. Jadi hipotesis ini menjelaskan suatu ramalan bahwa jika suatu variable berubah maka variable tertentu akan berubah pula.

    Rumusan Hipotesis Kerja ( H1 ) :

    (1) Jika………….., maka………………..

    Contoh :
    H1 : Jika orang banyak makan, maka berat badanya akan naik

    (2) Ada perbedaan antara……….. dan ……………….

    Contoh :
    H1 : Ada perbedaan antara penduduk kota dan penduduk desa dalam cara berpakaian.

    d) Hipotesis Nol / Hipotesis Statistik

    Hipotesis statistic bertujuan memeriksa ketidakbenaran suatu dalil/teori dengan perangkat statistic/matematik, yang selanjutnya akan ditolak melalui bukti-bukti yang sah. Hipotesis nol kebalikan dari hipotesis kerja.

    Rumusan hipotesis nol ( H0 ) :

    (1) Tidak ada perbedaan antara ……………. dengan …………………

    Contoh :
    H0 : Tidak ada perbedaan antara siswa tingkat I dengan iswa tingkat II dalam disiplin belajar.

    (2) Tidak ada pengaruh ……………… terhadap ………………….

    Contoh :
    H0 : Tidak ada pengaruh jarak rumah ke sekolah terhadap kerajinan siswa berangkat ke sekolah

    4. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel

    Variabel penelitian adalah faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi ( H. Purwo Sutanto & Yuli Pratomo Akhadi : 2007). Peneliti perlu menentukan variabel-variabel penelitian. Misalnya, apabila seorang peneliti ingin menyelidiki apakah benar bahwa susu menyebabkan badan menjadi gemuk, maka yang menjadi obyek penelitiannya adalah susu dan berat badan orang. Maka susu dan berat badan merupakan variabel penelitian.

    Ada beberapa jenis variabel yang dipakai dalam penelitian, yaitu antara lain :

    a. Variabel Variabel Bebas atau Variabel Penyebab (Independent Variable), yaitu variabel yang mempengaruhi variabel yang lain atau diduga sebagai penyebab timbulnya variabel yang lain. Variabel bebas disebut juga variabel X.

    b. Variabel Tergantung atau Variabel Terikat (Dependen Variable), yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas atau variabel yang muncul sebagai akibat dari variabel bebas. Variabel terikat disebut juga variabel Y.

    Dalam contoh penelitian di atas susu merupakan variabel bebas ( X )dan berat badan merupakan variabel terikat ( Y ).

    c. Variabel Moderator, yaitu variabel-variabel atau factor-faktor lain yang mempengaruhi jalanya penelitian.

    d. Variabel Kontrol, yaitu variabel yang dikontrol oleh peneliti untuk menetralkan pengaruhnya terhadap variabel tergantung.

    Misalnya, jika peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar siswa kelas X SMK yang diajar dengan strategi problem solving dengan siswa yang diajar dengan metode latihan ?
    Maka yang dijadikan sebagai variabel moderator misalnya adalah sarana belajar mengajar, kemampuan dasar siswa, latar belakang siswa, lingkungan belajar siswa, dan lain-lain. Sedangkan variabel kontrolnya berupa siswa kelas X SMK yang tidak diajar dengan metode problem solving maupun metode latihan.

    5. Merumuskan Definisi Operasional Variabel

    Definisi operasional variabel tidak menjelaskan definisi variabel secara istilah seperti dalam kamus, tetapi menjelaskan definisi atau pengertian variabel yang dikehendaki oleh peneliti. Misalnya, jika ada variabel hasil belajar siswa maka definisi operasional variabel yang dikehendaki peneliti adalah skor tes harian siswa, skor tes semester siswa dan lain-lain.

    6. Menetapkan Rancangan Penelitian / Desain Penelitian

    Apakah desain eksperimen itu ? Desain eksperimen adalah suatu rancangan percobaan dengan setiap langkah tindakan yang terdefinisikan, sehingga informasi yang diperlukan atau berhubungan dengan persoalan yang akan diteliti dapat dikumpulkan secara faktual. Dengan kata lain, desain sebuah eksperimen merupakan langka-langkah lengkap yang perlu diambil jauh sebelum eksperimen dilakukan agar data yang semestinya diperlukan dapat diperoleh sehingga akan membawa ke analisis obyektif dan kesimpulan yang berlaku dan tepat menjawab persoalan yang dibahas.

    Desain penelitian atau rancangan penelitian mengatur sistematika yang akan dilaksanakan dalam penelitian. Memasuki langkah ini peneliti harus memahami berbagai metode dan teknik penelitian. Metode dan teknik penelitian disusun menjadi rancangan penelitian. Mutu keluaran penelitian ditentukan oleh ketepatan rancangan penelitian.

    7. Menetapkan Populasi dan Sampel

    Populasi didefinisikan sebagai himpunan atau kelompok (yang lengkap atau sempurna) dari semua unit penelitian yang mungkin. Jumlah populasi dapat diketahui ataupun tidak dapat diketahui. Jadi populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Obyek penelitian terdiri dari unit-unit penelitian. Unit penelitian dapt berupa orang (individu), rumah tangga, kelompok, organisasi,lembaga dan lain-lain. Populasi dibedakan menjadi dua, yaitu :

    a. Populasi Target adalah populasi yang merupakan sumber informasi representative yang diinginkan.

    b. Populasi Contoh atau Populasi Sampel ( populasi Penelitian) adalah populasi dari mana suatu contoh atau sampel benar-benar diambil.

    Misalnya, seorang peneliti ingin mempelajari kependudukan di Provinsi Jawa Tengah dengan mengambil sampel di tiga kabupaten/kota di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes. Dalam hal ini, penduduk Jawa Tengah populasi target dan penduduk di tiga kabupaten/kota merupakan populasi sampel.
    Sampel atau contoh adalah anggota populasi yang dianggap dapat mewakili obyek penelitian.

    8. Menentikan Alat Pengambil Data atau Instrument Penelitian

    9. Pengumpulan Data

    10. Pengolahan dan Analisis Data

    11. Menulis Laporan Penelitian

    Pustaka
    Wiratha, I Made. 2005. Pedoman Penulisan : Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis. Cetakan Pertama. Yogyakarta: CV. Andi Offset.

    Nasution, S. 2006. Metode Risearch. Cetakan 8. Jakarta : Bumi Aksara.

    Arifin, E. Zaenal. 1987. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Cetakan 8. Jakarta: PT Gramedia.

    Sutrisno dan SRDm Rita Hanafie. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi.

    Djuharie, O. Setiawan. 2001. Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Yrama Widya.

    Djuharie, O. Setiawan. 2001. Panduan Membuat Karya Tulis: Resensi, Laporan Buku, skripsi, Tesis, Artikel, Makalah, Berita, Essei, Dll. Bandung. Yrama Widya.

    Sutano, H. Purwo dan Yuli Pratomo Akhadi. 2007. Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) / Madrasah aliyah Kejuruan ( MAK). Klaten: Saka Mitra Kompetensi.

    A. Nashrudin, S.IP, M,Si . 2008. Apakah yang Dimaksud Metode Ilmiah. http://dossuwanda.wordpress.com/.

    – 2008. ” Kerja Ilmiah ”. http://sma-pgri-cianjur.blogspot.com/.

    Rusdi, Ibnu. 2008. ” Pengertian Penelitian.” http://ibnurusdi.wordpress.com/

    Supardi. 2008. ” Penelitian Eksperimen 2: Penelitian Eksperimen Bagian II ”. http://mariacholifah.blogspot.com/2008/03/penelitian-eksperimen_30.html

      Modul TIK

      Modul Kimia dalam bahasa Inggris

      Berisi pelajaran kimia yang disajikan dalam bentuk file presentasi, animasi, file pdf.

      Tidak hanya materi kimia yang disediakan di website ini, tetapi juga tersedia materi sain lain dan juga matematika serta pemrograman komputer serta bahan lain. Tidak terlalu mendalam namun cukup menarik menjelaskan berbagai hal, termasuk model pembelajaran interaktif.

      Pada tautan ini bisa didapati beberapa materi kimia mulai dari bahan pelajaran kimia umum, yang tersajikan dalam bentuk animasi, panduan eksperimen, study card dalam format pdf dan beberapa tautan lain untuk bahan pelajaran kimia.

      Virtual Chemistry, yah ini adalah pembelajaran kimia secara virtual, lengkap dengan tutorial dalam bentuk movie yang bisa interaktif dengan tampilan yang cukup menarik dan tidak membosankan.

      Tidak terlalu lengkap namun bisa dijadikan pelengkap . Disajikan dalam file mov. Beberapa link-nya tidak dapat berfungsi.

      Simpel dan interaktif, berisi tentang bahasan asam basa, gaya atraktif, orbital atom, struktur atom, elektro kimia, struktur molekuler, larutan, zat padat.

      Selain di atas anda bisa buka yang ini :

      #1 Website for Learning Chemistry
      SMILE PROGRAM CHEMISTRY INDEX
      Science Help Online Chemistry
      Home Page of R. Logan
      Friends School Chemistry Homepage
      Engines for Educators
      Chemistry About
      ACT Chemistry Notes
      A Level Chemistry
      Ask A Scientist – Chemistry Index

      ( Link-link di atas saya copy dari blognya Pak Urip )